MEMBUAT RENCANA

Yusuf berkata, “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (Yûsuf: 48).

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (al-Anfâl: 60).

Dan Ya’qub berkata, “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain.” (Yûsuf: 67).

“Ikatlah, lalu bertawakkallah!” (HR. Turmudzi). “Orang-orang yang lemah mengimani nasib #

Sedangkan orang-orang yang kuat mengimani sebab dan hasil” (perkataan orang bijak).

 

 

MEMBUAT RENCANA

Membuat rencana merupakan kebiasaan keempat dari 10 kebiasaan pribadi sukses. Secara singkat, yang dimaksud dengan membuat rencana adalah meletakkan  tujuan-tujuan Anda dalam sebuah program kerja yang dapat dilaksanakan, atau dengan kata lain memberikan gambaran yang jelas mengenai masa depan Anda dan menentukan langkah-langkah yang efektif untuk sampai pada gambaran tersebut.  Maksudnya adalah meletakkan tujuan-tujuan Anda dalam  sebuah program yang bersifat periodik serta menentukan langkah-langkah yang dapat membantu Anda dalam merealisasikan tujuan-tujuan tersebut.

Pada dasarnya, dengan definisi semacam itu, menyusun rencana merupakan sesuatu yang hanya dilakukan oleh segelintir orang dari kita. Meskipun demikian, bukan berarti kita tidak pernah membuat rencana dengan suatu

metode ataupun dengan metode-metode lainnya.  Sebab,  setiap tindakan, pekerjaan dan tugas yang kita lakukan dalam kehidupan ini harus masuk dalam suatu perencanaan, akan tetapi perencanaan tersebut biasanya tidak tersusun rapi dan bukan merupakan suatu program kerja, melainkan hanya sekumpulan niat, tekad dan ide-ide yang kita anggap penting, harus kita lakukan secara terus  menerus  dan harus kita laksanakan. Terkadang dengan perencanaan  semacam itu, kita dapat merealisasikan  tujuan-tujuan  kita, tetapi terkadang karena adanya berbagai kesibukan dalam kehidupan ini atau karena faktor-faktor lainnya seperti malas, ragu-ragu dan menunda-nunda, maka kita pun tidak dapat mewujudkannya. Dengan demikian, kita hidup dengan sejumlah tujuan dan ambisi yang tidak memiliki sebuah metode untuk merealisasikan atau mengimplementasikannya.

Menyusun rencana yang kita bicarakan di sini adalah suatu aktifitas yang tersusun dari berbagai hal yaitu memegang kendali diri, menaklukkan diri dan mendidiknya agar mau hidup teratur, teliti dan berusaha secara terus menerus dengan tujuan agar Anda dapat mewujudkan tujuan- tujuan yang Anda cita-citakan dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, di sini kita akan membicarakan kebiasaan menyusun rencana dengan sifat-sifat sebagai berikut:

  • Suatu aktifitas yang menjelaskan tentang  pandangan atau gambaran masa depan yang Anda inginkan. Ia merupakan suatu keputusan yang Anda buat di awal yang berkaitan dengan tujuan-tujuan penting yang ingin Anda wujudkan dalam kehidupan
  • Suatu aktifitas yang disandarkan pada interaksi Anda dengan waktu serta dengan metode terbaik dalam memanfaatkan waktu tersebut guna mewujudkan tujuan- tujuan Anda dalam kehidupan

  • Suatu aktifitas yang disandarkan pada upaya untuk memilih prioritas-prioritas tertentu serta mengaitkannya dengan tujuan-tujuan
  • Suatu aktifitas yang disandarkan pada kemampuan Anda dalam memahami realitas atau kondisi Anda  sekarang (apa yang ada sekarang) serta menghubungkannya dengan gambaran masa depan (apa yang seharusnya  ada),  kemudian dilanjutkan dengan upaya untuk menggambarkan langkah-langkah yang dapat mengantarkan Anda dari segi empat pertama menuju segi empat kedua. (Lihat gambar  17).
  • Suatu aktifitas yang tidak lepas dari berbagai bahaya atau resiko, karena ia merupakan aktifitas yang mengantarkan Anda dari sesuatu yang sudah diketahui (segi empat pertama) menuju ke sesuatu yang belum diketahui (segi empat kedua). Oleh karena itu, aktifitas ini menuntut adanya kesiapan dalam berbagai hal baik rohaniah, pengetahuan, materi, pengorbanan, kesabaran, keberanian, maupun kecakapan-kecakapan yang dibutuhkan.
  • Suatu aktifitas yang bertujuan untuk menentukan waktu kesuksesan Anda melalui perkiraan Anda sendiri: Berapa jauh jarak tujuan yang ingin Anda wujudkan, dan berapa kecepatan yang diperlukan untuk sampai pada tujuan tersebut? Aktifitas ini juga menentukan bahaya-bahaya (resiko-resiko) yang akan Anda hadapi serta membantu Anda dalam mengatasi bahaya-bahaya
  • Suatu aktifitas yang bersifat terbuka, elastis dan dapat diperbarui (up date). Hal ini disebabkan karena pada suatu waktu, terkadang tujuan-tujuan Anda dapat berubah sesuai dengan kecenderungan Anda sendiri, sebagaimana langkah-langkah yang telah Anda tentukan terkadang tidak dapat mewujudkan tujuan-tujuan seperti yang Anda

  • Suatu aktifitas yang mendorong Anda untuk mempelajari, merubah dan memperbaiki perilaku Anda. Jadi, Anda dituntut untuk selalu mengetahui hal-hal baru yang berkaitan dengan kebiasaan menyusun rencana dengan tujuan agar dapat membantu Anda dalam mewujudkan tujuan-tujuan

 

Gambaran Masa Depan

 

Kondisi Anda Sekarang

 

Aktifitas Penyusunan Rencana Gambar No. 17

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak diragukan lagi bahwa pengkajian dan pemahaman Anda terhadap ketiga kebiasaan sebelumnya telah membentuk sebagian ide dan gambaran tentang tujuan-tujuan  Anda  dalam kehidupan ini. Sedangkan kebiasaan keempat ini (menyusun rencana) akan banyak membantu Anda dalam  mengatur diri Anda dan –Insya Allah- dapat melapangkan jalan Anda dalam mewujudkan tujuan-tujuan Anda dan mengimplementasikannya dalam dunia nyata. Tidak diragukan lagi bahwa Anda masih ingat apa yang pernah kita jelaskan di awal buku ini yaitu penjelasan mengenai unsur-unsur kebiasaan. Di sana dijelaskan bahwa suatu kebiasaan  terdiri dari 3 unsur, yaitu: pengetahuan, keinginan dan keahlian. Yang dimaksud dengan unsur pengetahuan adalah kemampuan Anda dalam mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan tema atau permasalahan, mengetahui urgensinya, dan membekali diri dengan pengetahuan yang cukup mengenai permasalahan tersebut. Buku ini berusaha membantu Anda dalam menggapai unsur pengetahuan tersebut, yaitu dengan menyajikan kepada Anda sejumlah informasi yang berkaitan

dengan tema “menyusun rencana”. Adapun  kedua  unsur lainnya yaitu keinginan dan keahlian, akan Saya serahkan seluruhnya kepada diri Anda sendiri. Sebab, tidak ada seorang pun yang dapat memberikan “suntikan” keinginan kepada Anda, sebagaimana ia juga tidak dapat membentuk keahlian menyusun rencana dalam diri Anda. Keinginan dan kecenderungan untuk melakukan penyusunan  rencana  merupakan sesuatu yang hanya terkait dengan diri Anda sendiri. Karena itu, Anda harus menyalakan lampu “keinginan” itu dari dalam diri Anda.  Adapun  yang dimaksud dengan unsur keahlian di sini adalah suatu  latihan praktis yang berkaitan dengan penyusunan rencana yang dilakukan sekali, dua kali, tiga kali, empat kali   dan seterusnya hingga Anda benar-benar memiliki kemampuan untuk melakukan penyusunan rencana dan Anda mulai menaklukkannya untuk mewujudkan tujuan-tujuan Anda dalam kehidupan ini. Jika Anda belum bisa membentuk kebiasaan menyusun rencana dan belum bisa menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan Anda, maka Anda harus melakukannya terus setiap hari selama 10 sampai 15 menit. Hal ini disebabkan karena segudang pengetahuan tentang kegiatan menyusun rencana tidak akan dapat membantu Anda dalam membentuk kebiasaan menyusun rencana tersebut.

Apakah pada suatu hari Anda pernah merasa bahwa di hadapan Anda terdapat sejumlah tujuan penting, hal-hal  yang bermanfaat, dan sejumlah tugas yang harus dikerjakan segera, lalu Anda segera mengerjakannya dengan penuh semangat, tetapi ketika Anda telah mengerjakan  sebagiannya, Anda merasa kehilangan semangat dan kembali lagi pada rutinitas harian? Apakah di saat-saat senggang, Anda pernah merasakan memiliki sejumlah tujuan besar dan keinginan yang tinggi yang ingin Anda wujudkan dalam kehidupan Anda, tetapi tidak lama kemudian tujuan-tujuan dan keinginan-keinginan tersebut melemah dan menghilang

dari pikiran Anda sehingga Anda pun kembali ke kondisi semula? Jika Anda merasakan hal-hal seperti itu, maka ketahuilah dengan baik bahwa sesungguhnya Anda sangat membutuhkan adanya upaya penyusunan rencana.

Pada dasarnya, penyusunan rencana merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari  kehidupan  manusia, karena manusia adalah makhluk yang digerakkan  oleh sejumlah kebutuhan dan keinginan, dan ia selalu berusaha untuk mencari metode dan cara yang digunakan  untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-  keinginan tersebut. Akan tetapi, pada umumnya penyusunan rencana itu tidak tersusun secara rapi. Dalam kitab-Nya yang mulia, Allah SWT telah menjelaskan tentang kebutuhan-kebutuhan pokok manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat serta menjelaskan  tentang keharusan manusia untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan tersebut. Allah SWT telah berfirman,  “Yang  telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Quraisy:  4). Makanan dan keamanan merupakan dua kebutuhan  pokok bagi kehidupan manusia di muka bumi ini. Oleh karena itu, ia harus berusaha dengan giat dan sungguh-sungguh untuk mendapatkannya, dan untuk tujuan itu ia juga  harus  membuat perencanaan.

Dalam hal ini, kita dapat mengambil pelajaran dari bagan yang dibuat oleh Maslow, seorang ahli ilmu jiwa berkebangsaan Amerika, yaitu sebuah bagan yang menggambarkan tentang kebutuhan-kebutuhan manusia. Bagan ini merupakan sebuah bagan yang menarik karena mengaitkan antara kebutuhan-kebutuhan manusia dengan penyusunan rencana. Maslow menjelaskan:  “Kehidupan  manusia didasarkan pada upaya untuk menjawab sejumlah kebutuhan. Berdasarkan urutan prioritasnya, kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut:

 

Gambar No. 18 Piramida Maslow

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Kebutuhan-kebutuhan fisik dasar seperti makan, seks, tidur, dan lain
  • Kebutuhan untuk mendapatkan
  • Kebutuhan untuk mencintai dan bergabung dengan orang lain.
  • Kebutuhan untuk mendapatkan penghormatan dan penghargaan.
  • Kebutuhan untuk mengekspresikan diri sendiri dengan baik dan meletakkannya pada tempat yang sesuai (aktualisasi diri). (Lihat gambar no. 18).

Teori Maslow tersebut menggambarkan bahwa terdapat sejumlah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi  oleh  manusia, yaitu kebutuhan-kebutuhan fisik. Jika kebutuhan- kebutuhan fisik tersebut tidak terpenuhi, maka seseorang tidak akan mengejar kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi tingkatannya seperti yang digambarkan dalam piramida di atas. Sebaliknya, jika ia bisa memenuhi setiap kebutuhan fisik, maka ia akan berpindah ke kebutuhan yang lebih

tinggi tingkatannya. Dalam hal ini, tidak diragukan lagi bahwa upaya menyusun rencana merupakan bagian dari kebutuhan-kebutuhan yang berada di tingkatan paling atas dari piramida tersebut. Ia juga sangat terkait dengan kebutuhan mengekspresikan diri dan meletakkannya pada tempat yang sesuai.

 

Manfaat Menyusun Rencana

Menyusun rencana memiliki beberapa manfaat, di antaranya adalah:

  • Menyusun rencana mambantu Anda dalam menentukan orientasi. Hal itu karena perencanaan berasal dari tujuan-tujuan yang telah Anda tentukan sebelumnya. Ketika Anda meletakkan tujuan dalam sebuah rencana dan program kerja, tanggal-tanggal pelaksanaan atau telah  melaksanakan langkah-langkah yang Anda inginkan secara nyata, maka latihan berpikir yang menarik ini  akan  selesai dalam situasi tujuan yang telah jelas. Tidaklah mungkin akal akan menentukan tujuan-tujuan dan mencari langkah-langkah untuk pelaksanaannya dan tanggal-tanggal selesainya, selama tujuan yang diinginkan tidak jelas. Bahkan orientasi akan mulai jelas ketika Anda telah menjalankan kebiasaan kedua “menentukan tujuan”.

Tujuan-tujuan yang jelas dan harmonis akan membawa kepada orientasi. Orientasi yang jelas tentu akan membawa kepada munculnya tujuan-tujuan yang spesifik. Perencanaan  menambah orientasi semakin jelas dan menjadikan Anda  berada di depan tantangan-tantangan, waktu dan usaha yang harus diperhatikan ketika merealisasikan tujuan tersebut. Karena itu, pertanyaan pertama yang segera muncul dalam benak Anda, “Apakah tujuan akan membawa kepada orientasi yang Saya inginkan dan bisa berjalan serasi dengannya? Apakah pengorbanan, usaha dan waktu yang akan dikerahkan layak mendapatkan hasil yang Saya inginkan? Apakah

tujuan-tujuan sesuai dengan misi-misi besar yang Saya jalani?

  • Menyusun rencana dapat membantu Anda dalam menertibkan usaha-usaha Anda dan menjadikannya saling terkait antara yang satu dengan yang lain. Mayoritas  kita sering berada di belakang sejumlah tujuan yang tidak saling terkait antara yang satu dengan yang  lain, bahkan terkadang tujuan-tujuan tersebut saling bertentangan dan menuju pada dua arah yang berlawanan. Sebagai contoh, seorang pegawai yang telah menentukan suatu tujuan yaitu mencapai keunggulan dalam pekerjaannya, tetapi semangatnya yang tinggi mendorongnya untuk bertindak secara berlebih-lebihan, sehingga ia pun mengalokasikan waktu yang  sangat  banyak untuk bekerja, dan lebih mementingkan pekerjaan daripada kehidupan rumah tangganya ataupun  Bagi pegawai semacam ini, kegiatan menyusun rencana dapat membantunya dalam mewujudkan keseimbangan antara tujuan-tujuan yang dianggapnya penting, sehingga ia akan mencurahkan waktu, usaha,   dan perhatiannya untuk bekerja sesuai  dengan  kebutuhan, kemudian ia juga akan mencurahkan waktu, usaha dan perhatiannya itu untuk mewujudkan tujuan- tujuan lainnya seperti memperhatikan keluarga dan menjaga kesehatannya. Sebab, mewujudkan keseimbangan antara sejumlah tujuan merupakan hal  yang  penting dalam kehidupan manusia. Dalam hal ini, kegiatan menyusun rencana memainkan peran yang  sangat  menentukan dalam mewujudkan keseimbangan tersebut.
  • Kegiatan menyusun rencana dapat memberikan standar- standar yang jelas dan ukuran-ukuran tertentu bagi perkembangan usaha Anda dalam mewujudkan sejumlah tujuan. Langkah-langkah yang telah dilakukan dapat memberikan gambaran kepada Anda mengenai perkembangan

usaha Anda dalam mewujudkan  tujuan-tujuan  tersebut. Hal ini disebabkan karena langkah-langkah tersebut dilakukan secara berurutan dan dilaksanakan sesuai dengan urutan prioritasnya masing-masing. Oleh karena itu, ia benar-benar menjadi standar-standar yang jelas dan ukuran-ukuran tertentu bagi perkembangan kemajuan usaha Anda.

