HoneyWii

Seiring dengan berjalannya waktu, konsep-konsep Carneigi dan prinsip-prinsip Ibnu Sa’di mulai menyelimuti benakku, dan saya pun mulai mencoba untuk mencari  perbedaan antara keduanya. Keseriusan yang ada dalam  diriku telah mendorongku untuk memperhatikan dan memahami metode yang digunakan oleh kedua penulis tersebut dalam mengatasi masalah kebahagiaan dan kesuksesan. Perhatian Carneigi lebih terfokus pada mekanisme, metode atau cara yang dapat mengantarkan seseorang kepada kesuksesan dan menjadikan hidup serta interaksinya dengan sesama manusia lebih efektif. Sedangkan perhatian Syeikh Ibnu  Sa’di  lebih terfokus pada tujuan-tujuan besar dalam hidup ini, lalu beliau mengaitkan hal itu dengan masalah keimanan kepada Allah SWT dan ‘ubudiyyah (penghambaan diri kepada- Nya) yang sejati. Beliau menjelaskan bahwa tujuan utama dari kehidupan manusia di muka bumi ini adalah untuk merealisasikan dua macam kebahagiaan, yaitu kebahagiaan   di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Dengan bertambahnya pemahaman saya tentang peradaban Barat yang diperoleh ketika saya melanjutkan  program  pasca sarjana di Amerika Serikat –saya tinggal di Amerika selama 6 tahun-, saya semakin mengetahui bahwa perbedaan antara konsep-konsep Carneigi dan prinsip-prinsip Ibnu Sa’di itu bukan hanya sekedar perbedaan antara kedua penulis saja, tetapi juga merupakan perbedaan antara dua konsep, dua peradaban, dan dua teori dalam memahami alam semesta, manusia dan kehidupan ini. Dalam hal ini, Syeikh Ibnu Sa’di mewakili peradaban Islam, beliau menghubungkan antara usaha manusia di dunia dengan kehidupan  di  akhirat, lalu beliau juga mengaitkannya  dengan  tujuan dari kehidupan manusia itu sendiri. Sedangkan Carneigi mewakili peradaban Barat yang materialis, ia hanya mengaitkan antara usaha manusia di dunia dengan sejumlah hal, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang dapat mewujudkan tujuan-tujuannya.

Sebagai contoh, perhatikanlah penjelasan Syeikh Ibnu Sa’di mengenai kebahagiaan dan kesuksesan yang tercantum dalam buku “Sarana-sarana Penting Untuk Menggapai Hidup Bahagia”, terbitan Dâr Ibn al-Jauzi, dimana dalam buku tersebut beliau berkata, “Sesungguhnya  kebahagiaan  manusia dalam kehidupan ini bersandar pada prinsip-  prinsip sebagai berikut:

  1. Faktor terpenting dan paling utama bagi kebahagiaan dan kesuksesan manusia adalah iman kepada Allah SWT   dan amal shaleh, sebagaimana firman Allah SWT: “Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki- laki dan perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan  kepadanya  kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri  balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97).

  1. Berbuat baik kepada sesama makhluk, baik dengan perkataan maupun perbuatan serta dengan berbagai macam kebaikan.
  2. Menekuni satu pekerjaan tertentu atau ilmu tertentu yang bermanfaat, membiasakan diri untuk melakukan hal- hal yang bermanfaat dan berusaha untuk mewujudkan kebahagiaan atau kesuksesan yang
  3. Memusatkan konsentrasi pada pekerjaan yang dilakukan hari ini dan memalingkannya dari pekerjaan yang akan dilakukan di hari-hari mendatang, serta membersihkan pikiran dari kesedihan atas perbuatan yang dilakukan pada masa
  4. Memperbanyak dzikir kepada Allah
  5. Mengingat-ingat seluruh nikmat yang telah dikaruniakan Allah baik yang nampak maupun
  6. Berusaha menghilangkan faktor-faktor yang dapat mendatangkan kesedihan dan berusaha mendapatkan faktor-faktor yang dapat mendatangkan
  7. Berusaha meningkatkan kekuatan hati dan menjauhkannya dari hayalan atau angan-angan yang disebabkan oleh pikiran yang
  8. Memprioritaskan pekerjaan yang terpenting dan bermanfaat. (Lihat al-Wasâ’il al-Mufîdah Fi al-Hayât al-Sa’îdah karya Syeikh Abdurrahman bin Nashir al- Sa’di).

