Fashion

BERUSAHA MENCAPAI KEUNGGULAN

Thursday 21 April 2016 - 17:30:00
DeathtoStock_Portraits-4-840x512.jpg

BERUSAHA MENCAPAI KEUNGGULAN

 

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik.” (al-Anbiyâ’: 90).

Rasulullah SAW bersabda, “Iman memiliki 70 cabang lebih.

Cabang yang tertinggi adalah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan cabang yang terendah adalah menyingkirkan sesuatu yang berbahaya dari jalan. Dan malu merupakan cabang iman.” (HR. Bukhari Muslim).

Orang yang paling dekat di antara kalian denganku di hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Turmudzi).

Sesungguhnya Allah suka jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, maka hendaknya ia menyempurnakannya.” (HR. Baihaqi).

 

KEBIASAAN PERTAMA: BERUSAHA MENCAPAI KEUNGGULAN

 

Kebiasaan ini merupakan salah satu dari 10 kebiasaan pribadi sukses yang terpenting. Adapun yang dimaksud  dengan kebiasaan berusaha mencapai keunggulan adalah berusaha dengan tekun dan terus menerus guna mencapai keunggulan dalam hidup. Hal ini mengandung pengertian selalu berusaha untuk menjaga perkembangan diri yaitu dengan meningkatkan kualitas keimanan, akhlak, hubungan dengan sesama manusia, dan memanfaatkannya untuk merealisasikan motto hidup Anda. Dari sini,  maka  kebiasaan “berusaha mencapai keunggulan” dalam hidup Anda terdiri dari 3 aspek penting, yaitu:

Pertama: Selalu berusaha untuk meningkatkan  keimanan  Anda.

Kedua: Selalu berusaha untuk meningkatkan keahlian,

pengetahuan dalam bidang tertentu, produktifitas, optimalisasi, dan efektifitas dalam pekerjaan  atau  profesi Anda.

Ketiga: Selalu berusaha untuk meningkatkan hubungan yang positif dengan orang lain.

 

Di mana posisi Anda dalam kaitannya dengan ketiga aspek tersebut?

Aspek pertama: (Iman): Iman merupakan faktor yang sangat menentukan. Faktor ini diperoleh dengan menjalin hubungan dengan Allah SWT secara terus menerus. Jika Anda memiliki hubungan yang kuat dengan Allah SWT dan tingkat keimanan yang tinggi, maka Anda dapat merealisasikan

motto hidup Anda secara efektif. Sebagaimana diketahui, iman merupakan sebuah aspek dalam kehidupan kita yang bersifat sensitif, maksudnya pada suatu ketika ia dapat meningkat karena adanya beberapa faktor, seperti bertambahnya ilmu, keikhlasan dalam beribadah, serta  adanya usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah  SWT.  Tapi pada saat yang lain ia akan menurun karena adanya sejumlah faktor, seperti sibuk dengan urusan  duniawi, malas dan lalai. Adapun tujuan inti dari “kebiasaan mencapai keunggulan” ini adalah menjaga agar aspek  keimanan tersebut tetap bergerak terus menuju ke tingkat yang lebih tinggi serta mencari sarana-sarana dan metode- metode yang dapat menjaga gerak keimanan dari bawah ke atas.

Sebagaimana diketahui pula, agama kita yang agung   ini telah memberikan sebuah kerangka yang bersifat menyeluruh dan bertujuan untuk membantu kita dalam  berusaha mencapai keunggulan dalam aspek ini (aspek keimanan). Dalam beragama, ada batas-batas tertentu yang dianggap sebagai batas terendah yaitu melaksanakan ibadah-ibadah fardhu (wajib). Di  atas  batas-batas terendah ini, seorang muslim akan membangun bangunan- bangunan keunggulan dan tingkat keimanan yang tinggi. Adapun sarana yang digunakan untuk sampai pada tingkat tersebut adalah segala sesuatu baik perkataan, perbuatan, maupun niat, yang dapat mendekatkan seseorang  kepada  Allah SWT. Kita semua telah mengetahui bahwa keimanan seseorang dapat bertambah ataupun berkurang, ia akan bertambah dengan ketaatan dan ibadah, serta  akan  berkurang dengan kelalaian dan kealpaan. Berusaha untuk mencapai keunggulan dalam aspek keimanan ini diibaratkan seperti gerak naik melalui tangga yang dilakukan secara terus menerus hingga sampai pada tingkat yang tertinggi. Sebab dilihat dari aspek keimanan, kehidupan ini adalah

seperti sebuah tangga, dimana Anda dapat naik ke atas dan

 

dapat pula turun

ke bawah.

 

Imam   Ibnu

al-Qayyim

rahimahullah

menjelaskan:

“Seorang hamba adalah selalu dalam keadaan  bergerak,  tidak berhenti. Ia dapat bergerak ke atas ataupun  ke bawah, ke depan ataupun ke belakang. Dalam syariat, tidak dikenal istilah “berhenti total”, yang ada hanyalah perbedaan kecepatan dalam menempuh jalan ke surga atau neraka, ada yang cepat dan ada yang lambat, ada yang bergerak maju dan ada yang mundur. Dalam menempuh jalan tersebut, tidak ada seorang pun di antara manusia yang berhenti  sama  sekali,  mereka  hanya  berbeda  tujuan dan

tingkat   kecepatan.

Sebagaimana   firman

Allah

SWT,

Sesungguhnya  Saqar

itu  adalah  salah  satu

bencana

yang

amat  besar,  sebagai

ancaman  bagi  manusia,

(yaitu)

bagi

siapa di antaramu yang berkehendak akan  maju  atau mundur.” (al-Muddatstsir: 35-37). Pada  ayat-ayat  tersebut, tidak diisyaratkan adanya orang yang berhenti. Hal ini disebabkan karena tidak ada satu tempat pun yang berada di antara surga dan neraka, serta tidak satu jalan pun yang menuju ke sebuah tempat selain surga dan neraka. Oleh karena itu, barangsiapa yang tidak bergerak maju dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang shaleh (baik), maka berarti ia bergerak ke belakang dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Madârij  al-Sâlikîn), hal. 292).

Kebiasaan berusaha mencari keunggulan ini dapat menyebabkan seseorang memperoleh kebaikan dan  hidayah  yang lebih daripada hari-hari sebelumnya. Allah SWT telah mengisyaratkan hasil yang akan diperoleh seseorang jika   ia berusaha untuk mencapai keunggulan dalam  aspek  keimanan ini. Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (al-

Ankabût: 69). Pada ayat yang lain, Allah SWT juga berfirman, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 261). Rasulullah SAW telah mengisyaratkan hal tersebut dalam sebuah hadits Qudsi yang  berbunyi,  “Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Dan barangsiapa yang mendekat kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa. Barangsiapa yang datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku akan mendatanginya dengan cepat (bergegas). Dan barangsiapa yang menyebut-Ku dalam sekelompok orang, maka Aku akan menyebutnya dalam sekelompok orang yang lebih baik dari kelompok mereka.” (HR. Bukhari Muslim).

Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadits Qudsi yang lain, “Hamba-Ku selalu mendekat kepada-Ku dengan ibadah- ibadah sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang  dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, menjadi kakinya yang dia  gunakan untuk berjalan, dan menjadi tangannya yang dia gunakan untuk menangkap. Jika dia meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, maka Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari).

Berusaha untuk mencapai keunggulan dalam aspek keimanan terkadang dapat dilakukan dengan melakukan hal- hal atau perbuatan-perbuatan yang besar, seperti mengerahkan jiwa dan raga untuk  berjuang fi  Sabilillah (di jalan Allah) dalam medan pertempuran, dan terkadang dilakukan dengan hal-hal atau perbuatan-perbuatan yang

kecil seperti memberikan dana bantuan, menanggung anak yatim yang ditinggal kedua orang tuanya,  mempelajari  salah satu bidang agama, mencetak sebuah buku yang bermanfaat, melaksanakan shalat atau puasa  sunah, menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, dan memberikan  teladan  yang baik kepada anak.

Berusaha untuk mencapai keunggulan dalam aspek keimanan ini merupakan faktor yang sangat  menentukan  dalam upaya mewujudkan kebahagiaan dan  kepuasaan  jiwa baik dalam kehidupan manusia di dunia ini maupun  di akhirat nanti. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang- orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal didalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (al-Ahqâf: 13-14). Kemudian pada ayat  yang lain, Allah SWT juga berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah  dijanjikan  Allah kepadamu.’ Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat.’” (Fushshilat: 30-31).

Pada dasarnya, perjalanan hidup seorang manusia  sangat terkait dengan aspek keimanan ini. Jika kehidupan manusia tidak dibangun di atas aspek ini, maka  kehidupannya tidak akan berarti. Tanpa aspek ini pula, manusia tidak dapat memanfaatkan segudang pengetahuan dan kepandaian yang dimilikinya. Allah  SWT  telah menggambarkan kondisi orang-orang yang tidak memenuhi kehidupannya dengan aspek keimanan ini dalam firman-Nya, “Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu

tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”  Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu  orang-orang  yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (al-Kahfi: 103- 105).

Hilangnya iman dapat merobohkan semua pengetahuan, kemahiran, kemampuan dan keinginan. Pada saat itu, suatu pengetahuan tidak dianggap penting, meskipun sangat berharga dan bermanfaat. Pada saat itu pula, suatu keinginan atau tujuan tidak akan bermanfaat, meskipun faktor-faktor pendorongnya baik dan niatnya  benar.  Seorang kafir yang sedang menjalani suatu usaha, kemudian ia memiliki ilmu, pengetahuan, potensi dan kemampuan yang luar biasa, dan ia juga memiliki keinginan untuk membantu orang lain dan memiliki niat yang baik, maka apakah hal- hal tersebut dapat menjadikannya sebagai orang  yang  sukses dan berbahagia dalam kehidupan ini?

Aspek keimanan merupakan aspek yang sangat  agung dalam kehidupan kita, sedangkan berusaha untuk mencapai keunggulan dalam aspek tersebut memiliki pengaruh yang besar dan sangat menentukan dalam upaya yang kita lakukan guna merealisasikan kebahagiaan dan kesuksesan di dunia  dan akhirat. Tetapi meskipun aspek keimanan tersebut  sangat penting, usaha untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesuksesan juga harus didukung oleh usaha untuk mencapai keunggulan dalam dua aspek lainnya yaitu aspek keahlian  dan hubungan dengan sesama manusia.

 

Aspek Kedua: Keahlian: Aspek ini  juga  merupakan aspek penting dalam kebiasaan berusaha mencapai

keunggulan. Yang saya maksud dengan aspek keahlian  di  sini adalah pekerjaan, tugas dan profesi yang dapat membantu Anda dan orang lain. Ada sejumlah  pertanyaan  yang berkaitan dengan aspek keahlian ini,  yaitu:  Bagaimana tingkat kesempurnaan pekerjaan Anda, bagaimana tingkat produktifitas Anda, bagaimana tingkat pengetahuan Anda terhadap bidang yang Anda tekuni dan seberapa besar kemampuan Anda untuk mengetahui hal-hal yang baru.

Seorang manusia yang tidak mau berusaha untuk  mencapai keunggulan di dalam pekerjaannya, tidak mau merubah etos kerja dan produktifitasnya, dan tidak mau berusaha untuk mengembangkan dan meningkatkan  potensi  yang ada di dalam dirinya, maka ia akan tetap berada pada posisi tertentu, tidak akan mengalami kenaikan jabatan,  dan tidak dapat meningkatkan penghasilannya. Sedangkan seorang yang memiliki jiwa fleksibel, gesit dan selalu berusaha untuk memperoleh yang lebih baik, maka ia akan selalu belajar, berusaha untuk menyempurnakan pekerjaan  dan meraih prestasi, selalu mencari peluang, dan  memperkuat faktor-faktor yang dapat meningkatkan produktifitasnya. Kemudian ia juga selalu berusaha untuk berpindah dari satu posisi ke posisi yang lebih maju.

Keunggulan yang berhasil dicapai oleh seseorang baik dalam pekerjaan, profesi maupun tugasnya, dapat bermacam- macam bentuknya. Keunggulan tersebut terkadang terletak pada hal-hal yang besar dan terkadang pada hal-hal yang kecil. Bisa jadi keunggulan yang diperolehnya itu adalah dalam hal memilih spesialisasi atau bidang yang ditekuni, memusatkan kosentrasi pada bidang tersebut, melakukannya secara sempurna, serta kemampuan untuk mengetahui hal-hal yang baru. Terkadang pula keunggulannya itu adalah dalam mengganti bidang yang ditekuni atau dalam mempelajari profesi baru setelah bertahun-tahun ia menjalani profesi lamanya. Terkadang keunggulannya adalah dalam menyelami

eksperimen atau pengalaman baru. Tetapi terkadang keunggulannya itu adalah dalam mencoba metode-metode atau cara-cara baru yang dapat meningkatkan produktifitas, penjualan, kepuasan kerja, ataupun hubungan yang baik dengan orang lain.