  • Menyusun rencana dapat menjadikan Anda siap untuk melakukan langkah-langkah berikutnya. Langkah-langkah yang sudah dilakukan merupakan bagian dari sistem yang digunakan untuk mewujudkan suatu tujuan. Oleh karena itu, ketika Anda telah melakukan satu langkah, maka secara otomatis langkah tersebut akan membimbing Anda ke langkah berikutnya. Sebab, langkah-langkah tersebut sudah diperkirakan sebelumnya, dimana Anda telah memikirkannya terlebih dahulu dan  telah mempertimbangkan hasil-hasilnya. Dengan demikian, Anda pun akan siap untuk melakukan suatu langkah dan siap menanggung hasilnya. Tanpa adanya penyusunan rencana semacam itu, bagaimana Anda dapat menggambarkan adanya berbagai langkah, dan meskipun  Anda  dapat menemukannya, maka tidak diragukan lagi bahwa langkah- langkah tersebut tidak tersusun rapi dan belum
  • Menyusun rencana dapat memberitahukan kepada Anda tentang berbagai realita serta menjelaskan tentang sejumlah permasalahan. Adanya program kerja yang disusun berdasarkan urutan waktu dan  tingkat  prioritas, serta adanya langkah-langkah tertentu yang ditentukan pada tanggal-tanggal tertentu pula, akan memberitahukan kepada Anda tentang sejumlah  realita dari tujuan-tujuan Anda serta  langkah-langkah  yang Anda gunakan untuk sampai kepada  tujuan-tujuan tersebut. Realita-realita tersebut dapat diambil dari sejumlah pertanyaan seperti: Apakah tujuan-tujuan itu

sesuai, apakah langkah-langkah tersebut dapat membawa Anda sampai kepada tujuan-tujuan Anda, apakah terdapat suatu kesulitan dalam melakukan langkah-langkah tertentu, dan jika memang ada, apakah langkah-langkah tersebut dapat diganti dengan langkah-langkah lain, apakah hal itu dapat dianggap sebagai upaya untuk memperbaiki tujuan, ataukah hanya untuk memperbaiki langkah-langkah saja, dan apakah Anda  membutuhkan  waktu yang lebih lama untuk sampai kepada beberapa tujuan?

  • Menyusun rencana dapat memberikan motivasi kepada Anda serta dapat membangkitkan rasa percaya diri Proses penentuan tujuan-tujuan Anda  dan  adanya perasaan bahwa Anda telah melaksanakan tujuan-tujuan tersebut satu persatu, dapat memberikan  dorongan  kepada Anda untuk meningkatkan kinerja, prestasi dan perencanaan, sebagaimana ia juga dapat menambah rasa percaya diri Anda sehingga Anda menjadi lebih optimis akan mendapatkan kesuksesan. Sejumlah studi dalam  bidang ilmu psikologi telah membuktikan bahwa perasaan seseorang bahwa ia sedang berjalan ke arah tujuannya atau ia sudah dekat dengan tujuan tersebut, dapat meniupkan semangat yang kuat ke dalam dirinya sehingga ia pun dapat menikmati arti sebuah kesuksesan dan ia akan berpindah dari satu kesuksesan menuju ke  kesuksesan yang lain.

 

Faktor-faktor Apa Saja Yang Menyebabkan Kita Tidak Mau Menyusun Rencana

Pada hakekatnya, ada sejumlah faktor  yang  menyebabkan kita sering melalaikan kegiatan menyusun rencana atau kita tidak bersemangat untuk mengerjakannya, sehingga kehidupan kita akan jauh dari kegiatan yang

terencana dan teratur. Di antara faktor-faktor tersebut adalah:

  • Ketidaktahuan akan kegiatan menyusun rencana serta urgensinya dalam kehidupan ini. Sebagian besar dari kita tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari dan membekali diri dengan pengetahuan tentang penyusunan rencana serta urgensinya dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, kehidupan pribadi dan pekerjaan mereka pun akan jauh dari upaya menyusun rencana secara teratur. Orang-orang semacam ini biasanya akan membuat keputusan-keputusan hanya didasarkan pada naluri untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu saja, sedangkan sebagian yang lain akan membuat keputusan-keputusan hanya didasarkan pada kemashalahatan-kemashalahatan sesaat dan kebutuhan-kebutuhan materi yang selalu berubah.
  • Di antara faktor penyebab yang menjadikan kita tidak mau menyusun rencana adalah tidak adanya pengetahuan mengenai mekanisme (cara) penyusunan rencana,  atau tidak memiliki keahlian yang dapat membantu kita dalam menyusun rencana. Sebagian dari kita mungkin telah memiliki ide untuk menyusun rencana dan  dapat  merasakan akan pentingnya kegiatan penyusunan rencana tersebut, akan tetapi ia tidak memiliki sejumlah mekanisme untuk melaksanakannya. Faktor ini merupakan faktor yang dapat ditaklukkan dengan cepat dan mudah, karena menyusun rencana merupakan keahlian yang mahal yang dapat dipelajari, dilatih dan dipraktekkan setiap hari.
  • Di antara sebab yang dapat menjadikan kita tidak mau menyusun rencana adalah karena kita merasa bahwa kegiatan tersebut hanya akan membuang-buang waktu dan tidak bermanfaat. Biasanya, anggapan semacam ini  muncul dalam diri seseorang karena adanya sejumlah

kegagalan dalam eksperimen yang dilakukannya. Selama hidup Saya, Saya telah  bertemu dengan banyak orang  yang merasakan hal semacam itu. Mereka mengatakan: “Sebenarnya Anda dapat mewujudkan banyak hal dalam kehidupan Anda, sedangkan kegiatan menyusun rencana merupakan ikatan-ikatan yang Anda buat sendiri. Oleh karena itu, lebih baik Anda melakukan pekerjaan secara langsung tanpa melalui proses penyusunan rencana terlebih dahulu”. Meskipun Saya mengetahui akan pentingnya pekerjaan dan perlunya melakukan pekerjaan tersebut dengan segera, akan tetapi kegiatan menyusun rencana merupakan sesuatu yang harus dilakukan jika  kita menginginkan pekerjaan-pekerjaan kita berada pada arah yang kita inginkan serta dilakukan dengan langkah-langkah yang telah kita pelajari dan kita tentukan.

Nampaknya, permasalahan utama yang dihadapi oleh orang-orang semacam itu adalah terletak pada pandangan mereka yang tidak benar mengenai kegiatan penyusunan rencana. Mereka, biasanya,  melakukan  penyusunan rencana dengan semangat yang berlebih-lebihan atau dengan semangat yang lemah. Dalam hal ini, semangat  yang berlebih-lebihan dalam menyusun rencana akan mengantarkan seseorang pada kegagalan, karena biasanya ia akan menentukan tujuan-tujuan dan langkah-langkah yang sangat banyak untuk diwujudkan dalam waktu yang singkat, sehingga ia akan merasa tidak mampu untuk mewujudkan tujuan-tujuan ynag  telah  ditentukannya, dan

–pada akhirnya- ia pun akan meninggalkan kegiatan penyusunan rencana tersebut secara  total.  Semangat yang lemah juga merupakan masalah yang besar bagi seseorang. Sebab, meskipun seseorang telah menentukan sejumlah tujuan yang baik, tetapi jika semangatnya lemah,  maka  ia  tidak  akan  mampu  untuk melaksanakan

atau mewujudkannya, dan ia akan bergerak maju dengan langkah yang sangat lambat hingga pada akhirnya ia pun akan meninggalkan kegiatan menyusun rencana tersebut.

  • Di antara sebab yang juga menjadikan kita tidak mau untuk menyusun rencana adalah tidak adanya ambisi atau keinginan untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik, hal ini disebabkan karena kita sudah  merasa  puas dengan kondisi atau keadaan
  • Di antara faktor yang menyebabkan kita tidak mau menyusun rencana adalah optimisme yang berlebih- lebihan. Contoh yang paling tepat untuk masalah ini adalah seorang pemuda yang tumbuh dewasa di sebuah keluarga yang kaya dan mewah, semua kebutuhannya serba tercukupi, dan ia tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Pemuda semacam ini terkadang tumbuh dewasa dengan optimisme yang berlebihan, dan terkadang ia menganggap bahwa kegiatan menyusun rencana merupakan perbuatan yang sia-sia dan tidak bermanfaat, atau ia menganggap bahwa kegiatan tersebut telah menyulitkan dan merepotkan. Perasaan- perasaan semacam ini telah menyebabkan seseorang tidak dapat merasakan nikmatnya rasa percaya diri, nikmatnya melaksanakan sesuatu perbuatan, dan nikmatnya usaha untuk aktualisasi

Dalam menyusun rencana memang  dibutuhkan  sifat optimis, karena sifat optimis merupakan bekal yang sangat penting demi keberlangsungan kegiatan menyusun rencana. Akan tetapi, sifat optimis yang berlebih- lebihan terkadang dapat menyebabkan seseorang tidak dapat merasakan nikmatnya kegiatan menyusun rencana. Selain itu, di samping membutuhkan adanya sifat  optimis, kegiatan menyusun rencana juga sangat membutuhkan adanya sikap tawakkal kepada Allah,

bergantung kepada-Nya, dan percaya akan pertolongan- Nya.

  • Salah satu sebab yang menjadikan kita tidak mau menyusun rencana adalah hilangnya orientasi. Jutaan manusia di dunia ini telah menjalani hidupnya tanpa tujuan-tujuan yang jelas. Mereka tidak mempunyai arah tujuan yang menentukan gerak langkah mereka. Orang- orang semacam ini hanya berputar dalam lingkaran  Mereka telah menjadi korban hawa nafsu dan kenikmatan-kenikmatan sesaat. Bagaimana mungkin orang- orang semacam itu akan melakukan kegiatan penyusunan rencana? Pada dasarnya, merasa kehilangan arah tujuan merupakan musuh terbesar bagi kebiasaan menyusun rencana, karena kebiasaan menyusun rencana tersebut sangat terkait erat dengan perasaan memiliki  arah tujuan dan keinginan untuk sampai pada tujuan-tujuan tertentu. Dalam hal ini, tidak ada satu nasehat pun  yang pantas diberikan kepada orang yang merasa kehilangan arah tujuan kecuali dengan mengingatkannya bahwa manusia ini diciptakan untuk sejumlah  tujuan besar dan sejumlah tujuan akhir yang luhur.
  • Di antara faktor yang juga menyebabkan kita tidak mau menyusun rencana adalah melakukan hal-hal yang muncul mendadak, tenggelam dalam hal-hal tersebut, menjadikannya sebagai point terpenting dalam kehidupan ini, serta adanya keengganan untuk membedakan antara sesuatu yang penting, lebih penting, dan yang harus dilaksanakan segera. Dalam kehidupan kita terdapat sejumlah tujuan dan hal-hal yang besar, dimana kesemua hal tersebut mungkin penting bagi kita. Akan tetapi, di antara hal-hal yang penting itu pasti ada beberapa prioritas yang lebih penting dan harus kita kedepankan daripada hal-hal lainnya. Ketika kita telah membangun kehidupan kita di atas prinsip “mengutamakan hal yang

lebih penting, lalu baru mengerjakan yang penting”,  maka kita mampu merencanakan dan mewujudkan kesuksesan yang kita cita-citakan.

Akan tetapi, permasalahan utama yang sering dihadapi oleh sebagian besar manusia adalah tidak adanya keseimbangan antara sesuatu yang lebih penting dengan sesuatu yang penting dalam kehidupan mereka. Waktu dan usaha mereka –biasanya- dicurahkan untuk melakukan hal-hal yang muncul secara spontan (di luar rencana), sehingga mereka akan selalu di bawah pengaruh dan prioritas-prioritas orang lain. Bahkan, hal-hal yang muncul secara spontan dan di luar rencana itu telah menjadi jalur kehidupan mereka. Hal ini disebabkan karena hal-hal yang muncul secara spontan itu memang selalu menekan dan memaksa manusia untuk melakukan dan menghadapinya. Ini merupakan satu hal yang alami dan harus diakui keberadaannya, akan tetapi hal-hal  tersebut harus diposisikan secara proporsional  dan harus ada keseimbangan antara hal-hal yang penting dengan hal-hal yang lebih penting.

  • Selain itu, di antara faktor yang sering menyebabkan kita tidak mau menyusun rencana adalah adanya  ketakutan terhadap hal-hal yang belum diketahui dan keinginan untuk hanya bersandar kepada hal-hal yang telah diketahui saja. Tidak diragukan lagi bahwa kegiatan menyusun rencana merupakan  suatu  keahlian yang mahal dan membutuhkan adanya daya imajinasi atau kemampuan untuk menggambarkan masa depan. Keahlian ini terkait erat dengan masa depan, gambaran masa depan   dan apa yang seharusnya terjadi (idealita). Padahal hal-hal tersebut merupakan hal-hal  yang  belum diketahui sehingga sebagian orang masih ragu untuk menyelaminya dan takut terhadap resiko yang akan  Pada hakekatnya, kegiatan menyusun rencana

memang tidak bisa lepas dari unsur resiko, akan tetapi manusia dapat mengkonsentrasikan usahanya guna memperkecil tingkat resiko tersebut, sehingga tidaklah heran jika ada sebagian orang yang lebih senang untuk melakukan hal-hal yang beresiko. Sebagai contoh,  mungkin tidak masuk akal, jika Anda sudah memiliki pekerjaan yang bagus sehingga Anda memperoleh penghasilan yang besar dan status sosial yang tinggi, tetapi kemudian Anda merencanakan untuk meninggalkan pekerjaan tersebut sebelum Anda memiliki alternatif pekerjaan yang jelas. Akan tetapi, jika Anda sudah merasa puas dengan keputusan Anda, maka Anda harus   siap untuk menghadapi resiko-resiko yang telah diperkirakan sebelumnya (yaitu dengan melakukan aksi- aksi yang dapat mendatangkan keuntungan yang lebih banyak dan meminimalisir kerugian). Oleh karena itu, meskipun menyusun rencana merupakan kegiatan yang bersifat fiktif dan belum diketahui secara jelas, akan tetapi ia sangat penting dan tidak ada sesuatu pun   yang dapat menggantikan posisinya. Hal ini disebabkan karena suatu kesuksesan selalu terkait dengan langkah berikutnya, jika Anda tidak mau mengambil langkah tersebut –meskipun terkadang belum jelas-, maka Anda tidak dapat melangkahkan kaki untuk maju.