Tidak diragukan lagi bahwa inti dari pembicaraan Syeikh Ibn Sa’di tersebut adalah nilai-nilai utama, tujuan-tujuan besar dan mulia, serta  petunjuk-petunjuk yang dapat mengarahkan kehidupan manusia.

Sedangkan dalam rangka berinteraksi dengan sesama manusia, Carneigi memaparkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Janganlah Anda mengkritik, mengingkari, ataupun meragukan kemampuan orang

  1. Berilah tanggapan yang baik dan
  2. Berilah dorongan atau dukungan kepada orang

Kemudian Carneigi juga  memperkenalkan  sejumlah metode atau cara yang dapat mempererat hubungan  Anda dengan orang banyak dan dapat menarik simpatik mereka sehingga mereka mau mendengarkan pendapat-pendapat  Anda. Ia berkata, “Perhatikanlah perkataan orang lain, tersenyumlah, jadilah pendengar yang baik, hindarilah perdebatan, hormatilah orang lain, akuilah  kesalahan  Anda, berusahalah untuk menyayangi orang lain,  lontarkanlah ide-ide Anda dengan jelas, lontarkanlah sejumlah pertanyaan, dan lain sebagainya.”

Tidak diragukan lagi bahwa pembicaraan Carneigi tersebut sangat kering dari nilai-nilai dan  hanya  terfokus pada sejumlah sarana atau mekanisme yang dapat membantu Anda dalam mewujudkan kebahagiaan  dan  kesuksesan. Sebenarnya pembicaraan yang terfokus pada sejumlah sarana atau mekanisme tersebut tidak hanya terdapat dalam buku Carneigi yang sangat terkenal itu, tetapi pembicaraan semacam itu juga terdapat dalam  berbagai buku yang diterbitkan di Barat yang menjanjikan kebahagiaan dan kesuksesan kepada manusia.

Beberapa penulis dan filosof Barat sendiri telah mengakui akan kelemahan teori-teori Barat dalam merealisasikan kebahagiaan dan kesuksesan. Dalam pendahuluan dari bukunya yang sangat terkenal  dan  berjudul “7 Kebiasaan Pribadi Yang Lebih  Dinamis”,  cetakan tahun 1989, Stephan Koufi menjelaskan, “Analisaku terhadap tulisan-tulisan yang ada di dunia Barat sejak 50 tahun yang lalu mengindikasikan bahwa sebagian besar dari tulisan-tulisan tersebut masih pada tahap ketidakmatangan karena hanya memberikan solusi-solusi yang bersifat sederhana dan instan dalam menghadapi permasalahan- permasalahan yang besar. Padahal solusi-solusi semacam

itu hanya dapat memecahkan permasalahan-permasalahan tersebut untuk sementara waktu saja, sehingga permasalahan-permasalahan itu pun akan muncul lagi ke permukaan”.

Setelah berakhirnya Perang Dunia I, sebagaimana dikatakan oleh Koufi, tulisan-tulisan yang ada telah berubah haluan, yang pada mulanya memfokuskan pada aspek- aspek yang berkaitan dengan akhlak (moral) seperti kepatuhan, keberanian, keteguhan hati, kesabaran,  keadilan, dan tawadhu, kini hanya memfokuskan pada aspek- aspek yang berkaitan dengan perasaan dan jauh dari aspek- aspek akhlak. Pada saat itu muncul berbagai buku, pusat- pusat kajian, pusat-pusat pelatihan dan sekolah-sekolah pemikiran yang berusaha memperkenalkan pemikiran  yang  baru itu dan mencari cara atau strategi yang efektif seperti dengan memperkenalkan slogan-slogan “Memfokuskan pada hubungan antar sesama manusia”, “Dengan senyum, Anda dapat memperoleh teman lebih banyak”, dan “Segala sesuatu yang dapat dibayangkan, dapat diwujudkan”. Kemudian tulisan-tulisan tersebut lebih diarahkan  untuk  mengerahkan kepandaian dan cara-cara yang bersifat kamuflase seperti “Gunakan cara tertentu yang dapat menyebabkan orang lain tertarik kepada Anda yaitu dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dapat  menarik  kekaguman orang lain kepada Anda, memperhatikan pakaian  dan penampilan Anda sehingga orang lain akan tertarik kepada Anda, dan lain sebagainya.” (hal. 18-19, terbitan Inggris).