Selain itu, keunggulan tersebut terkadang terletak pada hal-hal yang kecil seperti pada cara bergaul, ketepatan memilih kata-kata atau ungkapan, membuat  lelucon, memperbarui suasana kantor, dan memberi motivasi-motivasi tertentu. Dan terkadang keunggulan tersebut adalah dalam membiasakan hal-hal yang kecil  tetapi sangat menentukan dalam memberikan kesan yang baik dalam benak orang lain seperti menjaga senyum, datang  tepat waktu atau beberapa saat sebelum waktu yang telah ditentukan, pulang beberapa saat setelah habisnya  jam kerja resmi serta tidak meninggalkan kantor sebelum semua tugas yang harus dikerjakan selesai.

Saya teringat salah seorang teman  saya  di Universitas King Sa’ud. Ia adalah seorang  dosen  yang rajin dan aktif dalam mengajar, dalam menjalin hubungan dengan orang lain, serta dalam melakukan penelitian. Tetapi, ia memiliki satu titik keunggulan yang –menurut keyakinan saya- telah menjadikannya lebih sukses daripada dosen-dosen lainnya. Selain mengajar pada waktu pagi, ia juga selalu menyisakan waktunya untuk menghadiri pertemuan-pertemuan Dewan Fakultas dan  dewan-dewan  lainnya baik yang berada di tingkat fakultas maupun jurusan. Di samping itu, ia selalu memanfaatkan waktu- waktu yang bagi teman-temannya mungkin dianggap sebagai waktu-waktu yang mati (tidak bisa dimanfaatkan), dimana   ia selalu mewajibkan kepada dirinya untuk menyendiri guna melakukan penelitian dan menulis buku, dan hal itu selalu dilakukannya  setiap  hari  setiap  jam  13.00  hingga  jam

15.00. Kebiasaan ini telah memberinya waktu 10 jam dalam

seminggu. Karena itu, tidaklah heran jika ia pernah mengabarkan kepadaku bahwa hanya dalam beberapa tahun, ia telah berhasil menulis dan menyusun sejumlah buku dan melakukan sejumlah penelitian. Semua itu adalah berkat kebiasaan yang selalu dikembangkan dan  dipraktekkan  secara terus menerus dalam menjalani pekerjaannya.

Suasana kerja yang elastis dan selalu diperbaharui sehingga memungkinkan tercapainya keunggulan dapat mewujudkan hasil-hasil yang tidak dapat diperoleh orang lain. Perusahaan-perusahaan bonafide yang bertaraf internasional juga menerapkan konsep ini, yaitu dengan memberikan pelayanan yang istimewa dan berbeda dengan perusahaan-perusahaan lain, bahkan untuk tujuan tersebut, perusahaan-perusahaan itu mengerahkan seluruh usaha dan potensi yang dimilikinya. Hal ini disebabkan karena  luasnya pemasaran, besarnya keuntungan, dan citra perusahaan terkadang didapatkan dengan melakukan hal-hal kecil yang berbeda dengan perusahaan-perusahaan lainnya.

Sejak pertama kali saya menekuni profesi baru, saya melontarkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut kepada rekan-rekan kerja Saya: Hal apa yang bisa menjadi ciri  khas kita, atau hal apa yang bisa menjadikan kita berbeda dengan orang-orang lain yang juga memberikan pelayanan  yang sama? Apa yang dikehendaki oleh agen? Pada umumnya, pihak agen menginginkan produk yang bagus, pelayanan yang khusus, profesional dan cepat, hubungan yang baik, serta harga yang sesuai. Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa menghadapi tantangan yang muncul pada  point-point tersebut, kemudian kita bisa memberikan hal istimewa yang tidak diberikan oleh orang lain? Selain itu, jika sesuatu yang baru dan istimewa dapat diperoleh melalui 3 hal – sebagaimana dikatakan oleh para pakar manajemen- yaitu: ide-ide, produksi, dan pemasaran, maka apa yang bisa kita lakukan pada ketiga hal tersebut?

Kebiasaan berusaha mencapai keunggulan dalam bekerja merupakan kebiasaan yang mahal. Dalam tataran individu, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan etos  kerja, kepuasaan kerja, pemasukan, dan meningkatkan  potensi  untuk berkembang. Sedangkan dalam tataran lembaga atau perusahaan, kebiasaan tersebut dapat memberikan andil  dalam memperbarui semangat dan efektifitas perusahaan, meningkatkan daya faham perusahaan terhadap kekuatan  pasar, memberikan pelayanan yang baik, serta memperoleh citra yang baik dan keuntungan yang diinginkan.

 

Bagaimana Anda menilai diri Anda dalam kaitannya dengan aspek ini? Apakah Anda telah berusaha untuk  mencapai keunggulan dalam pekerjaan Anda dalam bentuk apa saja? Apakah Anda memiliki hal-hal tertentu atau ide-ide tertentu yang berbeda dengan orang lain dan dapat Anda praktekkan dalam pekerjaan Anda pada minggu-minggu yang akan datang?

Dalam beberapa pelatihan yang Saya ikuti,  Saya  sering menjumpai sejumlah orang yang tidak  merasa  memiliki kemampuan untuk tampil unggul. Mereka meyakini bahwa lingkungan kerja mereka tidak akan mampu untuk melakukan pembaharuan dan tidak memiliki ide-ide yang inovatif. Pada dasarnya, hal ini memang benar-benar  terjadi di negara-negara Arab. Dalam salah satu seminar yang diadakan oleh Organisasi Pengembangan Manajemen Negara-negara Arab pada beberapa bulan yang lalu  di  Kairo, yaitu sebuah seminar yang membahas masalah inovasi dan pembaharuan manajemen di negara-negara Arab dalam rangka menghadapi berbagai tantangan pada awal abad 21  ini, para ilmuwan dan pakar manajemen Arab sepakat bahwa kondisi manajemen yang ada di dunia Arab sangat tidak kondusif, tidak mendukung, tidak inovatif, serta tidak   ada perhatian yang sesuai. Tentunya, hal ini sangatlah

bertentangan dengan konsep efektifitas kerja, bahkan hal tersebut merupakan sebab utama bagi rendahnya semangat kerja dan rendahnya produktifitas, serta  dapat  menyebabkan hancurnya lembaga atau perusahaan yang bersangkutan. Dalam hal ini, nasehat yang selalu saya berikan kepada orang-orang yang bekerja pada lingkungan kerja yang tidak mendukung adanya pembaharuan  atau  inovasi adalah bahwa mereka memiliki 3 alternatif:

Alternatif pertama: Menerima begitu  saja  kondisi yang diciptakan oleh lingkungan kerja tanpa mau berusaha untuk mencapai keunggulan dan tidak mau membantu  perusahaan dalam usahanya untuk mencapai keunggulan.  Dengan begitu Anda ikut berperan dalam menghancurkan efektifitas pribadi Anda dan membiarkan peran perusahaan Anda.