 

Latihan Mengenal  Diri Mengapa Anda Tidak Menyusun Rencana?

Setelah Anda membaca faktor-faktor yang menyebabkan seseorang tidak mau menyusun rencana, apakah Anda dapat melakukan analisa terhadap keadaan diri Anda sekarang?

Faktor-faktor yang menyebabkan Saya tidak mau menyusun rencana adalah:

1-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………….

2-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………..

3-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………….

4-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………….

5-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

Saya terkadang menyusun rencana, tetapi Saya menghadapi sejumlah kendala, di antaranya:

1-  ………………………………………………………………………………………………………………………………………………

2-  ………………………………………………………………………………………………………………………………………………

3-  ………………………………………………………………………………………………………………………………………………

4-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………..

5-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Bagaimana Anda Menyusun Rencana?

 

Setelah Anda mengetahui tentang konsep “menyusun rencana”, urgensi dan manfaat-manfaatnya, serta hambatan- hambatan yang muncul di hadapan Anda dalam proses penyusunan rencana, sekarang izinkanlah Saya untuk  bertanya langsung kepada Anda, “Pernahkah Anda menyusun rencana untuk hidup Anda? Jika Anda menjawab “ya”, maka  hal itu sangatlah baik bagi Anda. Sebab membaca tema ini secara terus menerus dapat memperkaya pengetahuan dan meningkatkan keahlian Anda yang berkaitan dengan kegiatan penyusunan rencana. Tetapi, jika Anda menjawab “tidak”, maka mengapa Anda tidak mau menyusun rencana? Faktor- faktor apa saja yang menyebabkan Anda tidak mau melakukannya? Tidak diragukan lagi bahwa sebab-sebab yang telah memisahkan diri Anda dengan kegiatan menyusun  rencana ini sangat jelas dalam pikiran Anda sekarang, tentunya setelah Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada pada latihan di atas.

Pada dasarnya, menyusun rencana merupakan keahlian yang sangat berharga. Ketika seseorang telah benar-benar menguasai keahlian tersebut, telah mempraktekkannya dalam kehidupannya, dan telah merasakan manfaatnya, maka ia menemukan dirinya telah terkait dengan  kegiatan  penyusunan rencana dan ia akan menjadikan kegiatan  tersebut sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya. Ada sejumlah tingkatan berjenjang dalam kegiatan menyusun rencana ini yang saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya. Di sini, saya akan memaparkan semua tingkatan tersebut secara sederhana.

Tingkatan pertama: Rencana seumur hidup Tingkatan kedua                 : Rencana 3 sampai 5 tahunan Tingkatan ketiga : Rencana tahunan

Tingkatan keempat: Rencana bulanan

Tingkatan kelima : Rencana mingguan Tingkatan keenam : Rencana harian

 

Rencana Seumur Hidup

Yang Saya maksud di sini adalah hendaknya seseorang menentukan sejumlah tujuan untuk dirinya sendiri  yang ingin diwujudkan sepanjang usianya, baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan pribadinya. Hal ini telah dibahas secara rinci di awal buku ini, yaitu ketika kita membahas tentang motto hidup Anda dan juga ketika membahas tentang kebiasaan kedua yaitu kebiasaan menentukan tujuan. Dalam konteks ini, pada umumnya tujuan-tujuan  tersebut  merupakan tujuan-tujuan yang bersifat umum dan terkait dengan seluruh fase kehidupan Anda. Tingkat keimanan seperti apakah yang ingin Anda capai dan ingin dijadikan sebagai landasan hidup Anda, baik di rumah, masyarakat maupun ketika bekerja? Standar-standar moral seperti  apakah yang ingin Anda jadikan sebagai payung bagi kehidupan Anda? Pekerjaan atau profesi  semacam  apakah yang Anda sukai sehingga Anda selalu berusaha untuk mendapatkannya? Kondisi kehidupan seperti apakah  yang  Anda inginkan sehingga Anda selalu berusaha untuk mencapainya? Penghasilan seperti apakah yang cocok bagi Anda sehingga Anda selalu berusaha untuk mendapatkannya? Hal-hal apakah yang ingin Anda miliki dan status sosial seperti apa yang Anda harapkan?

Tidak diragukan lagi bahwa  hal-hal  tersebut merupakan hal-hal besar dalam kehidupan Anda,  dimana  upaya untuk mewujudkannya memakan waktu yang cukup lama. Tanpa adanya kegiatan meyusun rencana dan tanpa adanya usaha yang dilakukan secara terus menerus, maka hal-hal tersebut akan tetap menjadi sejumlah mimpi dan harapan. Tetapi, jika mimpi-mimpi dan harapan-harapan tersebut dibarengi dengan kegiatan penyusunan rencana, maka Anda

akan menemukan jalan menuju kesuksesan, dan pada suatu  saat nanti, mimpi-mimpi tersebut akan menjadi kenyataan dalam hidup Anda.

Ketika Anda akan menyusun rencana seumur hidup, maka Anda harus mengetahui bahwa beberapa tujuan besar  terkadang akan mengalami perubahan seiring dengan berputarnya waktu. Hal ini disebabkan karena setiap orang akan merasakan adanya perubahan dalam dirinya, perubahan keinginan dan perhatiannya, serta bertambahnya pengalaman yang diperolehnya. Oleh karena itu, Anda harus mengkaji ulang rencana seumur hidup Anda setiap beberapa tahun sekali. Sebab, terkadang sebagian tujuan Anda tidak bersifat praktis atau terkadang tidak bermanfaat sehingga Anda tidak perlu berusaha keras untuk mewujudkannya. Bisa jadi Anda menemukan sejumlah tujuan yang  lebih  penting dan pantas untuk diprioritaskan, oleh karena  itu  perhatian Anda pun harus difokuskan kepadanya. Yang terpenting di sini, buatlah rencana seumur hidup Anda  serta berusahalah untuk mewujudkan dan melaksanakannya. Akan tetapi, bersikaplah fleksibel dan janganlah  ragu untuk meninggalkan ataupun mengganti tujuan-tujuan yang – menurut Anda- tidak relevan lagi. Ingatlah bahwa tujuan-

tujuan  umum  yang  Anda  tulis

dalam

rencana  ini  adalah

merupakan petunjuk utama yang

dapat

membantu Anda dalam

menentukan tujuan-tujuan yang

lebih

terperinci di masa-

masa mendatang. Anggaplah bahwa yang telah Anda tentukan pada tingkatan ini merupakan sejumlah tujuan besar yang harus Anda rubah menjadi tujuan-tujuan yang lebih kecil seperti yang terdapat dalam tingkatan-tingkatan di bawah ini.

 

Rencana 3 Sampai 5 Tahunan

Tujuan-tujuan yang ada pada rencana jenis ini didasarkan pada sejumlah tujuan besar yang ada pada

tingkatan sebelumnya. Sebagai contoh, terkadang status sosial yang ingin Anda peroleh (suatu tujuan besar pada rencana sebelumnya) harus dilakukan dalam bentuk tujuan- tujuan kecil seperti memperoleh peningkatan dalam pekerjaan, memperoleh sertifikat atau dapat  berpindah  dari satu profesi ke profesi lain, serta tujuan-tujuan  yang lebih kecil lainnya. Terkadang Anda  ingin  memfokuskan rencana 5 tahunan atau 3 tahunan Anda pada   dua atau tiga tujuan saja, kemudian Anda merubahnya  menjadi sejumlah tujuan yang lebih kecil  dan  Anda berusaha untuk mewujudkannya. Setelah Anda berhasil mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, Anda lalu kembali memfokuskan rencana 5 tahunan berikutnya pada satu atau  dua tujuan besar, dan demikian seterusnya.

Dalam hal ini, Anda harus menekankan akan pentingnya upaya untuk mewujudkan keseimbangan dalam menentukan sejumlah tujuan sehingga tidak akan ada satu sisi pun   yang lebih besar dari sisi lainnya kecuali pada tempat  yang tepat. Sebagai contoh: Dalam jangka waktu 5 tahun, terkadang Anda memfokuskan diri pada upaya pencarian dan pengumpulan ilmu, kemudian pada rencana berikutnya Anda memfokuskan diri pada upaya untuk mewujudkan  prestasi dalam profesi Anda. Dalam hal ini, ada sejumlah tujuan dalam rencana seumur hidup dan rencana 5 tahunan Anda   yang berkaitan dengan hubungan Anda dengan Tuhan, tingkat keimanan dan tingkat pengamalan terhadap kewajiban- kewajiban Anda. Di sini, Anda dituntut untuk berusaha dan memfokuskan perhatian secara terus menerus  guna  mewujudkan tujuan-tujuan tersebut meskipun profesi dan status sosial Anda telah berubah. Hal ini  disebabkan karena waktu tidak dapat merubah tujuan-tujuan semacam  ini, tetapi waktu justru harus dapat menambah kesadaran kita sehingga kita akan selalu terkait erat dengan tujuan-tujuan tersebut. Maksudnya bahwa tujuan-tujuan

yang memiliki hubungan dengan aspek ‘ubudiyyah  (penghambaan diri kepada Allah) harus diprioritaskan. Sedangkan tujuan-tujuan yang berkaitan dengan aspek pemakmuran bumi selalu berubah dan tunduk pada faktor waktu, tempat dan kondisi-kondisi sosial.

Di sini, saya akan menekankan bahwa tujuan-tujuan  yang masuk dalam tingkatan ini memiliki hubungan langsung dengan peran-peran manusia. Apa yang ingin Anda wujudkan dalam peran Anda sebagai ayah, sebagai suami, pegawai, teman, kerabat, warga negara dan lain sebagainya? Peran- peran ini memberikan kunci-kunci yang sesuai bagi tujuan- tujuan yang kita bicarakan pada tingkatan ini. Dari tujuan-tujuan besar yang dianggap sebagai petunjuk- petunjuk utama tersebut, Anda dapat mengambil sejumlah tujuan kecil dalam setiap peran yang Anda mainkan dalam kehidupan Anda. Sekali lagi saya katakan: Tujuan-tujuan yang ada pada tingkatan ini adalah seperti tujuan-tujuan yang ada pada tingkatan pertama yaitu dapat berubah, diperbaiki, diganti dan ditambah, sesuai dengan kondisi masing-masing individu.

 

Rencana Tahunan

Rencana ini didasarkan pada rencana sebelumnya,  karena Anda akan mengambil tujuan-tujuan yang Anda  tentukan untuk jangka waktu 5 tahun ke depan kemudian diletakkan pada sebuah program kerja tahunan. Sebagai contoh: salah satu tujuan Anda untuk 5 tahun mendatang adalah memiliki rumah yang sesuai bagi Anda dan keluarga Anda. Maka, pada tahun pertama, kedua dan ketiga, Anda harus mengumpulkan sejumlah uang yang  dibutuhkan. Terkadang untuk tujuan tersebut, waktu tiga  tahun  tidaklah cukup, maka Anda pun harus merencanakan untuk mengumpulkan uang separohnya saja,  kemudian  untuk menutupi separohnya lagi, Anda bisa meminjam kepada orang

lain. Setelah membeli tanah, Anda harus  merencanakan  untuk membangun rumah di atas tanah tersebut pada tahun keempat dan kelima. Anda bisa juga memiliki rencana yang berbeda yaitu dengan membeli apartemen yang sudah siap  atau dengan menggunakan jasa kredit  yang  memungkinkan Anda untuk mewujudkan tujuan tersebut. Yang terpenting di sini adalah bahwa Anda harus bisa meletakkan tujuan besar Anda (memiliki rumah) dalam sebuah program kerja yang sesuai dengan kemampuan Anda sendiri. Kemudian menentukan langkah-langkah dan tindakan-tindakan yang  harus  dilakukan dalam setiap tahun hingga Anda  benar-benar  dapat mewujudkan keinginan tersebut.

Mungkin di antara tujuan Anda untuk 5  tahun  mendatang adalah menghafal Al-Qur’an. Ini berarti bahwa Anda harus menghafal 6 juz dalam setahun. Hal seperti ini juga bisa Anda lakukan dalam setiap tujuan besar yang  dapat dipecah menjadi tujuan-tujuan kecil dan dapat ditentukan langkah-langkah yang sesuai dengannya sehingga dapat dijalankan secara terus menerus sampai tujuan besar Anda dapat terealisasi secara sempurna.

 

Apa yang kita lakukan dalam menyusun rencana tahunan?  Dalam hal ini, yang harus kita lakukan adalah sebagai berikut:

  • Kita mulai memikirkan sebuah program kerja guna mewujudkan tujuan-tujuan akhir dan tujuan-tujuan besar kita.
  • Kita mulai memecah tujuan-tujuan besar kita menjadi sejumlah tujuan yang lebih kecil, dimana tujuan-tujuan yang lebih kecil itu harus mengarah kepada tujuan- tujuan
  • Kita mulai memikirkan waktu serta hubungannya dengan rencana

  • Kita mulai memikirkan langkah-langkah praktis dan tindakan-tindakan yang mengarah kepada tujuan-tujuan kita.
  • Kita mulai menentukan waktu dan tanggal
  • Kita mulai merasakan bahwa usaha untuk mewujudkan sejumlah tujuan bukanlah sesuatu yang bersifat teoritis, melainkan sesuatu yang terkait dengan dunia nyata (realita), potensi, berbagai kemampuan,  perhatian, kemampuan untuk bersabar dan menanggung beban, serta kemampuan untuk melakukannya secara terus menerus.
  • Kita mulai melontarkan sejumlah pertanyaan penting kepada diri kita sendiri, kemudian kita berusaha untuk menjawabnya. Di antara pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah: Siapa yang membantu Saya dalam merealisasikan tujuan-tujuan Saya, siapa yang Saya butuhkan pendapat dan nasehatnya, bagaimana caranya, bagaimana caranya agar saya sampai kepada tujuan-tujuan saya, bagaimana caranya saya menghadapi sejumlah hambatan dan tantangan, bagaimana caranya saya menghadapi langkah kedua, bagaimana caranya saya merubah, memperbaiki dan membentuk sejumlah langkah, serta bagaimana  caranya saya menjaga sebuah tujuan? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain seperti: di  mana,  kapan, dan mengapa. Ketika itu, maka kita mulai merubah tujuan-tujuan tahunan kita menjadi bagian-bagian yang lebih

 

Rencana Bulanan

Setelah kita menyelesaikan rencana  tahunan,  maka kita harus berpindah langsung ke rencana bulanan, yaitu dengan menentukan langkah-langkah praktis yang dibutuhkan guna mewujudkan tujuan tahunan kita. Pada contoh di atas, Anda telah merencanakan untuk memiliki rumah pribadi

dalam jangka waktu 5 tahun ke depan. Kemudian pada tahun pertama, Anda telah menentukan  untuk  mengumpulkan sejumlah uang. Maka pada tahap ini, Anda harus membuat perincian untuk setiap bulannya. Dan karena Anda telah memutuskan untuk memenuhi jumlah uang yang  dibutuhkan dalam waktu 3 tahun, maka dalam setahun Anda harus mengumpulkan sepertiga dari jumlah keseluruhan. Rencana bulanan ini akan membantu Anda untuk membagi  sepertiga dari jumlah uang yang dibutuhkan itu ke dalam 12 bulan. Demikian pula pada tujuan menghafal Al-Qur’an, di  mana Anda butuh waktu 5 tahun untuk mewujudkan tujuan yang  besar itu, berarti Anda harus menghafal 6 juz dalam setahun, atau setengah juz dalam sebulan, dan  demikian pula seterusnya.