Kemudian Koufi menjelaskan lebih lanjut, “Meskipun sebagian buku yang ada di Barat telah mengakui akan pentingnya aspek akhlak (moral) dalam menentukan  kesuksesan seseorang, akan tetapi buku-buku  tersebut  hanya menganggapnya sebagai suatu bagian saja, bukan sebagai landasan dasar dari sebuah bangunan. Dengan

demikian, pembicaraan mengenai aspek akhlak ini hanya sebagai bumbu saja, sedangkan fokus pembicaraan justru terletak pada cara-cara instan yang bertujuan untuk meningkatkan kepribadian, menarik simpatik orang lain, kepandaian berkomunikasi, cara-cara berfikir positif, dan lain sebagainya” (hal. 19).

Dari uraian di atas, terlihat jelas bahwa  kedua konsep tersebut (konsep Islam dan Barat) memiliki konteks dan fokus yang berbeda dalam kaitannya dengan upaya untuk menggapai kebahagiaan dan kesuksesan. Konsep Islam lebih menekankan aspek akhlak dan nilai-nilai yang dapat mengarahkan kehidupan manusia, sedangkan konsep Barat  hanya menekankan aspek mekanisme dalam menjalin hubungan antar sesama manusia dan kepandaian  untuk  melaksanakannya. Meskipun demikian, konsep Islam masih tetap memperhatikan aspek mekanisme dan kepandaian dalam melaksanakannya, hanya saja kedua aspek tersebut tidak menjadi titik sentral dari buku-buku kontemporer ketika sedang membicarakan masalah kebahagiaan dan kesuksesan.

Berdasarkan studi dan pengalaman,  saya  menemukan satu kemungkinan untuk menggabungkan  kedua  konsep tersebut dalam satu kerangka filosofi yang  sempurna,  yaitu bahwa mekanisme yang diperkenalkan secara baik oleh peradaban Barat dapat difungsikan untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesuksesan bagi seorang muslim yang mendasarkan kehidupan dan pandangannya terhadap alam semesta, manusia dan kehidupan itu sendiri pada sebuah tujuan yaitu untuk mewujudkan kebahagiaan di dua alam (dunia dan akhirat) di bawah naungan  manhaj  (sistem) Allah SWT.

Tentunya, hal ini tidak berarti  peradaban  Islam tidak memiliki mekanisme khusus dalam mewujudkan kebahagiaan dan kesuksesan. Sebab, sebenarnya banyak di antara mekanisme-mekanisme tersebut telah ada, bahkan

nampak jelas, dalam petunjuk-petunjuk Tuhan (al-Qur’an), hadits-hadits Nabi SAW, dan kajian-kajian sebagian ulama Salaf semisal Ibnu Al-Qayyim, Ibnu Al-Jauzi, Abu Hamid Al-Ghazali serta ulama-ulama masa kini seperti Muhammad Quthub, Muhammad Al-Ghazali, dan lain sebagainya. Hanya saja mekanisme-mekanisme tersebut masih berupa simpanan- simpanan mahal yang harus digali, diolah, dan disajikan dengan metode penyampaian modern yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Berpijak dari kerangka filosofi yang berusaha memadukan antara konsep Timur, dalam hal ini  diwakili  oleh konsep Islam, dengan mekanisme Barat yang diwakili oleh sejumlah buku yang membahas tema tersebut, serta berpijak dari keyakinan Saya akan pentingnya upaya penggabungan ini guna merealisasikan manfaat yang besar, maka sejak beberapa tahun yang lalu Saya mencoba menyampaikan ceramah, melakukan berbagai kajian, dan menerbitkan buku-buku yang berkaitan dengan bidang ini. Dalam hal ini, buku saya yang berjudul “Buku Pedoman Pribadi Dalam Mewujudkan Kebahagiaan Dan Kesuksesan” yang diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1415  H. sangat terkait erat dengan konteks tersebut.