Alternatif kedua: Berusaha untuk mencapai keunggulan dengan perlahan-lahan dan sabar, hingga orang-orang yang berada di sekitar Anda menyadari akan pentingnya usaha semacam ini dan sadar bahwa usaha tersebut dapat menjamin kemashlahatan bersama dan mewujudkan tujuan-tujuan perusahaan.

Alternatif ketiga: Ketika menghadapi kegagalan, Anda dapat meninggalkan lingkungan yang lama dan berpindah ke lingkungan kerja yang baru dimana Anda dapat menemukan  diri jati diri Anda, menyalurkan potensi-potensi yang dimiliki, serta dapat berusaha untuk mencapai keunggulan baik keunggulan pribadi maupun perusahaan.

Ketiga alternatif tersebut memang sulit untuk dilakukan, akan tetapi ingatlah bahwa kesuksesan itu  sangat mahal harganya. Butuh kerja keras, inisiatif dan mengandung resiko.

 

Aspek ketiga: Hubungan dengan sesama manusia: Aspek ini juga merupakan salah satu aspek penting dalam

kebiasaan berusaha mencapai keunggulan. Aspek  ini merupakan permasalahan penting dalam kehidupan manusia, bahkan kita tidak dapat membayangkan kehidupan ini tanpa adanya hubungan dengan sesama manusia, baik di rumah, di tempat kerja maupun di masyarakat. Kehidupan kita ini  tidak lain hanyalah sejumlah hubungan antara sesama manusia, dimana sebagian dari hubungan-hubungan tersebut disengaja sedangkan sebagian lainnya tidak  disengaja.  Jika hubungan-hubungan ini positif, aktif  dan menyenangkan, maka kehidupan kita akan menjadi lebih produktif dan lebih memuaskan. Maka tidaklah heran jika hubungan-hubungan dengan sesama manusia itu merupakan hal terpenting dalam agama kita yang agung ini, bahkan ia merupakan substansi dari agama. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, “Agama adalah hubungan dengan sesama.” Tidaklah heran jika akhlak yang mulia dalam berinteraksi dengan orang lain merupakan satu sifat yang dapat menyebabkan seorang manusia akan mendapatkan kedudukan yang tinggi, yaitu bersama dengan orang-orang yang jujur dan dekat dengan Rasulullah SAW pada hari  kiamat nanti, sebagaimana dijelaskan oleh  Rasulullah  dalam sabda beliau, “Orang yang paling dekat tempat duduknya di antara kalian dengan tempat dudukku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Turmudzi).

Hal-hal yang dibicarakan pada usaha untuk mencari keunggulan dalam aspek keimanan dan keahlian juga dapat diterapkan pada aspek hubungan ini. Pada dasarnya, kehidupan kita ini adalah sebuah jaringan yang  terdiri dari aspek-aspek yang ada dalam usaha untuk mencari keunggulan dalam berinteraksi dengan orang lain, baik dengan keluarga, kerabat, teman, maupun orang-orang lainnya. Menurut saya, segala daya upaya yang dikerahkan untuk memperkuat aspek hubungan dengan sesama manusia ini

memiliki pengaruh yang positif dalam kehidupan kita, sedangkan kegagalan dalam mengokohkannya dapat  mendatangkan dampak-dampak negatif. Jika Anda menghadapi sejumlah kesulitan yang berkaitan dengan aspek ini, maka sangat sulit bagi Anda untuk menentukan alternatif lain, tidak seperti yang Saya jelaskan pada aspek keahlian. Sebab, suatu pekerjaan dapat dirubah atau diganti dengan pekerjaan lain, tetapi keluarga dan kerabat  tidaklah  dapat diganti. Dalam kaitannya dengan usaha  untuk  mencapai keunggulan dalam aspek hubungan dengan sesama manusia ini, ada sebuah hadits Rasulullah SAW yang dapat dijadikan sebagai dasar pijakan, yaitu,  “Bergaullah  dengan manusia dengan cara yang kamu harapkan mereka juga menggunakannya ketika bergaul denganmu.” Dari dasar  pijakan ini, Anda dapat mencari cara-cara atau metode- metode yang dapat menjadikan Anda tampil unggul ketika sedang berhubungan dengan orang lain. Dalam  hal  ini, wajah yang selalu tersenyum dan berseri-seri merupakan  cara yang baik untuk memperkuat hubungan  Anda  dengan orang lain sebagaimana dijelaskan oleh baginda Rasulullah SAW, “Janganlah Anda menganggap remeh suatu kebajikan sekecil apapun, meskipun dengan wajah yang berseri-seri ketika kamu bertemu dengan saudaramu.” (HR. Muslim).

Usaha untuk mencapai keunggulan dalam aspek hubungan dengan sesama manusia ini terkadang dapat  dilakukan  dengan menambah perbuatan-perbuatan yang dikatagorikan sebagai perbuatan berbakti kepada kedua orang tua serta mempererat tali silaturahim, terkadang dapat  juga dilakukan dengan mengunjungi teman lama yang sudah lama tidak Anda jumpai, dan terkadang dapat pula dengan mengatakan kepada salah seorang teman Anda ketika sedang berbicara melalui telepon, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan keselamatan kepada Anda.” Atau bisa juga dengan memberikan pelayanan yang diinginkan orang lain

secepatnya, atau dengan meminta maaf ketika Anda telah melakukan kesalahan karena tidak memberikan hak salah seorang anggota keluarga Anda, atau dengan hal-hal lain baik hal-hal yang besar maupun kecil.

Dalam hal berinteraksi dengan sesama manusia, ada hak-hak yang bersifat umum dan Bandar Ceme Online telah  ditentukan  oleh agama kita yang agung ini. Selain itu, ada pula hak-hak yang bersifat khusus seperti hak-hak istri, anak-anak, kerabat dan teman. Kebiasaan berusaha mencapai keunggulan dalam berhubungan dengan sesama manusia menuntut  kita untuk mengetahui batas-batas terendah dari hak-hak tersebut, kemudian dari pengetahuan  tersebut  kita berusaha untuk menambah perilaku-perilaku dan tata krama yang dapat memperkuat rasa hormat, saling mencintai, dan saling memahami ketika sedang berinteraksi dengan orang lain, serta dapat menyenangkan dan membahagiakan mereka.