 

Rencana Mingguan

Rencana ini sangat terkait erat dengan rencana sebelumnya dan tidak dapat dipisahkan darinya. Ia  merupakan perincian dari rencana bulanan, dan ia terdiri dari sejumlah mekanisme dan langkah yang dapat membimbing seseorang dalam usahanya mewujudkan tujuan-tujuan bulanannya. Dalam rencana ini, kita akan berhubungan  dengan hal-hal yang dilakukan dalam satu minggu. Tentunya pada tingkatan ini, kita akan bergerak  sesuai  dengan jenis dan karakter tujuan kita. Sebab dalam seminggu, terkadang Anda dihadapkan pada sejumlah tujuan yang tidak membutuhkan adanya tugas-tugas atau langkah-langkah tertentu. Sebagai contoh: dalam upaya mewujudkan tujuan “memiliki rumah pribadi”, terkadang Anda tidak perlu melaksanakan tugas tertentu yang bersifat  mingguan,  karena langkah yang diperlukan guna mewujudkan tujuan ini adalah langkah yang bersifat bulanan yaitu dengan mengumpulkan sejumlah uang yang harus dipenuhi setiap bulan. Tetapi dalam beberapa tujuan yang lain, terkadang

Anda harus melakukan tujuan-tujuan tertentu. Sebagai contoh, ketika Anda telah menentukan tujuan “menghafal Al-Qur’an”, sudah tentu dalam setiap minggunya, Anda  berada di hadapan sebuah tugas yaitu menghafal 1/8 juz.

Dalam menyusun rencana mingguan, ada 2 cara: Pertama adalah dengan membuat jadwal pekerjaan yang akan  dikerjakan dalam satu bulan penuh dalam sebuah formulir (pelajari kembali tentang rencana bulanan yang dijelaskan pada akhir bagian ini), lalu Anda harus menjelaskan hal- hal yang akan dikerjakan dalam satu minggu. Cara kedua adalah dengan mengambil sejumlah tujuan bulanan pada  setiap awal pekan, kemudian Anda menentukan langkah- langkah dan mekanisme-mekanisme yang dapat menjadi perantara dalam mewujudkan tujuan-tujuan tersebut. Aktifitas semacam ini dapat membawa kita ke tingkatan terakhir dalam kegiatan penyusunan rencana.

 

Rencana Harian

Rencana harian merupakan tindak lanjut dari rencana mingguan. Hal-hal yang ingin Anda wujudkan dalam seminggu harus diberikan porsi waktu tertentu untuk pelaksanaannya dalam setiap hari. Secara umum, hari-hari Anda merupakan saat-saat terpenting dalam usia Anda. Hari-hari tersebut merupakan medan dan halaman bagi perbuatan Anda. Oleh karena itu, meskipun rencana-rencana Anda telah tersusun rapi dan teliti, akan tetapi sesuatu yang paling penting bagi Anda adalah hari yang sedang Anda hadapi: Apa yang ingin Anda kerjakan pada hari ini?

Imam Hasan Al-Bashri –rahimahullah- berkata, “Hindarilah perbuatan menunda-nunda pekerjaan,  karena  Anda berada pada hari sekarang Anda, dan bukan pada hari esok Anda. Jika Anda memiliki hari Esok, maka jadilah   Anda pada hari esok itu seperti Anda pada hari ini. Jika Anda tidak memiliki hari esok, maka niscaya Anda tidak

akan menyesal atas apa yang tidak Anda kerjakan hari   ini.”

Imam Abu Hamid al-Ghazali juga menjelaskan dalam kitabnya “Ihyâ’ ‘Ulûmuddin”, “Waktu terbagi menjadi tiga: Waktu yang seorang hamba tidak lagi merasa capai  (maksudnya waktu yang telah lalu), apapun kondisinya: sengsara ataupun bahagia; waktu yang akan datang atau  belum datang dimana seorang hamba tidak mengetahui apakah ia akan hidup atau tidak pada waktu tersebut, dan  ia  tidak mengetahui apa yang akan Allah tentukan; dan waktu sekarang dimana seorang hamba harus berjuang keras dan berada di bawah pengawasan Tuhannya. Jika waktu kedua (waktu yang akan datang) tidak datang, maka seseorang  tidak akan menyesal atas hilangnya waktu sekarang ini, tetapi jika waktu yang kedua itu datang, maka seseorang harus memberikan hak waktu kedua  sebagaimana  ia memberikan hak waktu pertama.”

Secara ringkas, ungkapan-ungkapan di atas dapat difahami bahwa saat yang terpenting dalam kehidupan  seorang manusia adalah waktu yang dihadapi sekarang,  karena waktu tersebut merupakan inti  dari  pembicaraan kita dan merupakan substansi dari tantangan yang kita hadapi dalam berusaha untuk mewujudkan  tujuan-tujuan  kita. Jika seorang manusia tidak mau berusaha untuk melakukan langkah-langkah tertentu yang mengantarkannya kepada tujuan-tujuan yang telah dibayangkan, maka  ia  tidak akan memiliki kesempatan lagi, dan meskipun ia memiliki kesempatan lain, maka kesempatan tersebut sudah terlambat dan sulit untuk dimanfaatkan.

 

Bagaimana Anda Menyusun Rencana Hari Ini?

Mohonlah pertolongan kepada Allah SWT dan hadapilah hari ini dengan penuh semangat dan optimis, lalu lihatlah rencana mingguan Anda secara keseluruhan karena terkadang

Anda memiliki sejumlah tugas tertentu yang harus  dikerjakan pada tanggal-tanggal tertentu. Berusahalah  untuk mengerjakannya secara terus menerus  dan  teliti. Anda juga dapat memilih cara lain yaitu dengan melihat tujuan-tujuan yang ingin Anda wujudkan dalam seminggu, kemudian mintalah pertolongan kepada Allah SWT, lalu tulislah pada setiap pagi (atau pada akhir hari menjelang hari berikutnya) sejumlah tugas dan langkah-langkah yang harus Anda lakukan. Pertama tulislah hal–hal yang  terlintas dalam pikiran Anda, seperti melakukan berbagai kunjungan, pertemuan, pembicaraan melalui telepon, waktu- waktu untuk membalas surat, waktu-waktu untuk membaca dan menulis, serta langkah-langkah lainnya yang dapat mengarahkan Anda kepada tujuan-tujuan mingguan yang telah Anda tentukan sebelumnya.

Ketika Anda telah menulis sebuah daftar yang terdiri dari 10 point, maka perhatikanlah sekali lagi  tulisan  Anda itu. Kemudian berusahalah untuk memilih yang terpenting atau menentukan prioritas-prioritas yang terpenting di antara 10 point tersebut. Lalu berilah tanda-tanda tertentu di depan prioritas-prioritas  tersebut, seperti tanda bintang atau kata “penting”. Setelah itu, perhatikanlah untuk ketiga kalinya daftar tersebut dan berilah nomor urut pada hal-hal yang penting itu sesuai dengan tingkat urgensinya masing-masing. Lalu mulailah untuk mengerjakan prioritas-prioritas tersebut sesuai dengan urutan yang tertera dalam daftar dan sesuai dengan kemampuan Anda dalam melaksanakannya. Ingatlah  bahwa ketika Anda telah berhasil melaksanakan dua point terpenting dari 10 point yang ada pada daftar tersebut, maka sesungguhnya Anda telah mewujudkan sebuah prestasi besar. Mengapa bisa demikian? Hal ini disebabkan karena nilai prestasi Anda telah mencapai 80% seperti yang

dijelaskan dalam prinsip Parieto pada pembahasan  yang lalu. Apakah Anda masih ingat prinsip tersebut?

Prinsip tersebut berbunyi: Sesungguhnya Anda dapat dikatakan telah bertindak efektif dengan nilai 80% jika Anda telah melaksanakan 20% dari tujuan-tujuan yang telah Anda tentukan. Jika Anda memiliki sebuah daftar harian  yang terdiri dari 10 tujuan, maka Anda dapat dikatakan telah bertindak efektif dengan nilai 80% jika Anda telah melaksanakan 2 tujuan terpenting saja. Jadi,  pikiran  utama dari prinsip tersebut adalah bahwa seseorang dapat dikatakan telah bertindak efektif dan memiliki kemampuan tinggi jika ia memfokuskan perhatiannya pada tujuan-  tujuan yang lebih penting terlebih dahulu.

Sekarang, Anda telah memiliki  gambaran  tentang metode yang dapat Anda ikuti dalam melakukan penyusunan rencana, karena kami telah menjelaskan secara sederhana tentang berbagai tingkatan dalam proses  penyusunan rencana, yaitu dimulai dengan tingkatan yang paling umum (rencana seumur hidup), kemudian secara berurutan kami membagi rencana umum itu menjadi sejumlah rencana yang lebih khusus (rencana 3 tahunan, rencana tahunan, rencana bulanan, rencana mingguan dan rencana harian). Sepintas, mungkin hal tersebut terlihat sangat rumit. Akan tetapi sebenarnya hal tersebut sangatlah sederhana, karena yang kita perlukan di sini adalah sikap fleksibel, mau mencoba dan berusaha, serta membiasakan diri untuk melakukan kebiasaan yang sangat berharga itu yaitu kebiasaan  menyusun rencana.

 

Indikasi-indikasi Penting dalam Membentuk Kebiasaan Menyusun Rencana

Ada sejumlah indikasi penting yang  harus  diperhatikan secara cermat ketika Anda sedang mempelajari

dan mempraktekkan kebiasaan menyusun rencana. Di antara indikasi-indikasi tersebut adalah sebagai berikut:

  • Menghindari semangat yang berlebih-lebihan dan  semangat yang lemah dalam menyusun rencana. Sebab, semangat yang berlebih-lebihan –terutama ketika baru mulai membentuk kebiasaan ini- dapat menyebabkan seseorang memiliki keinginan untuk mewujudkan sejumlah tujuan sekaligus dalam waktu yang singkat. Hal ini terkadang dapat menyebabkan kegagalan,  sehingga  ia akan meninggalkan kebiasaan menyusun rencana tersebut secara total atau ia akan memiliki kesan-kesan yang jelek terhadap kebiasaan tersebut. Sedangkan semangat yang lemah dapat menyebabkan seseorang akan  meninggalkan kebiasaan menyusun rencana tersebut sekaligus atau ia akan  memilih tujuan dalam jumlah  yang sangat sedikit, atau lebih sedikit dari yang seharusnya, kemudian ia akan meletakkan tujuan-tujuan tersebut dalam sebuah program kerja jangka panjang, sehingga upaya mewujudkan tujuan-tujuan semacam itu tidak lagi bernilai. Dalam hal ini, Anda harus mewujudkan suatu keseimbangan yaitu dengan menentukan tujuan dalam jumlah yang sedikit  dan  meletakkannya pada sebuah program kerja yang sesuai. Hal ini  merupakan sesuatu yang sangat penting, dan tidak ada seorang pun dapat memberikan keseimbangan tersebut kepada Anda, karena yang bisa  mewujudkannya  adalah diri Anda sendiri. Di sini, Anda dapat belajar dari pengalaman, latihan, usaha, dan  kesalahan-kesalahan Anda sendiri. Oleh karena itu, janganlah heran jika   hal tersebut dapat memakan banyak waktu dan tenaga  Ketika Anda berusaha untuk membentuk kebiasaan menyusun rencana, maka secara perlahan-lahan  Anda  dapat mengenal diri Anda sendiri –yaitu tentang titik- titik kekuatan dan kelemahan Anda-, sehingga bersamaan

dengan berputarnya waktu, Anda akan mampu  untuk  memilih tujuan-tujuan yang masuk akal dan langkah- langkah praktis yang sesuai. Ingatlah  bahwa keseimbangan memiliki dua sisi:  kuantitas  dan kualitas. Kuantitas di sini adalah jumlah  tujuan- tujuan yang ingin dicapai, sedangkan kualitas adalah urgensinya untuk menutupi seluruh peran Anda  dalam hidup ini.

Dalam membangun keseimbangan tujuan-tujuan, Saya menghabiskan waktu beberapa tahun, semoga Anda bisa melakukannya lebih cepat. Saya masih ingat perasaan frustasi yang Saya alami di awal-awal membangun kebiasaan membuat rencana. Ketika Saya membuat rencana tahunan dalam hidup Saya, Saya hanya mampu merealisasikan 30 % saja dari rencana di akhir tahun. Dengan hasil yang rendah ini, akhirnya kebiasaan  membuat rencana Saya tinggalkan selama beberapa bulan. Namun Saya berpikir untuk mencoba lagi. Maka Saya membuat rencana untuk satu tahun ke depan dan hasilnya lebih bagus. Tapi masih merupakan hasil yang rendah, karena hanya berhasil merealisasikan 50 % saja dari tujuan-tujuan yang Saya rencanakan. Pengalaman  dua tahun tersebut hampir membuat Saya hilang keyakinan terhadap pentingnya membuat rencana. Namun  Saya  belajar banyak dari pengalaman ini. Karena dulu Saya sangat semangat dan tidak seimbang dalam membuat tujuan-tujuan. Banyak sekali tujuan yang ingin Saya capai. Pada tahun ketiga Saya belajar untuk realistis dan seimbang. Pada akhir tahun ketiga hasil yang Saya peroleh meningkat, hampir 80 % rencana dapat terealisasikan. Sejak saat itu, Saya terus menjaga kebiasaan membuat rencana tahunan dengan realistis dan seimbang sesuai dengan kemampuan, potensi dan kondisi Saya.