Allah SWT telah menggariskan buku tersebut bisa diterima oleh masyarakat dan tersebar luas, bahkan telah dicetak ulang hingga 4 kali hanya dalam waktu 5 tahun dan telah diterjemahkan ke dalam dua bahasa asing  yaitu  bahasa Inggris dan Urdu. Buku tersebut ditulis  dengan  gaya bahasa yang mudah, serta konsep-konsep yang ada didalamnya disampaikan dalam bentuk dialog sehingga mudah difahami oleh sejumlah kalangan yang memang menjadi  sasaran utama, yaitu kalangan pemuda dan para  pembaca  dari kalangan masyarakat awam. Setelah itu, saya meluncurkan buku kedua yang berjudul “Tujuan-tujuan  Pribadi Anda Dalam Kehidupan: Antara Mimpi Dan Kenyataan

yang dicetak untuk pertama kalinya pada tahun 1419 H.   Buku tersebut disajikan dengan maksud agar dapat menjadi landasan ilmiah yang mendalam bagi konsep-konsep yang terdapat dalam tulisan-tulisan Saya dan menjadi pijakan bagi filsafat atau pandanganku dalam merealisasikan kebahagiaan dan kesuksesan.

Sedangkan dalam buku yang berjudul “10 Kebiasaan Pribadi Sukses” ini, Saya memperkenalkan sejumlah konsep, trik-trik, dan hal-hal yang diperlukan dalam upaya merealisasikan kebahagiaan dan kesuksesan. Buku ini lebih terperinci, lebih matang, lebih jelas, lebih sistematis, dan terkesan lebih profesional daripada buku-buku sebelumnya. Mungkin sebagian orang akan bertanya, “Apa  yang membedakan antara buku yang diterbitkan pada tahun 1419 H. dengan buku yang diterbitkan pada tahun 1422 H? Apakah waktu yang singkat itu cukup untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran baru? Dan apa yang dimaksud dengan ungkapan lebih terperinci, lebih matang, dan lebih profesional?

Pada hakekatnya, terdapat perbedaan yang sangat menonjol antara dua buku pertama dengan buku ini, karena dua buku yang pertama itu ditulis ketika saya  masih menjadi guru besar di Universitas King Sa’ud, sehingga kedua buku tersebut sangat bernuansa akademis  dan  dipenuhi dengan konsep-konsep yang bersifat teoritis, sedangkan buku yang ketiga ini ditulis setelah Saya menekuni pekerjaan sebagai seorang profesional. Perlu diketahui, Saya telah non-aktif dari universitas sejak beberapa tahun silam, setelah itu Saya menekuni pekerjaan sebagai seorang profesional dalam bidang yang sangat menarik, yaitu bidang konseling dan pelatihan. Lalu Saya mendirikan “Dâr al-Ma’rifah Li al-Tanmiyyah al- Basyariyyah” yaitu sebuah lembaga yang  memberikan bimbingan kepada masyarakat mengenai manajemen dan

pendidikan, menyelenggarakan pelatihan-pelatihan khusus, dan menerbitkan buku-buku yang terkait dengan bidang tersebut.

Dalam menjalankan pekerjaan baru ini, saya harus memiliki persiapan baru karena saya harus merubah peran dari seorang guru besar universitas ke sebuah peran baru yang lebih saya sukai yaitu menjadi seorang konselor yang terlatih dan profesional. Pada mulanya, saya memang menemukan kesulitan dalam menjalankan peran  baru  itu, akan tetapi –dengan karunia Allah- saya berusaha keras untuk menggeluti bidang tersebut guna meraih kesuksesan yang Saya harapkan. Selama 5 tahun, Saya selalu menelaah, mengkaji dan menghadiri berbagai seminar, lokakarya, dan pelatihan baik di Amerika Serikat maupun wilayah-wilayah lainnya. Selama itu, Saya selalu bergelut dengan eksperimen-eksperimen yang menarik. Sebagai hasil dari eksperimen-eksperimen tersebut, Saya mewajibkan  kepada diri saya sendiri untuk menyelenggarakan berbagai pelatihan, bahkan tugas tersebut telah menjadi prioritas utama Saya.