Lalu, dimana posisi Anda dalam  kaitannya  dengan aspek yang ada dalam kehidupan Anda itu?  Apakah  Anda dapat memikirkan hal-hal yang dapat Anda lakukan guna mewujudkan suatu keunggulan dalam berinteraksi  dengan orang lain, baik dengan orang tua, istri, anak terkecil, anak terbesar, kerabat, teman, maupun dengan  para  karyawan Anda? Tidak diragukan lagi bahwa banyak hal yang dapat dilakukan oleh seseorang untuk BandarQ memperkuat aspek ketiga tersebut.

Bagaimana pendapat Anda mengenai kebiasaan “berusaha mencapai keunggulan” beserta dengan ketiga  aspeknya:  iman, keahlian, dan hubungan dengan sesama manusia? Bukankah kebiasaan tersebut dapat mendatangkan  kebaikan dan dapat menjadikannya berada di hadapan kita? Sungguh, kebiasaan ini merupakan kebiasaan yang paling penting di antara 10 kebiasaan pribadi sukses. Jika kita berusaha untuk membentuk, melakukan dan melatihnya, maka kehidupan kita akan berputar haluan 180 derajat dan kita dapat mewujudkan kebahagiaan dan kesuksesan yang kita harapkan.

Bahkan, dengan yakin, Saya dapat mengatakan bahwa substansi yang sebenarnya dari  kebahagiaan  adalah terdapat pada upaya untuk membiasakan diri dengan  kebiasaan tersebut dan memfungsikannya secara benar. Pernahkah pada suatu hari Anda memikirkan kebahagiaan,   dan apakah Anda sedang mencarinya? Ketahuilah bahwa –

seperti yang dikatakan oleh orang-orang  bijak-  kebahagiaan itu memiliki 3 sumber yang ada  dalam  kehidupan manusia, ketiga sumber tersebut adalah:

  • Ridha Allah SWT (Berusaha untuk mencapai keunggulan dalam aspek iman).
  • Melakukan pekerjaan secara sempurna dan menyelesaikan segala urusan satu persatu (Berusaha untuk mencapai keunggulan dalam aspek pekerjaan atau keahlian).
  • Membantu orang lain, yaitu dengan cara menjaga etika dalam bergaul dengan orang lain, berbuat baik  kepadanya dan mengorbankan sebagian waktu, usaha, dan harta untuk kepentingannya (Berusaha mencapai  keunggulan dalam aspek hubungan  dengan  sesama manusia).

Oleh karena itu, bukankah kebiasaan “berusaha untuk mencapai keunggulan” merupakan kebiasaan yang sangat berharga dan agung dalam kehidupan kita?

Indikasi-Indikasi “Berusaha Mencapai Keunggulan”

 

Lingkarilah nomor yang Anda yakini sesuai dengan tingkat keimanan Anda sekarang, serta lingkarilah nomor yang sesuai dengan tingkat kinerja dan efektifitas kerja Anda! Lakukanlah hal serupa pada aspek hubungan dengan sesama manusia! Penilaian ini bersifat fleksibel, karena bisa jadi sekarang Anda memiliki suatu penilaian, tetapi pada hari yang lain, hasil penilaian Anda itu  dapat berubah menjadi lebih baik sesuai dengan  usaha  yang  telah Anda kerahkan. Sebaliknya, hasil  penilaian  Anda juga dapat berubah menjadi lebih jelek karena faktor kemalasan dan kelalaian yang ada pada diri Anda.

Rendah Sedang Tinggi

 

Iman

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Pekerjaan

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Hubungan

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

 

 

Latihan Mengembangkan Kebiasaan “Berusaha Mencapai Keunggulan”

Setelah membaca dan memahami kebiasaan yang pertama itu, mungkin sekarang Anda sedang berfikir  mengenai  metode yang dapat Anda gunakan dalam membentuk kebiasaan yang agung ini. Sekarang, berfikirlah untuk menjawab latihan di bawah ini. Untuk setiap aspek dari kebiasaan “berusaha mencapai keunggulan” yang terdapat pada masing- masing kolom di bawah ini, isilah dengan hal-hal yang  dapat Anda lakukan secara istimewa atau luar biasa dalam waktu satu minggu ke depan!

Aspek Iman

Aspek Pekerjaan

Aspek Hubungan

1-………………………………………

1-………………………………………

1-………………………………………

2-………………………………………

2-………………………………………

2-………………………………………

3-…………………………………….

3-…………………………………….

3-…………………………………….

4-………………………………………

4-………………………………………

4-………………………………………

5-…………………………………………

5-…………………………………………

5-…………………………………………

 

Anda mungkin dapat berfikir untuk membuat blangko semacam ini dalam waktu yang lebih lama, seperti satu bulan, tiga bulan, atau bahkan satu tahun.  Anda  juga dapat menggambarkan atau memindahkan blangko tersebut ke agenda harian Anda.

 

Langkah-langkah Mengembangkan Kebiasaan  “Berusaha  Mencapai Keunggulan”:

Ada 4 langkah penting yang dapat membantu Anda dalam mengembangkan kebiasaan “berusaha mencapai keunggulan”. Keempat langkah tersebut adalah:

Langkah pertama: Mengenal diri sendiri

Langkah kedua: Menentukan standar-standar tertinggi Langkah ketiga: Membangun prinsip “itqan” (profesional) Langkah keempat: Menemukan hal baru (inovasi)

 

Langkah Pertama: Mengenal Diri Sendiri

Anda telah mengetahui bahwa yang dimaksud dengan kebiasaan “berusaha mencapai keunggulan” adalah selalu berusaha untuk mencapai keunggulan serta meningkatkan kinerja dan produktifitas pada tiga aspek penting dalam kehidupan manusia, yaitu: iman, pekerjaan dan hubungan dengan sesama manusia.

Berilah penilaian pada diri Anda sendiri, carilah titik-titik kekuatan dan kelemahan yang ada pada  diri  Anda (cara untuk melakukan hal ini dijelaskan secara terperinci pada pembahasan mengenai kebiasaan “berjuang melawan diri sendiri”). Di mana posisi  Anda  sekarang dalam kaitannya dengan tingkat keimanan, bagaimana Anda menilai tingkat produktifitas kerja Anda, bagaimana

karakter hubungan Anda dengan orang lain? Ambillah setiap aspek dari ketiga aspek tersebut, lalu analisa dan  pelajari secara terperinci. Kemudian tentukan titik-titik kekuatan dan kelemahan yang dapat Anda jadikan sebagai titik tolak.