  • Ingatlah apa yang Saya jelaskan pada pembahasan mengenai kebiasaan kedua: yaitu bahwa sebuah tujuan harus bersifat jelas, spesifik, praktis, bisa diukur, dan ditentukan tanggal pencapaiannya. Sebab, kegagalan seseorang dalam berfikir dengan metode semacam  ini dapat menyebabkan ia akan berinteraksi dengan sejumlah tujuan yang tidak bisa diwujudkan dalam dunia nyata.  Ini berarti bahwa setiap tujuan harus memiliki sifat- sifat tersebut. Kita telah mengetahui bahwa sebagian tujuan kita dalam kehidupan ini bersifat  umum  dan tidak jelas, tujuan-tujuan tersebut hanya berupa tujuan-tujuan akhir yang sangat luas dan  tidak spesifik. Oleh karena itu, tantangan yang ada  di hadapan kita sekarang adalah bagaimana kita bisa menerjemahkan tujuan-tujuan akhir kita itu ke dalam sejumlah tujuan besar, dan bagaimana kita menjelaskan tujuan-tujuan yang besar dan bersifat umum tersebut serta merubahnya menjadi tujuan-tujuan yang lebih  kecil, lalu bagaimana kita bisa menentukan langkah- langkah dan tindakan-tindakan yang
  • Ingatlah bahwa dalam membuat rencana jangka panjang (rencana seumur hidup, rencana beberapa tahun, dan rencana tahunan), Anda mungkin akan mengalami berbagai kesulitan, karena Anda masih berhadapan dengan sesuatu yang fiktif. Selain itu, untuk memikirkan dan menulis rencana-rencana tersebut mungkin terlihat sangat sederhana, akan tetapi untuk mewujudkannya dalam dunia nyata, mungkin Anda akan menghadapi berbagai kesulitan dan kegagalan. Sedangkan waktu antara tahap penentuan tujuan dengan tahap terealisasinya merupakan  waktu yang sangat panjang, dimana dalam jangka waktu  tersebut, Anda akan menemui sejumlah hal seperti naik turunnya semangat, jelas tidaknya visi  hidup, kesuksesan dan kegagalan, jiwa spiritual yang tinggi

dan keputusasaan, dan lain sebagainya.  Oleh  karena itu, janganlah Anda mundur atau meninggalkan tujuan- tujuan penting Anda walau bagaimana pun kondisi yang Anda hadapi atau walau bagaimana pun  tingkat  visi Anda. Meskipun demikian, Anda bisa merubah sejumlah  cara atau metode yang Anda gunakan, yaitu dengan meninggalkan satu metode untuk berpindah  ke  metode yang lain.

  • Ingatlah bahwa mungkin ada sejumlah tujuan yang telah Anda tentukan dalam sebagian waktu, kondisi, ataupun fase kehidupan Anda, tetapi dengan bergesernya waktu, Anda dapat mengetahui bahwa tujuan-tujuan tersebut tidak penting. Jika pada suatu saat Anda menemukan kondisi semacam ini, maka janganlah ragu-ragu untuk mengorbankan tujuan-tujuan tersebut. Bersikaplah fleksibel dalam masalah ini, sebab faktor usia, eskperimen yang terus dilakukan dan pengalaman yang telah diperoleh memiliki pengaruh yang sangat  kuat dalam merubah dan memperbarui tujuan-tujuan kita. Berusahalah selalu untuk menghubungkan tujuan-tujuan Anda dengan motto hidup Anda. Jika hubungan antara tujuan-tujuan Anda dengan motto hidup Anda kuat, maka hal itu dapat meminimalisir kemungkinan masuknya tujuan-tujuan yang tidak penting dalam kehidupan
  • Ingatlah selalu bahwa upaya untuk mewujudkan tujuan- tujuan Anda sangat terkait dengan orang-orang yang hidup di sekitar Anda, baik keluarga, kerabat, teman, rekan kerja, ataupun masyarakat umum. Oleh karena itu, kita harus bisa memanfaatkan potensi-potensi yang ada pada orang lain serta kita harus memiliki sikap-sikap kejiwaan yang dibutuhkan dalam berinteraksi  dengan orang lain dan dalam meminta bantuan ataupun memberikannya kepada mereka. Selain itu, kita tidak  bisa memisahkan tujuan-tujuan pribadi kita dari

kepentingan masyarakat umum dan kepentingan semua  orang.

  • Ingatlah bahwa kesalahan-kesalahan yang Anda lakukan dalam perjalanan usaha Anda untuk mewujudkan sejumlah tujuan-tujuan merupakan sesuatu yang wajar (alami). Oleh karena itu, janganlah Anda takut untuk melakukan kesalahan, dan berusahalah semampu mungkin  meminimalisir kesalahan-kesalahan tersebut serta pengaruh-pengaruhnya terhadap kehidupan Anda dan orang lain. Sebab, orang yang dianggap salah adalah orang  yang tidak pernah berusaha atau    Perasaan takut berbuat salah merupakan penyakit yang dapat melumpuhkan kinerja seseorang dan dapat mengosongkan kehidupannya dari semangat untuk berinovasi dan memberikan sesuatu yang bermanfaat.
  • Ingatlah bahwa dengan menentukan tujuan-tujuan Anda, – Insya Allah- Anda telah menempuh setengah dari perjalanan kesuksesaan Anda menuju tujuan-tujuan tersebut. Sebab, seseorang yang telah mengetahui apa yang diinginkan, maka ia akan berusaha mencari  berbagai cara atau sarana yang dapat mengantarkannya kepada keinginannya itu. Sedangkan seorang yang tidak mengetahui apa yang ia inginkan, maka berbagai bantuan yang ditawarkan orang lain tidak akan bermanfaat baginya.
  • Ketika Anda berusaha untuk mewujudkan sejumlah tujuan, maka ingatlah sebuah petunjuk penting yang berguna dalam proses pencapaian tujuan-tujuan  Petunjuk ini sangatlah sederhana,  yaitu  dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut: Apakah saya telah melakukan sesuatu pada hari ini, ataukah saya telah melakukan suatu langkah atau tindakan yang dapat memudahkan saya dalam mewujudkan tujuan-tujuan saya – atau paling tidak- dapat mendekatkan saya kepada

tujuan-tujuan tersebut? Jika Anda menjawab “ya”, maka berarti Anda berada pada jalan yang benar, tetapi jika Anda menjawab “tidak”, maka Anda harus mengevaluasi  diri Anda kembali.

  • Ingatlah penjelasan kami mengenai sejumlah prioritas dan hubungannya dengan prinsip Parieto. Pusatkanlah perhatian Anda pada 20% dari tujuan-tujuan Anda  sehingga Anda akan memperoleh prestasi dengan nilai  80%. Jika Anda merasa mampu untuk menjawab tantangan Parieto dan prinsipnya itu, maka lakukanlah, karena terkadang Anda memiliki kinerja dan produktifitas yang tinggi sehingga Anda dapat mewujudkan 30% atau 40%   dari tujuan-tujuan
  • Kemudian Anda harus menghiasi diri dengan akhlak al- Qur’an. Anda harus sabar dan terus berjuang. Ingatlah firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”, (Ali ‘Imrân: 200). Hendaklah ayat ini menjadi semboyan Anda dalam berusaha untuk mewujudkan tujuan-tujuan  Anda baik di dunia maupun

 

Secara ringkas, dapat difahami bahwa dalam menyusun rencana terdapat sejumlah tujuan dan langkah yang harus dilaksanakan.

Apakah Anda dapat membuat sebuah rencana  yang  terdiri dari 4 tujuan Anda, kemudian tujuan-tujuan itu  Anda bagi menjadi beberapa langkah tertentu yang telah ditentukan tanggal pencapaiannya?

Tujuan Pertama:……………………………………………………………………………………………………………

Langkah pertama:…………………… Batas akhir  pencapaian:…………..

Langkah kedua  :…………………. Batas  akhir pencapaian:…………….

Langkah ketiga :…………………. Batas akhir  pencapaian:…………..

Langkah keempat:…………………. Batas akhir pencapaian:………….

Tujuan  Kedua: ……………………………………………………………………………………………………………..

Langkah pertama:…………………… Batas akhir  pencapaian:…………..

Langkah kedua  :…………………. Batas  akhir pencapaian:…………….

Langkah ketiga :…………………. Batas akhir  pencapaian:…………..

Langkah keempat:…………………. Batas akhir pencapaian:………….

Tujuan  Ketiga :…………………………………………………………………………………………………………….

Langkah pertama:…………………… Batas akhir  pencapaian:…………..

Langkah kedua  :…………………. Batas  akhir pencapaian:…………….

Langkah ketiga :…………………. Batas akhir  pencapaian:…………..

Langkah keempat:…………………. Batas akhir pencapaian:………….

Tujuan  Keempat :………………………………………………………………………………………………………….

Langkah pertama:…………………… Batas akhir  pencapaian:…………..

Langkah kedua  :…………………. Batas  akhir pencapaian:…………….

Langkah ketiga :…………………. Batas akhir  pencapaian:…………..

Langkah keempat:…………………. Batas akhir pencapaian:………….

Tingkatan-tingkatan Dalam Menyusun Rencana

Pada dasarnya, tingkatan-tingkatan yang telah dijelaskan di atas saling terkait antara yang satu dengan lainnya. Oleh karena itu, kita harus melihat  tujuan- tujuan kita yang ada pada semua tingkatan tersebut dari aspek keterkaitan ini, maksudnya bahwa tujuan-tujuan  jangka pendek harus memiliki andil dalam mewujudkan tujuan-tujuan jangka menengah. Sedangkan tujuan-tujuan jangka menengah juga harus memiliki  andil  dalam mewujudkan tujuan-tujuan jangka panjang. Sistem semacam  ini bertujuan untuk mewujudkan keseimbangan antara faktor waktu dan usaha guna mencapai tingkat efektifitas tertinggi. Ketika Anda meletakkan tujuan-tujuan  Anda  dalam batas-batas waktu tertentu, maka terkadang  Anda ingin memperbaiki atau menambahnya, atau terkadang Anda meninggalkan sebagiannya dengan tujuan menjaga adanya kesesuaian antara tujuan-tujuan tersebut. Sayangnya, sebagian besar dari kita tidak mau menerapkan sistem ini. Oleh karena itu, ketika kita gagal untuk  mengaitkan  antara masa sekarang dengan masa yang akan datang, maka kita menemukan diri kita sedang memulai lagi aktifitas tersebut dari awal (dari nol). Pada saat itulah kita akan menyadari bahwa roda kita memang berputar, tetapi perputaran itu tidak mengarah pada satu arah tujuan. Janganlah Anda biarkan hal semacam ini terjadi pada diri Anda.

 

Menentukan Tujuan-tujuan Jangka Panjang (Rencana Seumur Hidup)

Sekarang, berfikirlah tentang sejumlah tujuan jangka panjang Anda, kemudian tulislah pada titik-titik di bawah ini 5 tujuan terpenting yang ingin Anda wujudkan dalam hidup Anda!

1- ………………………………………………………………………………………………………………………………………………

2-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………….

3-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………..

4-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………….

5- ……………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

Saya tidak yakin Anda akan menemukan kesulitan dalam menentukan tujuan-tujuan yang membentang di  sepanjang  usia Anda dan merupakan induk dari sejumlah tujuan yang lebih kecil itu. Fungsi dari tujuan jangka  panjang  semacam ini hanyalah untuk memberikan gambaran yang bersifat umum tentang kehidupan Anda, sebab  tidaklah  mudah untuk memberikan perincian-perincian mengenai tujuan-tujuan tersebut. Di sisi lain,  tujuan-tujuan  jangka menengah bisa ditentukan dan lebih spesifik, sedangkan tujuan-tujuan mingguan dan harian merupakan tujuan yang paling memiliki banyak point didalamnya.

Terkadang diri Anda –sesuai  dengan  berputarnya waktu- cenderung untuk mengembangkan atau memperbarui tujuan-tujuan jangka panjang. Setiap kali sisi-sisi kepribadian Anda berkembang, maka Anda akan menambah tujuan-tujuan lain atau membuang tujuan-tujuan lama. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka ingatlah bahwa aktifitas penyusunan rencana yang baik harus bersifat lentur (fleksibel).

 

Tujuan-tujuan Jangka Menengah (Dari Satu Tahun Hingga Beberapa Tahun)

Kita harus memandang tujuan-tujuan jangka menengah kita sebagai dasar bagi proyek-proyek yang ingin kita kerjakan di masa-masa mendatang yang telah ditentukan sebelumnya, maksudnya hingga satu tahun hingga beberapa tahun. Proyek-proyek ini dapat membantu Anda dalam menjembatani jurang yang memisahkan antara tujuan-tujuan jangka menengah dengan tujuan-tujuan jangka pendek.

Latihan-latihan di bawah ini merupakan bagian dari kegiatan penyusunan rencana dalam salah satu proyek. Saya mengajak Anda untuk bersama-sama menjawab pertanyaan- pertanyaan berikut ini:

1- Tentukanlah secara jelas sebuah tujuan yang ingin Anda wujudkan pada tahun yang akan datang!

………………………………………………………………………………………………………………………………………………… 2- Mengapa Anda ingin mewujudkan tujuan tersebut?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………..

3- Apa pentingnya pencapaian tujuan tersebut bagi Anda?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………………………………….. 4- Bagaimana    Anda    dapat    mewujudkan                tujuan-tujuan

tersebut?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………………………………….. 5- Bagaimana   caranya   agar   pencapaian               tujuan    jangka

menengah ini dapat memberikan andil dalam mewujudkan tujuan-tujuan jangka panjang Anda?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………………………………….. 6- Berapa biaya yang akan Anda keluarkan untuk mewujudkan

tujuan tersebut? Apakah Anda telah siap untuk membayar biaya sebesar itu?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………………………………….. 7- Tentukanlah   peluang-peluang   yang                 ada               ketika                 Anda

berusaha untuk mewujudkan tujuan tersebut?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………………………………………..

8- Apa   yang   akan   terjadi   ketika      Anda   gagal  untuk mewujudkan tujuan tersebut!

……………………………………………………………………………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………………………………………….. 9- Tulislah tujuan-tujuan kecil yang muncul dari tujuan

tersebut,  kemudian  tentukanlah           tanggal   batas           akhir untuk masing-masing tujuan!

…………………………………………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………………………………….

10-Hambatan-hambatan apa saja yang muncul ketika Anda sedang berusaha untuk mewujudkan tujuan atau proyek tersebut, dan bagaimana Anda mengatasi hambatan- hambatan tersebut?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………… 11-Apa  yang  Anda  lakukan  sekarang  guna        meletakkan diri

Anda pada jalan menuju tujuan atau proyek tersebut?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………………………………………….

 

Mungkin    pertanyaan    yang                terakhir      ini    akan mengantarkan Anda pada tahap:

Menentukan tujuan-tujuan jangka pendek (bulanan, mingguan dan harian):

Sebagai contoh dari pernyataan di atas, izinkanlah kami mengambil tujuan-tujuan yang paling pendek masa pencapaiannya dan paling banyak  menampung  point-point yang bisa ditentukan, yaitu  tujuan-tujuan  harian. Mulailah hari Anda dengan membuat sebuah daftar pekerjaan yang akan Anda lakukan pada hari tersebut. Jadikanlah hal ini sebagai sesuatu yang bisa dilakukan setiap hari  seperti halnya kegiatan makan Anda. Janganlah lupa untuk menyusun urutan pekerjaan Anda sesuai dengan tingkatan prioritasnya. Berusahalah untuk membuat daftar pekerjaan harian tersebut pada sebuah kertas yang mudah dilipat sehingga daftar tersebut akan selalu berada dalam kantong atau tas Anda, dengan demikian Anda dapat  membawanya kemana pun Anda pergi. Saya telah melakukan sejumlah penelitian mengenai metode yang digunakan oleh para bisnisman terkenal dan paling sukses, dari penelitian- penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa  100  bisnisman tersukses di Amerika selalu memulai harinya di kantor dengan menulis daftar pekerjaan yang akan dilakukannya, kemudian mereka berusaha keras untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut, bahkan salah seorang dari mereka berusaha semaksimal mungkin  untuk tidak meninggalkan kantornya sebelum ia menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang tertulis dalam daftar tersebut.