Dengan peran yang baru ini, Saya berharap filsafat (pandangan) Saya mengenai upaya  merealisasikan  kebahagiaan dan kesuksesan dapat berpengaruh. Maka, Saya pun mulai berfikir untuk membawa konsep-konsep yang bersifat teoritis dan telah Saya tulis sejak beberapa  tahun silam itu ke wilayah aplikasi praktis. Karena itu, Saya pun mencoba menyelenggarakan sebuah  kegiatan pelatihan dengan tema “10 Kebiasaan Pribadi Sukses”. Pelatihan tersebut dilakukan secara intensif dalam waktu

12 jam dan diselenggarakan atas kerja sama antara Dâr al- Ma’rifah dengan sejumlah lembaga dan perusahaan.  Pada tahun pertama saja (1420 H.), program pelatihan ini telah dilakukan sebanyak 5 kali, itu pun belum termasuk ceramah-ceramah    dengan    tema    yang    sama.   Selama

melaksanakan pelatihan tersebut, saya selalu berusaha  untuk mengembangkan konsep-konsep yang ada. Lalu saya menjadikan bentuk dan materi dari pelatihan tersebut bisa dirubah, didiskusikan ataupun ditambah sesuai dengan hasil-hasil diskusi, pendapat-pendapat yang dilontarkan serta masukan-masukan dari para peserta pelatihan. Dan  saya selalu berusaha mencari hal-hal baru yang berfungsi untuk mengembangkan dan menyajikan pelatihan tersebut dengan metode terbaik yang bisa dilakukan.

Lalu, bukankah perkembangan-perkembangan ini bisa menggambarkan adanya perubahan dari segi metode dan cara penyampaian? Dan bukankah perkembangan-perkembangan tersebut bisa membuktikan adanya perbedaan antara kedua buku pertama dengan buku ini? Memang, waktu yang sangat singkat itu memiliki pengaruh cukup besar terhadap perkembangan metode yang Saya gunakan dalam penulisan.   Dua buku pertama ditulis ketika Saya masih berperan  sebagai guru besar di Universitas King Sa’ud, sehingga buku-buku tersebut pun bernuansa akademis dan konsep- konsepnya masih bersifat teoritis. Sedangkan buku ketiga ini merupakan bentuk aplikasi praktis dari filsafat Saya mengenai upaya mewujudkan kebahagiaan dan  kesuksesan. Dalam pengulasannya, buku ketiga ini lebih terperinci daripada dua buku sebelumnya, lebih matang dan lebih sistematis dalam cara penyampaiannya, sebagaimana ia juga terlihat lebih profesional dalam merangkai tema-tema yang ada serta mengaitkan antara tema yang satu dengan tema lainnya.

Sejak beberapa tahun yang lalu yaitu ketika Saya  mulai menulis bagian-bagian dari buku ini, Saya selalu mengaplikasikan konsep-konsep yang ada  dalam  buku tersebut dan berusaha untuk memperhatikan dampak dari kebiasaan-kebiasaan itu terhadap diri dan kehidupan Saya, kemudian Saya juga menerapkannya pada diri orang-orang

terdekat dan orang-orang yang ikut serta dalam program pelatihan yang Saya adakan. Setelah itu, Saya mulai melakukan aktifitas penulisan, pencarian referensi, dan menemukan bentuk-bentuk pelatihan yang sesuai, sehingga setiap kebiasaan dari 10 kebiasaan tersebut dapat dirumuskan dengan baik dan benar.

Mungkin sebagian orang akan heran ketika ia  mengetahui bahwa sejumlah blangko (formulir) dan berbagai latihan yang terdapat dalam buku ini telah dipersiapkan selama beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan. Dengan demikian, blangko-blangko dan latihan-latihan tersebut telah beberapa kali mengalami proses penelitian ulang, perbaikan, atau bahkan perubahan. Demikian pula dengan konsep-konsep dan pemikiran-pemikiran yang termuat dalam buku ini. Mungkin, sangatlah mudah untuk mengemukakan konsep-konsep dan pemikiran-pemikiran tersebut secara teoritis, akan tetapi ketika kita hendak merubahnya ke dalam bentuk mekanisme-mekanisme aplikatif dan kegiatan- kegiatan praktis, kita pasti akan menemukan kesulitan. Karena itu, untuk melakukan hal tersebut  dibutuhkan  adanya pengalaman yang hebat, daya khayal tinggi dan jiwa yang inovatif. Hal-hal inilah yang selalu Saya cari.