Upaya mengenal diri sendiri  merupakan  suatu pekerjaan yang sangat penting dalam kaitannya  dengan  upaya untuk membentuk dan mengembangkan  kebiasaan “berusaha mencapai keunggulan”. Seorang manusia  tidak  akan mampu mencapai suatu keunggulan dalam hidupnya tanpa memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kondisi, potensi-potensi, serta titik-titik kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya. Perlu diperhatikan bahwa  upaya untuk mengenal diri Anda harus merupakan upaya yang bersifat realistis, transparan dan dapat  dipercaya.  Dimana Anda harus menentukan hal-hal yang menurut Anda menjadi sisi-sisi kelemahan dan kekuatan pada diri Anda sekarang, bukan menentukan hal-hal  yang  semestinya terjadi (idealita).

 

Latihan Mengenal Diri Sendiri Aspek Keimanan

Titik-titik Kelemahan

Titik-titik Kekuatan

1-…………………………………………………………………

1-…………………………………………………………………

2-……………………………………………………………….

2-……………………………………………………………….

3-……………………………………………………………….

3-……………………………………………………………….

4-……………………………………………………………….

4-……………………………………………………………….

5-……………………………………………………………..

5-……………………………………………………………..

6-……………………………………………………………..

6-……………………………………………………………..

7-……………………………………………………………..

7-……………………………………………………………..

8-……………………………………………………………..

8-……………………………………………………………..

9-……………………………………………………………..

9-……………………………………………………………..

10-…………………………………………………………..

10-…………………………………………………………..

Latihan Mengenal Diri Sendiri Aspek Keahlian

Titik-titik Kelemahan

Titik-titik Kekuatan

1-…………………………………………………………………

1-…………………………………………………………………

2-……………………………………………………………….

2-……………………………………………………………….

3-……………………………………………………………….

3-……………………………………………………………….

4-……………………………………………………………….

4-……………………………………………………………….

5-……………………………………………………………..

5-……………………………………………………………..

6-……………………………………………………………..

6-……………………………………………………………..

7-……………………………………………………………..

7-……………………………………………………………..

8-……………………………………………………………..

8-……………………………………………………………..

9-……………………………………………………………..

9-……………………………………………………………..

10-…………………………………………………………..

10-…………………………………………………………..

 

Latihan Mengenal Diri Sendiri Aspek Hubungan

Titik-titik Kelemahan

Titik-titik Kekuatan

1-…………………………………………………………………

1-…………………………………………………………………

2-……………………………………………………………….

2-……………………………………………………………….

3-……………………………………………………………….

3-……………………………………………………………….

4-……………………………………………………………….

4-……………………………………………………………….

5-……………………………………………………………..

5-……………………………………………………………..

6-……………………………………………………………..

6-……………………………………………………………..

7-……………………………………………………………..

7-……………………………………………………………..

8-……………………………………………………………..

8-……………………………………………………………..

9-……………………………………………………………..

9-……………………………………………………………..

10-…………………………………………………………..

10-…………………………………………………………..

 

Setelah melakukan latihan-latihan  mengenal  diri dalam ketiga aspek yang terdapat pada kebiasaan “berusaha mencapai keunggulan” tersebut, tidak diragukan lagi bahwa sekarang Anda telah mengetahui bumi tempat Anda berpijak dan mengetahui kondisi Anda sendiri. Sekarang, Anda harus melakukan langkah kedua, yaitu memulai untuk membuat

standar-standar tertinggi dalam hal-hal  yang  Anda harapkan keberadaannya pada masing-masing aspek dari  ketiga aspek tersebut.

 

Langkah Kedua: Menentukan Standar-standar Tertinggi

Setelah Anda menentukan posisi Anda sekarang –tempat dimana Anda berpijak-, maka buatlah gambaran mengenai apa yang Anda inginkan. Maksudnya tentukan  standar-standar yang paling utama dan akan menjadi patokan bagi ketiga aspek tersebut: (iman, pekerjaan, dan hubungan dengan sesama manusia) (permasalahan ini akan dijelaskan secara terperinci pada pembahasan tentang kebiasaan menentukan tujuan). Setelah itu, mulailah secara langsung untuk bekerja secara kontinyu dengan berpatokan pada standar- standar tersebut. Kemudian carilah segala cara  atau  metode yang dapat mendekatkan Anda pada standar-standar tersebut. Dengan tindakan semacam ini –menentukan posisi Anda sekarang dan menggambarkan standar-standar yang akan Anda jadikan sebagai patokan-, maka Anda akan mengetahui adanya gap (kesenjangan), yaitu perbedaan antara apa yang berhasil dicapai sekarang atau realita (wilayah A) dengan apa yang seharusnya dicapai atau idealita (wilayah B). Ketika Anda telah mengetahui adanya kesenjangan tersebut, maka sekarang Anda ditantang untuk berusaha dan berjuang melawan diri sendiri guna mewujudkan suatu  keunggulan dalam kehidupan Anda. (Lihat gambar 11)

Apa yang seharusnya dicapai (idealita)

 

 

Apa yang telah dicapai (realita)

 

 

Gambar  11 Gap (Kesenjangan)

 

Wilayah A

 

 

 

Gap

 

 

 

Wilayah B

 

 

 

 

Latihan Menentukan Standar-standar

Sekarang, tentukanlah hal-hal yang ingin Anda realisasikan dalam waktu satu bulan ke depan pada setiap aspek dari ketiga aspek tersebut, yaitu  hal-hal  yang dapat menjadikan Anda mendapatkan kepuasaan diri  dan  dapat merealisasikan keunggulan yang Anda harapkan.

 

Tujuan-tujuan Saya dalam “Berusaha Mencapai Keunggulan” selama satu bulan

(Dalam aspek keimanan dan hubunganku dengan Tuhan)

 

No

Tujuan

1-

2-

3-

4-

5-

6-

7-

8-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tujuan-tujuan Saya dalam “Berusaha Mencapai Keunggulan” selama satu bulan

(Dalam pekerjaan)

 

No

Tujuan

1-

2-

3-

4-

5-

6-

7-

8-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tujuan-tujuan Saya dalam “Berusaha Mencapai Keunggulan” selama satu bulan

(Dalam berhubungan dengan orang lain)

 

No

Tujuan

1-

2-

3-

4-

5-

6-

7-

8-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Langkah Ketiga: Membangun Prinsip “Itqan” (Profesional)

Langkah ketiga ini dapat membantu Anda dalam menutup gap atau kesenjangan dan berpindah secara perlahan-lahan dari wilayah A ke wilayah B. Ingatlah bahwa ketika Anda melakukan langkah pertama yaitu ketika Anda menentukan

titik-titik kelemahan dan kekuatan yang ada pada  diri  Anda berarti Anda telah mulai memberikan penilaian  terhadap diri Anda sendiri, mengenal posisi  Anda  sekarang, serta menentukan wilayah A. Sedangkan pada langkah kedua, Anda mulai menggambarkan tentang apa yang Anda inginkan, apa yang seharusnya dicapai (idealita), serta menentukan harapan-harapan yang ingin  Anda  dapatkan, dengan demikian Anda telah menentukan wilayah

  1. Sekarang Anda membutuhkan sesuatu yang dapat membantu Anda untuk berpindah dari wilayah A ke wilayah B. Membangun prinsip “itqan” (profesional) merupakan langkah kedua yang diharapkan dapat membantu Anda dalam meningkatkan keimanan, produktifitas kerja, dan hubungan dengan orang lain. Untuk lebih memudahkan pemahaman, Saya akan menganggap langkah ini sebagai salah satu langkah dalam berusaha untuk mencapai keunggulan meskipun Saya mengetahui bahwa langkah tersebut lebih menyerupai aktifitas-aktifitas yang dilakukan secara terus menerus seperti aktifitas mengerahkan segala kemampuan, bersungguh-sungguh dan bersabar, yang merupakan aktifitas-aktifitas yang tidak pernah berhenti.