 

Rancangan Sistem Kehidupan

Pada halaman-halaman berikut ini,  Anda  akan menemukan sebuah rancangan sistem kehidupan yang menggabungkan tingkatan-tingkatan penyusunan rencana dan mengaitkannya antara yang satu dengan yang lain.  Izinkanlah saya untuk memperkenalkan cara meletakkan tingkatan-tingkatan tersebut dalam sebuah program kerja.

Perhatikanlah bahwa latihan semacam ini dapat memberikan kesempatan kepada Anda untuk mempraktekkan  semua  kebiasaan yang telah Anda pelajari pada pembahasan- pembahasan yang lalu. Hal ini merupakan kesempatan yang sangat baik dalam memadukan kebiasaan-kebiasaan  yang  telah Anda pelajari hingga sekarang dalam sebuah  aktifitas. Sebab, jika Anda telah mempraktekkan kebiasaan menyusun rencana dengan baik, berarti Anda telah memahami dan mempraktekkan kebiasaan-kebiasaan yang telah  dipelajari sebelumnya yaitu: kebiasaan  mencapai keunggulan, kebiasaan menentukan tujuan dan kebiasaan menyusun prioritas.

Rancangan sistem kehidupan ini terdiri dari sejumlah formulir, seperti yang tersebut di bawah ini:

  • Formulir rencana tahunan (formulir pertama): Pada formulir ini tulislah sejumlah tugas dan tujuan yang ingin Anda wujudkan pada tahun ini. Kolom “No.” menunjukkan urutan tujuan, sedangkan kolom “Tingkat Urgensi” menunjukkan tingkatan prioritas bagi setiap tujuan atau tugas:

A- Tujuan atau tugas yang harus dilaksanakan.

B- Tujuan atau tugas yang harus dilaksanakan tetapi tidak sepenting tujuan atau tugas pada tingkatan A.

C- Tujuan atau tugas yang bisa dilaksanakan setelah melaksanakan tujuan atau tugas pada tingkatan A dan B.

* Tujuan atau tugas yang bersifat sangat mendesak dan tidak bisa ditunda.

Pada kolom “Hasil” ditulis simbol-simbol yang berkaitan dengan pelaksanaan tujuan atau tugas tersebut yaitu setelah satu tahun Anda berinteraksi  dengannya. Dalam hal ini, Anda dapat menggunakan simbol-simbol  sebagai berikut:

√ : telah dilaksanakan.

→  : dipindahkan ke tahun yang lain.

: didelegasikan kepada orang lain.

X : Saya batalkan atau saya hilangkan.

  • Formulir bulanan (formulir kedua). Pada formulir ini, Anda berusaha untuk mengisi formulir ini dengan tujuan atau tugas yang akan Anda laksanakan selama satu bulan penuh. Pada bagian atas formulir tersebut, Anda harus menulis tujuan-tujuan yang ingin dilakukan dalam bulan tersebut, kemudian Anda menulis program kerja selama satu bulan penuh yang terdiri dari prioritas-prioritas mingguan dan prioritas-prioritas harian (semuanya diambil dari tujuan-tujuan bulanan). Kelebihan  formulir ini terletak pada muatannya yang terdiri dari tujuan-tujuan bulanan, tujuan-tujuan mingguan dan tugas-tugas harian yang telah ditentukan tanggal- tanggal pelaksanaannya. Pekerjaan-pekerjaan, tugas- tugas dan tujuan-tujuan dalam setahun dibagi ke dalam beberapa bulan dengan cara yang dapat menggambarkan rencana tahunan serta menggunakan simbol-simbol yang sama dengan simbol-simbol di atas. Bagi  kebanyakan orang –terutama ketika mulai mempraktekkan kebiasaan menyusun rencana-, mereka cukup menggunakan dua jenis formulir tersebut (formulir pertama dan kedua) dalam membuat sejumlah rencana dan mempraktekkan kebiasaan menyusun rencana. Sedangkan bagi sebagian orang yang ingin mencapai keistimewaan, mereka dapat memperinci rencana-rencananya dengan menggunakan  formulir- formulir di bawah
  • Formulir rencana bulanan type B. Formulir ini dibuat dengan cara yang hampir sama dengan formulir rencana tahunan, tetapi pada type ini, untuk setiap bulan dibuatkan formulir sendiri yang
  • Formulir rencana harian (formulir ketiga). Formulir jenis ini dikhususkan untuk satu minggu penuh, dimana

pada bagian depan disebutkan pekerjaan-pekerjaan, tugas-tugas dan tujuan-tujuan untuk minggu ini yang diambil dari tujuan-tujuan bulanan. Kemudian tujuan- tujuan mingguan itu dimanifestasikan dalam bentuk tujuan-tujuan harian yang tersusun rapi dan memuat sejumlah langkah, pekerjaan dan tugas harian yang bertujuan untuk mewujudkan tujuan-tujuan mingguan tersebut yang pada akhirnya dapat mewujudkan tujuan- tujuan bulanan dan tahunan.

Ketika hendak mempraktekkan kebiasaan menyusun rencana, Anda dapat menggunakan salah satu dari dua cara berikut ini: Cara pertama adalah menggunakan formulir pertama dan kedua (type A), sedangkan cara kedua adalah menggunakan formulir pertama, kedua (type B) dan formulir ketiga.

Rancangan Sistem Kehidupan (Formulir Pertama) Rencana Tahunan Untuk Tahun…………

 

Tujuan-tujuan Ibadah Tujuan-tujuan Keluarga

Tujuan-tujuan Pekerjaan Tujuan-tujuan Pribadi

Tujuan-tujuan Sosial

 

No.

Tingkat

Urgensi

Tujuan-tujuan Yang Termasuk

Prioritas Utama Tahun Ini

Jenis

Tujuan

Hasil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No.:….

 

Formulir ini digunakan untuk semua tujuan tahunan. Adapun penjelasan untuk formulir tersebut adalah sebagai berikut:

: Maksudnya no. urut.

 

Tingkat Urgensi

 

: (A) Tingkat Urgensi Tinggi, (B) Tingkat Urgensi Lebih Rendah daripada A, (C) Lebih Rendah Daripada A dan B, (*)sangat mendesak dan tidak bisa ditunda.

Hasil

 

: (√) telah dilaksanakan, (→) dipindahkan ke tahun lain, (O) diserahkan kepada  orang  lain, (X) saya batalkan atau saya hilangkan.

 

Jenis Tujuan

 

: Tujuan ibadah, tujuan pekerjaan, tujuan sosial, dan tujuan pribadi (harus ada keseimbangan).

Rancangan Sistem Kehidupan (Formulir Kedua “A”)

Jenis Tujuan (Ibadah, Pekerjaan, Keluarga, Pribadi, Sosial) Tujuan-tujuan (Prioritas-prioritas) Pada Setiap Bulan (Diambil dari

Tujuan-tujuan Tahunan)

1-………………… 2-………………… 3-………………… 4-………………… 5-…………………. 6-……………………

7-………………… 8-………………. 9-………………. 10-……………… 11-…………….. 12-………………..

 

 

Rencana Bulanan

 

Prioritas Mingguan

Prioritas Harian

Tingkat

Urgensi

Tujuan

Hasil

Sabtu

Ahad

Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jum’at

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Catatan: Formulir ini digunakan untuk setiap bulan dalam setahun, didalamnya ditentukan tujuan-tujuan bulanan, mingguan dan harian. Oleh karena itu, formulir ini harus diperbanyak sesuai dengan jumlah bulan dalam setahun.

Rancangan Sistem Kehidupan (Formulir Kedua Type B)

Rencana Tahunan Untuk Tahun………………..

 

 

Tujuan-tujuan Ibadah                      Tujuan-tujuan Pekerjaan Tujuan-tujuan Keluarga                      Tujuan-tujuan Pribadi Tujuan-tujuan Sosial

 

Bulan:……………………………….

 

No.

Tingkat

Urgensi

Tujuan-tujuan Yang Merupakan

Prioritas Utama Bulan Ini

Jenis

Tujuan

Hasil

 

 

 

 

 

Rancangan Sistem Kehidupan

Formulir Ketiga Rencana Harian

Minggu ke       Bulan       Tahun    

Prioritas-prioritas Minggu Ini

A

Harus

dilaksanakan

Telah

dilaksanakan

No

Tingkat

Urgensi

 

No

Tingkat

Urgensi

 

 

 

 

B

Harus dilaksanakan tetapi tidak sepenting point

“A”

 

 

 

 

 

Dipindah ke hari lain

 

 

 

1

 

 

 

 

 

 

4

 

 

 

C

Bisa dilaksanakan setelah point

“A” dan “B”

 

 

O

Diserahkan kepada orang lain

 

 

2

 

 

 

 

 

5

 

*

Tidak bisa

ditunda

x

Saya

batalkan

3

 

 

 

6

 

 

 

 

No.

Tingkat Urgensi

Sabtu

Tugas-tugas Yang Menjadi

Prioritas Utama

Waktu

Pelaksanaan

Keterangan

 

 

 

8

 

 

 

 

9

 

 

 

 

10

 

 

 

 

11

 

 

 

 

12

 

 

 

 

1

 

 

 

 

2

 

 

 

 

5

 

 

 

 

6

 

 

 

 

7

 

 

 

 

8

 

 

 

No.

Tingkat Urgensi

Ahad

Tugas-tugas Yang Menjadi

Prioritas Utama

Waktu

Pelaksanaan

Keterangan

 

 

 

8

 

 

 

 

9

 

 

 

 

10

 

 

 

 

11

 

 

 

 

12

 

 

 

 

1

 

 

 

 

2

 

 

 

 

5

 

 

 

 

6

 

 

 

 

7

 

 

 

 

8

 

 

Ingat pentingnya keseimbangan tujuan-tujuan pada rencana harian (ibadah, kerja, keluarga, pribadi dan sosial)

 

No.

Tingkat Urgensi

Senin

Tugas-tugas Yang Menjadi

Prioritas Utama

Waktu

Pelaksanaan

Keterangan

 

 

 

8

 

 

 

 

9

 

 

 

 

10

 

 

 

 

11

 

 

 

 

12

 

 

 

 

1

 

 

 

 

2

 

 

 

 

5

 

 

 

 

6

 

 

 

 

7

 

 

 

 

8

 

 

 

No.

Tingkat Urgensi

Selasa

Tugas-tugas Yang Menjadi

Prioritas Utama

Waktu

Pelaksanaan

Keterangan

 

 

 

8

 

 

 

 

9

 

 

 

 

10

 

 

 

 

11

 

 

 

 

12

 

 

 

 

1

 

 

 

 

2

 

 

 

 

5

 

 

 

 

6

 

 

 

 

7

 

 

 

 

8

 

 

 

 

No.

Tingkat Urgensi

Rabu

Tugas-tugas Yang Menjadi

Prioritas Utama

Waktu

Pelaksanaan

Keterangan

 

 

 

8

 

 

 

 

9

 

 

 

 

10

 

 

 

 

11

 

 

 

 

12

 

 

 

 

1

 

 

 

 

2

 

 

 

 

5

 

 

 

 

6

 

 

 

 

7

 

 

 

 

8

 

 

 

No.

Tingkat Urgensi

Kamis

Tugas-tugas Yang Menjadi

Prioritas Utama

Waktu

Pelaksanaan

Keterangan

 

 

 

8

 

 

 

 

9

 

 

 

 

10

 

 

 

 

11

 

 

 

 

12

 

 

 

 

1

 

 

 

 

2

 

 

 

 

5

 

 

 

 

6

 

 

 

 

7

 

 

 

 

8

 

 

 

 

Latihan Mempraktekkan Kebiasaan Menyusun Rencana

Setelah Anda mempelajari kebiasaan menyusun rencana dan mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengannya, sekarang apakah Anda telah mampu untuk menyusun rencana? Saya berharap Anda telah memiliki dua unsur  dari  kebiasaan ini, yaitu unsur pengetahuan dan keinginan, sehingga Anda sekarang membutuhkan unsur ketiga yaitu membentuk keahlian atau kemampuan untuk mempraktekkannya?

Berlatihlah untuk menyusun rencana dengan langkah- langkah sebagai berikut:

  • Ambillah formulir pertama (rencana tahunan), kemudian letakkanlah didalamnya tiga tujuan terpenting yang ingin Anda wujudkan pada tahun ini (tujuan-tujuan Anda harus jelas karena Anda telah mempelajari 3 kebiasaan yang telah lalu).
  • Berdasarkan tujuan-tujuan yang Anda tulis  pada formulir pertama, ambillah formulir kedua type B (formulir rencana bulanan) dan perbanyaklah menjadi 12

lembar, kemudian susunlah tujuan-tujuan  Anda  untuk satu tahun, maksudnya rubahlah 3 tujuan umum tersebut menjadi sejumlah tujuan, tugas dan langkah yang akan Anda kerjakan setiap bulan selama 12 bulan (1 tahun) berturut-turut.

  • Berdasarkan apa yang Anda kerjakan pada rencana  bulanan di atas, berpindahlah ke formulir harian (formulir ketiga), ambillah formulir tersebut  untuk satu minggu, kemudian berusahalah untuk menyusun  rencana Anda dalam satu minggu itu berdasarkan tujuan- tujuan yang ada pada bulan pertama. Untuk lebih jelasnya, ambillah bulan pertama dari tahun Hijriyyah (Muharram), lalu gambarkanlah tentang apa yang akan  Anda kerjakan pada minggu pertama dari bulan tersebut dengan maksud untuk mewujudkan tujuan-tujuan  yang  telah Anda tentukan dalam satu

Setelah Anda melatih diri dengan latihan semacam ini secara berulang-ulang, perbanyaklah formulir-formulir tersebut, lalu mulailah untuk menentukan rencana tahunan Anda yang sebenarnya (tujuan-tujuan apa saja yang ingin Anda wujudkan pada tahun ini). Kemudian rubahlah tujuan- tujuan tersebut menjadi tujuan-tujuan bulanan, mingguan  dan harian. Rencana ini harus menjadi bagian  dari kehidupan Anda. Masukkanlah rencana tersebut ke dalam tas Anda, atau letakkanlah di kantor atau rumah  Anda,  kemudian lakukanlah secara terus menerus setiap hari.

BAGIAN KELIMA

KEBIASAAN KELIMA: KONSENTRASI

 

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (al- Mu’minûn: 1-2).

Rasulullah SAW Bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai jika salah seorang di antara kalian mengerjakan suatu perbuatan, maka hendaknya ia menyempurnakannya.” (HR. Baihaqi).

Orang Bijak Berkata, “Sesungguhnya tugas yang paling  susah dalam suatu perbuatan (apapun jenisnya) adalah pada permulaannya.”

“Sesungguhnya seseorang akan meninggalkan dunia ini, dan tidak dicatat dari shoalatnya melainkan sepersepuluhnya saja, atau sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga atau setengahnya.” (HR. Ibnu hibban)

 

KONSENTRASI

Konsentrasi adalah kebiasaan kelima  dari  10 kebiasaan pribadi sukses. Yang saya maksud dengan konsentrasi di sini adalah memfokuskan perhatian pada tugas, tanggung jawab atau pekerjaan yang ada di hadapan Anda serta berusaha untuk melaksanakannya terus menerus hingga Anda benar-benar sampai pada tingkatan terakhir.  Hal ini menuntut adanya perhatian penuh terhadap tugas  atau pekerjaan Anda tanpa berpaling sedikit pun kepada hal-hal lain. Dengan definisi semacam ini,  maka  kita dapat mengetahui bahwa konsentrasi mencakup berbagai keahlian khusus seperti kemampuan menguasai dan  menundukkan diri, memaksanya untuk patuh, menentukan sejumlah prioritas dan mengetahui perinciannya secara mendetail, serta keahlian-keahlian lain seperti kemampuan untuk mengatur, melanjutkan, berkorban dan melaksanakan.