Saya selalu memperhatikan masalah kesuksesan dalam kehidupan manusia dan Saya telah mengumpulkan berbagai  data yang berkaitan dengan tema ini. Pada saat itu, Saya menemukan indikasi bahwa kesuksesan bukanlah sekedar konsep, prinsip, ataupun pendapat-pendapat yang kita pelajari atau kita dengar dari orang lain, tetapi kesuksesan adalah sebuah proses perjalanan  dari  pengalaman dan keahlian seorang manusia yang berlangsung terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama.

Jadi, yang dimaksud dengan kesuksesan adalah perjuangan seorang manusia dalam melakukan  interaksi  aktif dengan data-data yang ada pada berbagai zaman dan

tempat sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Kesuksesan adalah membiasakan diri untuk  hidup dengan cara tertentu, menghadapi berbagai persoalan dengan langkah yang efektif, membiasakan berinteraksi dengan sesama manusia dengan metode tertentu, membiasakan diri berinteraksi dengan waktu, dan membiasakan  diri  untuk menjalankan sebuah profesi, pekerjaan atau tugas secara profesional dan tepat, atau dengan kata lain, kesuksesan adalah sejumlah kebiasaan dimana tingkat intensitas pelaksanakan kebiasaan-kebiasaan tersebut akan menentukan keberhasilan seseorang baik dalam kaitannya dengan status sosial, kedudukan, maupun keahliannya dalam melakukan tugas. Apakah hal ini bisa dibenarkan? Apakah yang dimaksud dengan kesuksesan hanyalah terbatas pada kebiasaan-kebiasaan saja?

Ya, kesuksesan adalah sejumlah kebiasaan, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang agung dan mulia yang dalam pelaksanaannya dibutuhkan adanya usaha dan alokasi waktu yang besar serta dibutuhkan adanya kesabaran, tekad dan pengorbanan. Sedangkan hasil-hasilnya –sebagaimana dapat kita lihat dalam buku ini- merupakan hasil-hasil yang bersifat pasti dan dapat merubah kehidupan manusia serta menjadikan masa depannya menjadi masa depan yang menjanjikan, istimewa dan berbeda.

Untuk melakukan pembatasan terhadap kebiasaan- kebiasaan yang berkaitan dengan kesuksesan ini,  Saya  telah melakukan pengkajian, pengamatan dan  penelaahan ulang dalam waktu yang cukup lama. Sejak beberapa tahun lalu, Saya telah berusaha mengumpulkan setiap kebiasaan yang Saya yakini akan dapat mengantarkan seseorang kepada kesuksesan, atau paling tidak dapat membantunya dalam menggapai kesuksesan tersebut. Dalam hal ini, Saya telah menemukan kebiasaan-kebiasaan yang cukup banyak,  lalu  Saya mulai mengkaji dan menelaahnya, lalu Saya melakukan

pembatasan dengan memilih sejumlah kebiasaan  saja.  Setelah  itu,  kebiasaan-kebiasaan  yang  telah  Saya pilih

ini  Saya

kaji

dan  telaah  ulang,  lalu  Saya

membuat

prioritas

dan

urutan.   Setelah   itu   Saya

mencoba

mensinergikan antara sebagian kebiasaan dengan sebagian lainnya, hingga pada akhirnya  Saya pun   berhasil  memilih

10 kebiasaan yang Saya yakini sebagai kebiasaan-kebiasaan manusia yang paling utama dan paling penting. Kebiasaan- kebiasaan  tersebut  sangat  menentukan  keistimewaan   dan

efektifitas  kegiatan  seseorang,

serta

dapat  menjadikan

kehidupannya  lebih  menjanjikan,

lebih

produktif,  lebih

sukses, dan lebih bahagia.

 

 

10 kebiasaan ini merupakan kebiasaan-kebiasaan yang agung dan mulia serta merupakan gabungan antara aspek- aspek keimanan, etika dalam bekerja atau menjalankan profesi, serta aspek manajemen, psikologis, dan sosial. Konsep-konsep, latihan-latihan dan contoh-contoh yang berkaitan dengan kebiasaan-kebiaasan tersebut  diilhami oleh filsafat Saya mengenai kebahagiaan dan kesuksesan. Lalu aspek-aspek teoritis dari kebiasaan-kebiasaan itu digabungkan dengan aspek-aspek praktis dan pengalaman lapangan.