Profesional yang kita bicarakan di sini bukan hanya terbatas pada mengerjakan hal-hal yang telah disepakati atau menyelesaikannya saja. Tapi yang dimaksud dengan profesional adalah mengerjakan dan menyelesaikan hal-hal tersebut secara sempurna dan sesuai dengan standar-  standar tertinggi yang telah ditentukan. Masih ingatkah Anda dengan suatu tugas yang Anda kerjakan biasa-biasa  saja dan tugas lain yang Anda kerjakan secara sempurna? Bisakah Anda merasakan perbedaan antara keduanya?

Sesungguhnya perbedaan antara kedua tugas atau sikap tersebut adalah terletak pada “ada atau tidak adanya” prinsip profesionalitas didalamnya. Yang dimaksud dengan prinsip profesionalitas bukan berarti Anda harus

mengerjakan suatu perbuatan, kemudian Anda mewujudkan kesempurnaan didalamnya. Tetapi yang Saya maksud dengan prinsip profesionalitas di sini  adalah  mengerahkan seluruh kemampuan, kosentrasi, dan perhatian guna merealisasikan tujuan yang dikehendaki.

Prinsip profesionalitas ini dapat diringkas dalam 3 hal, yaitu: ketelitian, perhatian pada obyek secara menyeluruh, dan pengawasan. Yang dimaksud dengan  ketelitian adalah mengerjakan suatu tugas dengan konsentrasi penuh dan secara profesional. Sedangkan yang dimaksud dengan perhatian pada obyek secara menyeluruh adalah mengetahui apa saja yang bisa diketahui dari  sesuatu yang menjadi fokus, baik mengenai unsur-unsur maupun hambatan-hambatannya, serta mendata  semua  bagiannya baik yang kecil maupun besar. Adapun yang dimaksud dengan pengawasan adalah mengikuti perkembangan dari pelaksanaan tugas tersebut hingga selesain. Ketiga  hal ini harus sinergis dan saling mendukung antara yang satu dengan yang lain, serta harus ada dalam pikiran sang pelaku ketika ia sedang melaksanakan tugas atau pekerjaannya, (Lihat gambar 12). Jadi, ketelitian atau perhatian pada obyek secara menyeluruh saja tidaklah  cukup, akan tetapi harus dilengkapi juga  dengan pengawasan. Demikian pula, ketelitian saja tanpa adanya perhatian pada obyek secara menyeluruh atau tanpa adanya pengawasan tidak akan dapat mewujudkan tujuan yang dikehendaki, sebagaimana ketelitian dan perhatian saja tanpa adanya pengawasan juga tidak dapat mewujudkan  tujuan.

Sebagai contoh, jika Anda menghadapi suatu masalah dalam melakukan pekerjaan, kemudian Anda menerapkan  prinsip profesionalitas yaitu dengan memikirkan masalah tersebut secara serius, dan Anda berusaha menganalisanya secara teliti dan mengumpulkan semua informasi yang

berkaitan dengannya, lalu Anda juga memperhatikannya  secara terperinci baik mengenai sebab, hasil  maupun  solusi yang ditawarkan, maka apakah hal tersebut sudah cukup untuk menyelesaikan masalah yang Anda hadapi? Tentu tidak. Karena Anda masih membutuhkan langkah-langkah kongkrit yang akan dilakukan guna menyelesaikan masalah tersebut, yaitu dengan mengawasi jalannya tugas Anda dari awal hingga akhir. Pada kasus yang sama, jika Anda sangat bersemangat untuk mengawasi proses penyelesaian masalah, tetapi Anda tidak mengenali masalah tersebut secara detil dan tidak mau mendata hal-hal yang berkaitan dengannya secara terperinci, baik mengenai sebab maupun hasilnya, maka apa yang Anda lakukan itu juga tidak  dapat  memecahkan masalah, bahkan terkadang justru dapat memperumit permasalahan.

 

Gambar 12


Lingkaran Prinsip Profesionalitas

 

Langkah Keempat: Menemukan Hal Baru (Inovatif)

Langkah ini merupakan puncak dari keunggulan. Orang- orang yang telah menemukan  hal baru, sudah pasti  ia  telah mencapai suatu keunggulan, karena ia telah sampai pada suatu tingkat dimana ia dapat mengeksploitasi semua kemampuan dan potensi yang dimilikinya guna mewujudkan tujuan-tujuannya, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadinya. Langkah menemukan hal baru (inovasi) ini  adalah seperti langkah sebelumnya yaitu langkah membangun prinsip profesionalitas, dimana keduanya merupakan aktifitas yang bersifat kontinyu dan tidak pernah  berhenti. Dalam rangka menyelami masalah inovasi ini, dan untuk mengetahui bagaimana seseorang dapat  menjadi  seorang inovator, serta apa pengaruh keturunan dan lingkungan dalam hal tersebut, maka saya ingin meringkas proses ini dengan menjelaskan karakteristik utama seorang inovator. Apakah Anda termasuk seorang inovator? Berusahalah untuk mengetahuinya sendiri. Sejumlah studi  dan penelitian yang dilakukan membuktikan bahwa seorang inovator memiliki karakter-karakter sebagai berikut:

  • Memiliki keinginan untuk menambah pengetahuan dan berusaha mengenali sebab-sebab dari segala sesuatu. Biasanya ia tidak mau menerima segala sesuatu yang dihadapinya begitu saja tanpa berusaha untuk  mengetahui sebab-sebabnya. Ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, keinginan untuk menambah pengetahuan dan keinginan untuk mengetahui hakekat (substansi) dari segala sesuatu atau kejadian. Ia selalu bertanya, “Mengapa?”
  • Ia selalu menulis setiap ide baru yang mungkin dapat mempermudah pekerjaannya atau memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Biasanya, ia memiliki satu map tertentu baik di kantor ataupun dirumahnya yang digunakan untuk menulis semua ide baru. Lalu ia akan menulis ide tersebut setiap kali ide itu datang

kepadanya, baik di kantor maupun di luar. Kemudian ia meletakkan tulisan yang berisi ide tersebut di dalam  map yang telah disediakan, dan ia akan membuka kembali map itu ketika ia menghadapi suatu masalah dalam pekerjaannya. Untuk merekam ide tersebut, ada beberapa cara yang dapat digunakan oleh seseorang diantaranya adalah dengan menggunakan kertas-kertas kecil, tape recorder, menelpon ke kantornya sendiri guna menitip pesan pada mailbox yang dapat dibuka ketika ia sampai  di kantor, menggunakan e-mail, serta sarana-sarana lainnya. Langkah semacam ini perlu dilakukan karena antara satu waktu dengan waktu lainnya,  terkadang banyak ide yang muncul. Upaya untuk merekam ide-ide  yang muncul tersebut dapat mengefisienkan waktu kita  dan memudahkan kita dalam menemukan solusi dari masalah-masalah yang Kita hadapi dalam pekerjaan.

  • Membuka kembali ide-ide yang telah ditulis dan berusaha mempelajari ide-ide yang disimpan  dalam  sebuah map tertentu. Hal itu dimaksudkan agar ia tidak lupa atau agar ide-ide tersebut tidak sia-sia karena hanya tersimpan di laci tanpa
  • Melontarkan ide-ide atau pendapat-pendapatnya kepada orang lain untuk didiskusikan bersama. Ide-ide seorang inovator tidak hanya berada di kepalanya saja, tetapi ia akan menjelaskannya kepada orang lain sehingga ia dapat mendiskusikannya dengan mereka. Kemudian ia akan melihat respon mereka guna mengembangkan ide tersebut. Dalam hal ini, ia tidak berbeda dengan seorang petani yang sedang merawat benih-benih padinya. Ketika datang kepadanya sebuah ide (diibaratkan sebagai benih), ia akan menulisnya, kemudian ia akan mendiskusikannya dengan orang lain (diibaratkan seperti menyiram dan merawat benih), hingga akhirnya ia pun  bisa memfungsikan atau memanfaatkannya jika hasil yang

diperolehnya itu bagus (diibaratkan seperti menuai padi).

  • Berfikir dengan menggunakan berbagai cara (metode). Ketika ia menghadapi suatu masalah atau kondisi tertentu, maka ia tidak akan berfikir hanya dengan satu solusi saja atau memberikan respon yang  sama dengan waktu-waktu sebelumnya. Akan tetapi, ia akan mencari solusi-solusi atau alternatif-alternatif baru, lalu ia akan memilih sejumlah solusi yang dimungkinkan dapat memecahkan masalah yang dihadapinya tersebut. Ia akan mempelajari masalah tersebut dengan seksama lalu mendiskusikan solusi-solusinya dengan orang lain, sehingga ia dapat mendapatkan solusi yang terbaik. Sesungguhnya permasalahan terbesar yang sering kita hadapi dalam kehidupan ini adalah sikap konservatif, upaya-upaya untuk mematikan jiwa inovasi, mengikuti solusi-solusi yang lama, dan tidak  memberikan kesempatan kepada akal untuk berfikir guna mendapatkan solusi-solusi yang cemerlang dan  ide-ide  yang inovatif. Oleh karena itu, seorang yang berjiwa  inovator suka berfikir secara bebas, suka berdiskusi dengan dirinya sendiri dan orang lain, dan target utamanya adalah dapat berfikir dengan menggunakan metode-metode yang baru dan berbeda, serta dapat memperoleh solusi-solusi yang inovatif dengan
  • Seorang yang berjiwa inovator tidak akan terpengaruh oleh ejekan, hinaan ataupun rintangan yang  berasal dari orang lain, sehingga ia akan terus melakukan percobaan untuk temuan-temuan barunya, ia juga akan mengamatinya dan terus berusaha untuk
  • Seorang yang berjiwa inovator tidak mau menerima rutinitas atau hal-hal yang berbau tradisional dan solusi-solusi lama yang biasa digunakan oleh masyarakat, akan tetapi ia akan selalu berusaha untuk

memberikan yang terbaru. Ia tidak menerima begitu saja setiap kondisi yang –menurutnya- tidak dapat mendukung tercapainya tujuan-tujuan dari pekerjaannya, tetapi ia akan berusaha untuk berfikir,  memperbarui,  dan mencoba. Jika ia telah memperoleh solusi-solusi yang baik, ia tidak akan terpaku pada  solusi-solusi  tersebut saja, tetapi ia akan mencari solusi-solusi  atau ide-ide yang lebih baik.

  • Seorang yang berjiwa inovator tidak pernah  merasa bosan untuk berusaha. Ia akan berusaha terus hingga dapat mewujudkan tujuan-tujuan yang dikehendakinya. Sebab, ide-ide yang cemerlang dan inovatif, tidak akan datang dengan mudah dan cepat, tetapi  diperlukan  adanya usaha yang serius, upaya menyelami berbagai alternatif yang mungkin, serta upaya menggunakan  kertas, pena dan alat hitung untuk melahirkan ide-ide yang dapat membantu proses pencapaian tujuan. Seorang inovator juga tidak takut melakukan  kesalahan  dan tidak takut pada tanggapan-tanggapan orang yang akan muncul seandainya ide-ide yang dilontarkannya itu dianggap aneh, karena ia telah mengetahui bahwa solusi-solusi yang inovatif dan orisinil memang harus melalui sejumlah usaha dan
  • Seorang inovator akan selalu memikirkan, mengamati dan mengkaji ulang semua pekerjaan, tugas dan tanggung jawabnya, baik ketika sedang berada di kantor maupun di luar kantor. Ia tidak membatasi kerjanya hanya pada jam-jam kerja saja, tetapi ia akan terus memikirkan pekerjaannya meskipun di luar jam kerja resmi. Hal ini disebabkan karena terkadang suasana kantor tidak dapat memberikan suasana yang cocok untuk berfikir dan melakukan pengamatan. Oleh karena itu, tidaklah heran jika sebagian besar orang yang berhasil menyajikan proyek-proyek baru dan berhasil memecahkan masalah-


masalah yang dihadapi dalam pekerjaan mereka adalah orang-orang yang melakukan pengamatan dan memikirkan pekerjaannya di luar kantor. Selain itu, kesuksesan sebagian besar pegawai dan direktur juga  terkait  dengan karakter ini.





0 Comments