Kebiasaan “konsentrasi” ini merupakan kebiasaan yang  sangat berharga yang dapat dipelajari, dipraktekkan dan dikuasai. Kebiasaan ini menyempurnakan kebiasaan-  kebiasaan yang telah dijelaskan sebelumnya. Ketika Anda sedang mempraktekkan 4 kebiasaan yang lalu,  dan  Anda telah menentukan motto hidup Anda dan sisi-sisi keistimewaan didalamnya, menentukan tujuan-tujuan dan prioritas-prioritas Anda, kemudian Anda meletakkannya  dalam sebuah program kerja, maka sekarang Anda masuk ke tahap berikutnya yaitu tahap pelaksanaan.  Oleh  karena itu, maka di sini Saya akan menjelaskan tentang kebiasaan konsentrasi ini.

Pada awal pembahasan kita mengenai  kebiasaan tersebut, izinkanlah Saya melontarkan  sejumlah  pertanyaan:

  • Bagaimana tingkat kesempurnaan Anda dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaan dan tugas-tugas Anda?
  • Apakah Anda sangat memperhatikan kesempurnaan suatu pekerjaan ataukah kurang memperhatikannya?

-    Apakah

Anda  sangat  memperhatikan

masalah  kualitas

(mutu)

dari  pekerjaan Anda ataukah

Anda merasa cukup

dengan

batas-batas   minimal   yang

dibutuhkan   dalam

melaksanakan suatu tugas?

  • Apakah Anda merasa kesal dan bosan ketika sedang mengerjakan sebagian tugas Anda?
  • Apakah Anda berusaha untuk memilih sarana-sarana terbaik yang bisa Anda dapatkan ataukah Anda merasa cukup dengan sarana-sarana biasa yang ada di hadapan Anda?
  • Bagaimana tingkat konsentrasi Anda dalam melakukan pekerjaan?
  • Apakah Anda memfokuskan perhatian pada upaya untuk menyempurnakan tugas-tugas yang Anda lakukan ataukah Anda berusaha untuk menundanya?

  • Apakah Anda cukup berani untuk menghadapi berbagai resiko dan kesulitan yang muncul ataukah Anda akan mundur dengan cepat ketika menghadapi sejumlah hambatan?
  • Apakah Anda memiliki jiwa “inisiatif” ataukah Anda selalu menunggu orang lain memberitahukan kepada Anda tentang apa yang harus Anda kerjakan?
  • Apakah Anda dapat memanfaatkan dengan baik semua kesempatan yang Anda jumpai dalam kehidupan Anda?

Jawaban-jawaban yang jujur atas  pertanyaan- pertanyaan tersebut dapat menjadikan seseorang menilai dirinya sendiri dan dapat mengetahui titik-titik kekuatan dan kelemahan yang ada dalam dirinya. Saya tidak dapat memastikan bahwa Anda akan menjawab “ya” atau “tidak”  dalam berbagai keadaan yang berbeda-beda. Sebab kondisi kejiwaan seseorang dipengaruhi oleh sejumlah faktor, sehingga pada suatu keadaan tertentu, mungkin Anda akan menjawab “ya”, sedangkan pada keadaan yang lain,  Anda  akan menjawab “tidak”.

Ingatlah bahwa pada 4 kebiasaan  yang  lalu, pembahasan kita selalu terkait dengan masalah ide, imajinasi, dan kejelasan sejumlah tujuan, serta  upaya untuk meletakkan tujuan-tujuan tersebut pada sebuah  program kerja. Sedangkan pada kebiasaan ini kita akan memfokuskan pembahasan pada cara-cara mengerjakan, melaksanakan, menyempurnakan, dan mengawasi tujuan-tujuan tersebut dengan maksud untuk merealisasikannya. Oleh  karena itu, sekarang kita sedang  membicarakan  tentang satu kebiasaan yang sangat penting. Jika kita tidak membentuk, memperhatikan dan mengembangkannya, maka kita tidak akan sampai kepada hal-hal yang telah kita tentukan dan penting dalam kehidupan kita.

Ada dua jenis konsentrasi:

  • Umum: yaitu konsentrasi pada suatu profesi, tujuan besar, spesialisasi, atau bidang-bidang yang menjadi perhatian.
  • Khusus: yaitu konsentrasi pada sebuah tugas, pekerjaan,

atau tanggung jawab serta  mengawasi  pelaksanaannya  hingga selesai.

Upaya untuk mewujudkan kesuksesan dan  keunggulan dalam hidup ini merupakan perpaduan antara kedua jenis konsentrasi tersebut. Konsentrasi umum yang  tidak dibarengi dengan konsentrasi khusus tidak  dapat  mewujudkan sesuatu yang dikehendaki, sebagaimana jika konsentrasi khusus tidak dikaitkan dengan  konsentrasi  umum yang akan mengarahkan dan mengaturnya, maka ia tidak dapat mewujudkan sesuatu yang dikehendaki oleh seseorang dalam hidupnya.

Pada dasarnya, konsentrasi dalam kehidupan seorang manusia dianggap sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah SWT dan merupakan fenomena langka yang dapat mengundang kekaguman atau perhatian orang lain. Tidakkah  Anda  melihat bahwa tingkat kesuksesan dan terwujudnya tujuan- tujuan kita dalam kehidupan ini sangat ditentukan oleh tingkat kosentrasi kita? Pernahkah Anda perhatikan bahwa kemampuan untuk berkonsentrasi telah  berhasil  mengantarkan banyak orang, baik laki-laki maupun  perempuan, yang memiliki potensi-potensi rendah atau biasa-biasa saja kepada puncak kesuksesan yang sulit dicapai, bahkan oleh orang-orang jenius sekalipun?  Ingatkah Anda salah seorang dari mereka atau apakah Anda mengenalnya?

Dua tahun setelah Saya menamatkan studi  di Universitas King Sa’ud, Saya bekerja sebagai  pembantu dosen di jurusan Bahasa Inggris pada universitas yang  sama, lalu saya ikut andil dalam  kegiatan  pengumpulan data yang merupakan bagian dari sebuah penelitian besar.

Pembimbing penelitian ini adalah salah seorang dosen Saya yang berkewarganegaraan Arab Saudi dan baru saja menyelesaikan studinya di Amerika. Meskipun baru menyelesaikan studinya itu, akan tetapi berkat semangat  dan ketekunannya, maka ia pun berhasil menjadi dekan di salah satu fakultas pada saat itu. Ketika saya sedang melakukan proses pengumpulan data di salah satu  wilayah  di Arab Saudi, seorang kepala sekolah menengah umum bertanya kepada saya, “Siapa pembimbing Anda dalam penelitian ini?” Maka, saya pun memberitahukan kepadanya nama pembimbing penelitian ini. Orang itu sangat terkejut dan berkata kepada saya, “Bagaimana ia bisa menjadi dekan dan pemimbing dalam sejumlah penelitian?” Saya pun balik bertanya kepadanya, “Apakah Anda mengenalnya?”  Ia menjawab, “Dia adalah temanku. Saya dulu seangkatan dengannya ketika belajar di universitas.  Ia  mahasiswa yang biasa-biasa saja seperti  mahasiswa-mahasiswa  lainnya. Bagaimana mungkin ia bisa  menyelesaikan  kuliahnya dengan baik, menjadi dekan dan mencapai keunggulan dalam sejumlah penelitian? Pada saat itu, kesanku terhadap dekan tersebut sangat berbeda  dengan kesan sang kepala sekolah. Sebab pada kenyataannya, dekan tersebut merupakan dosen di Arab Saudi yang paling banyak memiliki keistimewaan (kelebihan). Tidak diragukan lagi bahwa hal yang membedakan antara sang dekan dengan sang kepala sekolah itu adalah tingkat konsentrasi masing- masing. Saya tidak tahu apakah kepala sekolah itu masih hidup ketika sang dekan berhasil mencapai kedudukan tertinggi dalam hidupnya yaitu ketika ia  memimpin  sejumlah lembaga dan kemudian diangkat sebagai menteri. Menurut saya, ia adalah menteri yang paling  baik  di antara menteri-menteri lainnya.

Pada hakekatnya, konsentrasi dengan  dua  jenisnya itu, yaitu kosentrasi umum yang ditujukan pada sebuah

profesi, spesialisasi ataupun bisnis, dan konsentrasi khusus yang ditujukan pada sebuah  pekerjaan,  tugas ataupun tanggung jawab, dianggap sebagai kunci utama dari sebuah kesuksesan –tentunya atas pertolongan Allah SWT. Apakah Anda masih ingat contoh kesuksesan dalam kehidupan pribadi Anda yang disebabkan karena faktor konsentrasi  ini, demikian pula kesuksesan-kesuksesan dalam hubungan Anda dengan Tuhan, dengan keluarga, serta tujuan-tujuan lainnya? Apakah Anda juga ingat beberapa contoh kegagalan dalam mewujudkan tujuan-tujuan Anda yang  disebabkan  karena tidak adanya konsentrasi tersebut? Tidak diragukan lagi bahwa jika Anda mau  berfikir dan  mengingat-ingat masa lalu Anda, niscaya Anda dapat menemukan  banyak  contoh untuk hal tersebut.

Sebelum kita membicarakan tentang sebagian petunjuk yang dapat membantu Anda dalam  membentuk  dan mengembangkan kebiasaan konsentrasi, izinkanlah  Saya  untuk menerangkan kepada Anda tentang  kendala-kendala  yang dapat menyebabkan Anda tidak bisa berkonsentrasi.

Menurut Anda, apa kendala-kendala terpenting yang menyebabkan Anda tidak bisa berkonsentrasi?

Sebab-sebab yang menjadikan Saya  tidak  bisa melakukan konsentrasi jenis umum (konsentrasi pada bidang atau spesialisasi tertentu) adalah:

1-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………….

2-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………..

3-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………..

4-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………..

5-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………..

6-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Adapun sebab-sebab yang menjadikan Saya tidak bisa melakukan konsentrasi jenis khusus adalah:

1-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………….

2-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………..

3-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………….

4-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………..

5-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………..

6-  …………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Sekarang lihatlah hambatan-hambatan yang dapat mengganggu konsentrasi sebagai berikut:

  • Di antara hambatan terpenting yang dapat mengganggu konsentrasi seseorang adalah penyelaan (penghentian) pekerjaan yang terjadi berkali-kali. Penyelaan semacam ini –baik penting maupun tidak penting- dapat memalingkan perhatian seseorang dari pekerjaan yang harus dilaksanakannya, bahkan dapat mengakibatkan seseorang akan gagal untuk sampai pada titik akhir. Terkadang penyelaan ini juga dapat memperpanjang waktu yang diperlukan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, serta dapat menyebabkan kegagalan dan tidak efektifnya pekerjaan tersebut. Para pakar telah memberikan  nasehat kepada kita untuk melakukan  latihan-latihan yang berfungsi memperkecil intensitas penyelaan tersebut, serta membiasakan diri untuk melakukan pekerjaan atau tugas dengan konsentrasi  Seseorang yang tidak dapat berkonsentrasi  karena  adanya sejumlah penyelaan diibaratkan sebagai  orang yang menderita penyakit “kupu-kupu”, karena  ia berpindah dari satu tugas ke tugas yang lain dan dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain sebelum ia menyelesaikan pekerjaan yang ditanganinya. Dalam hal ini, ia seperti kupu-kupu yang selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Apakah Anda pernah melihat orang yang menderita penyakit semacam ini?
  • Di antara hambatan terpenting yang sering menghalangi seseorang dalam berkonsentrasi adalah tidak adanya keahlian-keahlian tertentu yang dibutuhkan dalam berkonsentrasi. Sebab, konsentrasi ini terdiri dari sejumlah keahlian, dimana keahlian-keahlian tersebut tidaklah berbeda dengan keahlian-keahlian lainnya yang berkaitan dengan akal yang dapat dipelajari dan

dibiasakan. Orang-orang yang telah

meraih

kesuksesan,

baik  laki-laki  maupun  perempuan,

telah

mempelajari

keahlian-keahlian   tersebut  dalam

waktu

yang  tidak

sebentar hingga akhirnya keahlian-keahlian itu  pun telah menjadi bagian dari kehidupan mereka,  bahkan telah menjadi bagian dari titik-titik kekuatan yang   ada pada diri mereka.

  • Hambatan lain yang juga dapat mengganggu konsentrasi seseorang adalah banyaknya kesibukan, perhatian dan ikatan dengan berbagai pihak. Seiring dengan  perputaran waktu, baik disadari ataupun tidak, banyak orang yang menemukan dirinya telah berada pada kondisi semacam itu. Hal ini bisa disebabkan karena sejumlah faktor, diantaranya adalah keinginan untuk memperoleh prestasi atau penghasilan yang sangat banyak, dan terkadang juga disebabkan karena adanya apresiasi  kepada seseorang yang berasal dari orang banyak bahwa  ia memiliki sejumlah kemampuan dan kelebihan sehingga mereka pun melontarkan sejumlah tanggung jawab dan pekerjaan kepadanya. Tidak diragukan lagi  bahwa  kondisi semacam ini dapat mengurangi efektifitas kerja seseorang, mengacaukan pikirannya dan dapat menanamkan keyakinan dalam dirinya bahwa ia bisa melakukan banyak pekerjaan dan tugas, tetapi pada kenyataannya hasil  dari pekerjaan-pekerjaannya itu tidak berpengaruh bagi kehidupannya, sebagaimana dikatakan oleh orang bijak: “Seseorang yang memberikan sebagian waktunya untuk melakukan semua hal, pada akhirnya ia akan  keluar dengan tidak membawa sesuatu
  • Salah satu hambatan terpenting yang dapat menghalangi konsentrasi seseorang adalah rendahnya tingkat kesabaran dan tidak adanya kemampuan untuk memikul beban. Sebab, tidak sedikit pekerjaan yang membutuhkan semangat tinggi, nafas panjang, kekuatan untuk

memanage, dan kemampuan untuk  menaklukkan  diri sehingga seseorang mau melakukan pekerjaannya terus. Jika kemampuan-kemampuan ini tidak dimiliki oleh seseorang, maka ia akan mundur dari pekerjaannya atau akan menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan yang lebih ringan. Oleh karena itu, tidaklah heran jika  sabar merupakan nilai yang sangat agung di antara nilai-nilai lainnya yang dibutuhkan dalam mewujudkan suatu keunggulan. Sabar juga merupakan sebuah nilai  yang telah menyebabkan terkenalnya para pemimpin, diantaranya adalah para nabi. Lihatlah bagaimana Allah SWT memuji para nabi-Nya dalam sejumlah ayat Al-Qur’an karena mereka telah bersabar dalam berdakwah kepada  kaum mereka. Sebagaimana Allah SWT juga telah memerintahkan kepada orang muslim untuk bersabar dan menguatkan kesabarannya, Allah berfirman: “Hai orang- orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (Ali ‘Imrân: 200). Dalam ayat tersebut, bersabar, menguatkan keteguhan, dan bersiap siaga merupakan nilai-nilai agung yang mengarah kepada kontinuitas dan kemampuan untuk memikul beban dengan tujuan untuk mewujudkan prinsip-prinsip dan tujuan- tujuan kita dalam hidup ini.