Sebagian besar pertanyaan yang sering dilontarkan kepada Saya ketika Saya memberikan ceramah-ceramah dan pelatihan-pelatihan adalah tentang hubungan antara  buku  “7 Kebiasaan” yang ditulis oleh seorang penulis Amerika bernama Stephan Koufi dengan buku “10 Kebiasaan Pribadi Sukses” ini. Maka Saya pun menjelaskan bahwa Saya memang mengambil metode yang digunakan oleh Koufi dalam meraih kesuksesan dan Saya pun banyak terpengaruh oleh mekanisme-mekanisme yang disebutkan di dalam  bukunya.  Akan tetapi, filsafat sosiologis yang Saya  jadikan  pijakan sangat berbeda dengan filsafat Koufi, sebagaimana

10 kebiasaan yang Saya lontarkan dalam buku ini bukanlah

7 kebiasaan yang diperkenalkan oleh Koufi, meskipun ada sedikit persamaan atau keserupaan pada 3 kebiasaan. Tidak diragukan lagi bahwa selama beberapa tahun silam, pola pikir Saya telah terpengaruh oleh berbagai tulisan dan pemikiran, sehingga ketika menulis buku ini sangatlah mungkin Saya terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran orang lain. Sebab kita adalah manusia, sebagian dari kita  belajar dari sebagian yang lain, dan kita pun banyak mengambil pelajaran dari segudang pengalaman yang kita peroleh, lalu kita juga melakukan  berbagai  eksperimen yang terkadang memiliki hasil yang sama. Jika upaya pencapaian ilmu dan pengetahuan tidak dilakukan dengan metode semacam ini, niscaya kita tidak dapat membangun peradaban manusia dan tidak dapat  memindahkannya  dari satu generasi ke generasi lainnya.

Karena itu, buku ini datang untuk  mengungkapkan sebuah filsafat yang orisinil dan bertujuan untuk  membangun dan mengembangkan kepribadian manusia, yaitu filsafat yang didasarkan pada nilai-nilai Islami serta  pada sejumlah mekanisme dan keahlian yang dapat membantu dalam menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan manusia. Hal ini merupakan satu tuntutan yang prinsipil, sebab kita tidak dapat membayangkan kebahagiaan dan kesuksesan dalam kehidupan ini tanpa adanya nilai-nilai yang agung dan prinsip-prinsip yang permanen.  Sebab,  Allah SWT telah menciptakan manusia untuk tujuan tertentu sebgaimana dijelaskan dalam firman-Nya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku” (al- Dzâriyât: 56), kemudian Allah memberikan kebebasan yang sempurna tetapi dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh syari’at dengan tujuan untuk  memakmurkan  bumi ini dan merealisasikan hasil-hasil yang dapat dicapai sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya, “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat: Sesungguhnya

Aku akan menjadikan di muka bumi ini seorang khalifah.” (al-Baqarah: 30).

Jadi kebahagiaan dan kesuksesan akan datang dalam konteks pengabdian yang sebenarnya kepada Allah SWT dan pemakmuran bumi yang dilakukan dengan cara membangun peradaban manusia yang benar. Dan inilah prinsip  utama yang menjadi landasan bagi isi buku ini secara  keseluruhan. Prinsip ini menjadi pijakan bagi kesepuluh kebiasaan yang disebutkan dalam buku ini, dimana kebiasaan-kebiasaan tersebut harus dilakukan oleh manusia jika mereka ingin mewujudkan kebahagiaan dan kesuksesan.

Buku ini tidak hanya memberikan kepada Anda sejumlah mekanisme saja dan membiarkan Anda dalam kebingungan  ketika menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan kandungan kesuksesan itu sendiri serta nilai-nilai yang mengarahkan Anda kepada kesuksesan, tetapi buku ini juga memberikan landasan untuk berpijak dan menggambarkan kerangka dari kebahagiaan dan kesuksesan itu kepada Anda, setelah itu buku ini membekali Anda dengan mekanisme-mekanisme yang sesuai sehingga Anda dapat mewujudkan tujuan-tujuan besar Anda dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, tidaklah aneh jika dua kebiasaan pertama dari 10 kebiasaan tersebut mengambil porsi yang cukup besar dari buku ini. Hal ini disebabkan karena kedua kebiasaan tersebut sangat penting dan terkait erat dengan tujuan-tujuan besar.