  • Di antara hambatan yang juga dapat mengganggu konsentrasi seseorang adalah tidak adanya  motivasi atau dorongan. Ini merupakan satu hal yang pernah dirasakan oleh kita semua dalam kehidupan ini. Ketika kita sedang berhadapan dengan satu tugas atau tanggung jawab, tetapi kita tidak memiliki keinginan, motivasi atau dorongan untuk melakukannya, maka kita akan berusaha untuk melarikan diri dari tanggung jawab tersebut atau kita akan melakukannya di bawah tekanan

orang lain tanpa adanya perhatian atau konsentrasi sedikitpun. Apakah Anda dapat mengingat kembali  sebagian tugas yang telah Anda hadapi pada minggu ini tetapi Anda tidak memiliki  motivasi  untuk melakukannya?

  • Selain itu, di antara faktor yang dapat menghambat konsentrasi adalah tidak jelasnya visi yang berkaitan dengan suatu tugas dan pekerjaan atau tidak jelasnya tujuan yang ingin diwujudkan oleh   Mungkinkah seseorang dapat  berkonsentrasi  dalam kondisi semacam itu? Saya yakin hal itu tidaklah mungkin. Sebab, memperjelas visi dan menentukan tujuan serta langkah-langkah yang  diperlukan  merupakan sesuatu yang harus ada  sebelum  seseorang berkonsentrasi dalam menjalankan tugas atau pekerjaannya.
  • Faktor lain yang juga dapat menganggu konsentrasi adalah letih atau capai. Hal ini disebabkan karena manusia memiliki kemampuan yang  terbatas,  sehingga jika ia dibebani dengan sesuatu yang melebihi batas kemampuannya, maka ia tidak dapat meneruskan pekerjaannya dengan baik. Tidak diragukan lagi bahwa konsentrasi membutuhkan kondisi fisik dan batin yang stabil. Selain itu, di antara yang termasuk hambatan adalah perasaan gelisah, takut dan emosi-emosi lainnya yang menguat. Hal-hal tersebut merupakan aspek-aspek kejiwaan yang dapat mempengaruhi tingkat konsentrasi secara
  • Di antara hambatan yang juga dapat mengganggu konsentrasi seseorang adalah adanya  sikap-sikap negatif tertentu. Sebagai contoh, jika  Anda mendengarkan perkataan seseorang yang tidak Anda sukai atau teman yang sedang bermusuhan dengan Anda, apakah Anda yakin dapat menangkap dan memahami perkataannya

secara sempurna? Pada umumnya,  perasaan-perasaan negatif yang ada dalam diri Anda tidak dapat membantu Anda dalam memahami atau berkonsentrasi. Mungkin hanya segelintir orang saja yang dapat mengatasi hambatan semacam ini ketika sedang mengerjakan tugas atau berinteraksi dengan orang lain.

Inilah hambatan-hambatan penting yang  dapat mengganggu konsentrasi seseorang, dan mungkin  masih  banyak lagi hambatan-hambatan lain yang Anda jumpai dalam kehidupan Anda, seperti sakit dan  lain  sebagainya. Setelah Anda mengetahui tentang hal-hal yang dapat menghambat konsentrasi Anda, izinkan Saya untuk memperkenalkan cara-cara yang dapat membantu Anda dalam meningkatkan konsentrasi.

Di bawah ini, kita akan  mempelajari  secara terperinci tentang hal-hal penting yang dapat membantu  kita dalam membentuk kebiasaan konsentrasi, sehingga – dengan izin Allah- kita akan sampai pada tingkat kinerja dan efektifitas yang tinggi. Di antara hal-hal yang dimaksud adalah:

  • Memilih sarana
  • Bersegera melaksanakannya
  • Tidak menunda-nunda pekerjaan
  • Menghadapi dan menyelesaikan permasalahan (kesulitan)

 

 

 

Memilih Sarana

Masih ingatkah Anda berapa kali Anda mengalami kegagalan dalam menjalankan suatu tugas, pekerjaan atau ketika menjalin hubungan dengan orang  lain  yang disebabkan karena sarana yang Anda gunakan tidak tepat? Sarana-sarana yang kita gunakan dalam mewujudkan tujuan- tujuan merupakan satu hal yang sangat penting,  oleh  karena itu kita harus memikirkan dan memperhatikan dampak

dari sebuah sarana sebelum kita menggunakannya. Terkadang waktu yang ada tidak cukup untuk melakukan hal tersebut, dan terkadang karena kondisi-kondisi tertentu, kita tidak dapat menggunakan dengan baik sarana-sarana yang telah  kita pilih. Oleh karena itu, satu hal penting yang berkaitan dengan penggunaan sarana ini adalah berfikir secara fleksibel dan bebas, menghadirkan lebih dari satu sarana, membandingkan antar sejumlah sarana (atau alternatif) dan memilih sarana yang terbaik menurut Anda. Ketahuilah bahwa musuh terkuat bagi  efektifitas  kerja Anda adalah sikap Anda yang membatasi sarana yang  digunakan yaitu dengan satu sarana saja dan  tidak  berfikir untuk mencari alternatif lain.

 

Evaluasi Diri

Bagaimana Anda menilai diri Anda sendiri dalam kaitannya dengan keahlian untuk memilih sarana?

Bacalah pernyataan-pernyataan berikut ini, kemudian letakkan tanda ( √ ) pada kolom yang dapat menggambarkan pendapat Anda sendiri!

 

 

Pernyataan

Sering

Kadang-

kadang

Jarang

1- Sebelum Saya menggunakan suatu sarana guna mewujudkan tujuan- tujuan saya, terlebih dahulu Saya

akan mensurvei kelayakannya.

 

 

 

2- Saya  menggunakan  sarana       terbaik

setelah    saya           membandingkannya dengan sarana-sarana lain.

 

 

 

3- Saya mencari sarana-sarana yang dapat memperingan usaha  saya serta mengurangi waktu dan biaya

yang dikeluarkan.

 

 

 

4-Saya menggunakan sarana-sarana yang biasa saya gunakan sehingga saya dapat menggunakannya tanpa

berfikir panjang terlebih dahulu.

 

 

 

5-   Saya   takut   untuk   mencoba

menggunakan sarana-sarana baru.

 

 

 

6- Saya menghadapi dengan hati yang lapang semua dampak negatif yang disebabkan karena saya

menggunakan sarana-sarana baru.

 

 

 

7- Saya memberikan dorongan kepada teman-teman agar mau berinovasi dan memperbarui sarana-sarana

yang digunakannya.

 

 

 

8- Saya suka inovasi atau menemukan hal-hal baru dan saya tidak suka

pada rutinitas.

 

 

 

9- Saya selalu memikirkan sarana- sarana baru guna memperkuat hubungan dengan orang-orang yang

dekat dengan Saya.

 

 

 

10- Saya dapat mengingat sarana- sarana baru yang telah Saya gunakan dalam menjalani pekerjaan

pada tahun yang lalu.

 

 

 

11-  Saya  terkenal  sebagai     seorang

yang menyukai perubahan.

 

 

 

12- Menggunakan sarana-sarana baru dapat membebani saya karena saya harus mengerahkan usaha lebih banyak, dan saya tidak siap untuk

melakukan hal tersebut.

 

 

 

13- Lingkungan  tempat  saya                bekerja

 

 

 

menghalangi   adanya   pembaharuan

dan inovasi.

 

 

 

14- Saya yakin bahwa ada motivasi- motivasi tertentu, baik bersifat materi maupun immateri, yang mendorong banyak orang untuk mencoba menggunakan sarana-sarana

baru.

 

 

 

15- Sesulit apapun kondisi yang dihadapi seseorang, tetapi saya yakin bahwa memperbarui sarana merupakan satu hal yang sangat diperlukan dalam mewujudkan

kesuksesan.

 

 

 

 

Berapa kalikah Anda tidak berhasil dalam melakukan suatu pekerjaan tertentu, padahal setelah itu Anda baru mengetahui bahwa sebenarnya Anda dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut, memiliki waktu dan tenaga yang cukup untuk melakukannya, dan dapat menghindari kegagalan, seandainya Anda memiliki sarana yang cocok?  Sebagian  besar dari kita menganggap sarana sebagai sesuatu yang bersifat materi dan dapat diindera, tetapi di sini saya menggunakan kata “sarana” tersebut dengan pengertian yang lebih luas.

Sarana didefinisikan sebagai segala sesuatu  yang dapat membantu Anda dalam mewujudkan tujuan-tujuan Anda. Apapun bentuk kegiatan dan tujuan yang Anda lakukan pasti membutuhkan adanya penggunaan sarana-sarana  tertentu.  Jika Anda adalah seorang akuntan, misalnya, maka sarana- sarana yang Anda perlukan adalah: komputer, pensil,  kertas, mesin hitung, kecakapan akademis dan sejumlah pengalaman. Jika Anda adalah seorang guru, maka sarana- sarana yang Anda perlukan adalah papan tulis, buku, alat-

alat peraga dan lain sebagainya. Contoh-contoh sarana lainnya adalah seperti mobil, pesawat telepon, daftar statistik, surat kabar, bahasa-bahasa asing, dan lain sebagainya.

Sebelum Anda mulai mengerjakan suatu tugas atau mewujudkan suatu tujuan, maka Anda harus menentukan sarana-sarana yang diperlukan dengan tujuan agar  Anda dapat menyelesaikan tugas tersebut dengan  sukses,  dan Anda juga harus menggunakan alat-alat terbaik yang tersedia. Pada dasarnya, satu hal yang membedakan antara orang-orang jenius yang memiliki tingkat konsentrasi  tinggi dengan orang-orang biasa adalah tingkat kemampuan mereka dalam memilih sarana-sarana dan alat-alat yang sesuai dengan pekerjaan mereka.

Inisiatif

Inisiatif adalah segera melaksanakan  pekerjaan,  cepat menyelesaikannya dan mengevaluasi tugas-tugas. Inisiatif merupakan sarana yang efektif dan efisien dalam mewujudkan tingkat efektifitas tertinggi seseorang. Sikap ini bersumber dari rasa percaya diri  yang  tinggi, positive thinking (berfikir positif), siap mengemban tanggung jawab, serta tingkat kematangan yang  tinggi. Tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut merupakan bukti bahwa motivasi-motivasi yang mendorongnya adalah motivasi-motivasi yang bersifat internal (berasal dari dalam) dan bahwa yang menggerakkannya melakukan tugas adalah dirinya sendiri. Ingatlah bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia dalam keadaan bebas untuk menentukan dan memilih perbuatannya sendiri. Allah SWT juga telah memerintahkan kepada manusia untuk bersegera dalam melaksanakan pekerjaan, kemudian Dia mendidik manusia  untuk menundukkan nafsunya dan memegang tali kendalinya. Allah SWT berfirman, “Dan bersegeralah  kamu  kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”, (Ali ‘Imrân: 133), “Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu sendiri niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah”, (al-Muzzammil: 20), “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan  keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”, (al-Tahrîm: 6), dan juga berfirman, “Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan.” (al-Baqarah: 148). Seseorang yang memperhatikan ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah SAW, maka ia akan menemukan anjuran untuk bersegera, baik dalam hal  keimanan, menghias diri dengan akhlak yang mulia, menerapkan syariat Allah dalam kehidupan ini, bekerja di

muka bumi, dan berusaha dalam mewujudkan tingkat  keunggulan dan kesuksesan.

Tidak diragukan lagi bahwa hal-hal yang penting bagi kehidupan manusia, baik dalam beribadah  maupun  memakmurkan bumi, merupakan hal-hal yang didasarkan pada prinsip bersegera yang positif, sedangkan kebalikannya adalah prinsip bersegara yang negatif yaitu  sebuah  prinsip yang mengarah kepada kekafiran, kemaksiatan dan perusakan terhadap kehidupan pribadi dan sosial. Ketika kita mengamati kehidupan kita, maka kita akan melihat  bahwa sikap bersegera dalam melakukan pekerjaan telah memainkan peran yang besar dalam kehidupan kita. Sebab, berbagai aspek kehidupan kita seperti hubungan yang  positif dengan orang lain, menyempurnakan pekerjaan, mengikuti dan mengawasi tujuan-tujuan yang telah kita tentukan, merupakan aspek-aspek yang membutuhkan adanya sikap bersegera dalam melakukan pekerjaan.

Lalu, di mana posisi Anda sekarang dalam kaitannya dengan sikap suka mengambil inisiatif ini? Apakah Anda adalah orang yang suka berinisiatif, atau selalu menunggu orang lain mendahului Anda? Apakah Anda segera mengemban tanggung jawab-tanggung jawab dan melaksanakan tugas-  tugas Anda, atau Anda telah menemukan  adanya  kecenderungan untuk bersikap malas dan suka menunda-nunda pekerjaan dalam diri Anda? Apakah Anda selalu menunggu orang lain untuk mengingatkan Anda tentang apa yang harus Anda kerjakan? Bacalah ungkapan-ungkapan yang  tertera  pada formulir di bawah ini, kemudian berikanlah jawaban Anda!

Janganlah Anda bersikap keras dalam  menilai  diri Anda sendiri, karena sikap inisiatif dalam melakukan pekerjaan adalah seperti usaha-usaha manusia lainnya yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti waktu, tempat   dan lingkungan sosial. Oleh karena itu, mengukur besar

kecilnya sikap tersebut dalam diri seseorang merupakan sesuatu yang bersifat relatif, tetapi yang terpenting di sini hendaknya Anda menilai diri Anda  sendiri  secara umum, kemudian Anda mulai memperbaiki perilaku-perilaku Anda dengan berdasar pada penilaian tersebut.

Sebagian orang tidak mau melakukan inisiatif kecuali jika ia merasa bersalah, sedangkan sebagian yang lain justru akan meninggalkan inisiatif jika dirinya terus menerus diliputi perasaan bersalah. Kedua hal tersebut merupakan musuh besar bagi efektifitas kerja seseorang. Namun kondisi pertama lebih ringan daripada  kondisi  kedua.

Sikap inisiatif yang paling utama adalah sikap yang bertolak dari reaksi untuk memenuhi dua hal. Pertama apa yang harus dikerjakan sekarang. Ini merupakan reaksi dari hal-hal yang penting dan segera yang harus dihadapi. Sedangkan hal kedua adalah membuat langkah-langkah dan tindakan-tindakan yang harus dikerjakan guna mewujudkan tujuan-tujuan yang telah kita tentukan sebelumnya. Hal pertama merupakan upaya untuk memenuhi  kebutuhan  pada saat sekarang, sedangkan hal kedua merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan pada saat yang akan datang. Jika Anda ingin mengukur tingkat atau besarnya sikap inisiatif yang ada dalam diri Anda, maka perhatikanlah cara yang Anda gunakan dalam keseharian dan bagaimana Anda bereaksi terhadap dua hal tersebut.