Agar kita dapat mengambil manfaat  secara  optimal dari buku ini, perlu ditekankan lagi bahwa kesepuluh kebiasaan pribadi sukses tersebut tidak memiliki level  yang sama dalam hal urgensi dan prioritasnya. Kebiasaan yang pertama merupakan kebiasaan yang paling penting dan utama, demikian pula dengan kebiasaan kedua, ketiga dan keempat, masing-masing disusun berdasarkan urutan urgensinya. Kemudian dilanjutkan dengan enam kebiasaan lainnya. Keenam kebiasaan ini memiliki tingkat urgensi

yang sama, tidak ada maksud tertentu dalam penempatan urutannya melainkan hanya untuk tujuan pengkajian saja.

Meskipun Saya telah berusaha semaksimal  mungkin  untuk membicarakan kesepuluh kebiasaan tersebut secara seimbang, dimana Saya telah memberikan uraian dan latihan-latihan sesuai kebutuhan, akan  tetapi  ada sebagian kebiasaan yang memiliki sekala besar, bercabang- cabang, dan banyak keahlian yang tercakup didalamnya, sehingga Saya pun terpaksa harus memberikan porsi yang lebih besar daripada kebiasaan-kebiasaan lainnya. Sebagai contoh, kecakapan berkomunikasi merupakan kebiasaan besar yang mencakup berbagai keahlian khusus di  dalamnya  seperti kepandaian berbicara, mendengar,  menulis,  membaca, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dalam mengulas masalah kecakapan berkomunikasi itu, Saya harus memberikan porsi yang lebih besar daripada kebiasaan lainnya seperti kebiasaan berkonsentrasi (fokus). Akan tetapi, hal ini sama sekali tidak berarti bahwa kecakapan berkomunikasi itu lebih penting dan lebih utama daripada fokus, karena pada hakekatnya kedua point tersebut  memiliki tingkat urgensi yang sama.

Buku berjudul “10 Kebiasaan Pribadi Sukses” ini berusaha menjelaskan masalah kebahagiaan dan kesuksesan dalam kehidupan manusia secara komprehensif. Oleh karena itu, buku ini mencakup semua aspek kehidupan manusia baik ketika ia sedang menjalin hubungan dengan sang Khaliq, bekerja atau menekuni profesinya, maupun ketika sedang berinteraksi dengan keluarga dan masyarakatnya. Buku ini bertujuan untuk merealisasikan kebahagiaan dan kesuksesan manusia dalam semua aspek kehidupannya secara seimbang sehingga tidak ada satu aspek pun yang lebih diunggulkan dari aspek-aspek lainnya atau tidak ada satu aspek pun  yang ditinggalkan hanya karena ingin mendahulukan aspek yang lain.

 

Dasar Pijakan Buku ini

Buku ini ditulis berdasarkan pada sejumlah pijakan, yaitu:

Dasar Pertama: Allah SWT telah menciptakan  manusia dan melengkapinya dengan sejumlah kemampuan yang menakjubkan, sumber daya yang terkandung  didalamnya,  serta potensi yang sangat luas. Sehingga jika manusia berusaha untuk menaklukkan hal-hal tersebut maka ia akan mampu untuk menggali seluruh sumber daya yang dimilikinya dan ia akan sampai pada tingkatan tertinggi  dari  keimanan, akhlak, sosial, politik, ekonomi dan inovasi. Tetapi jika ia melupakan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya itu, maka ia akan hidup dalam kelumpuhan,  tidak produktif dan stagnan.

Dasar Kedua: Manusia adalah makhluk yang diarahkan oleh nilai-nilai, akan tetapi dalam kehidupan sehari- harinya, ia lebih sering digerakkan oleh kebiasaan- kebiasaan tertentu. Kebiasaan-kebiasaan ini  terbagi menjadi tiga macam, yaitu: kebiasaan yang bermanfaat, kebiasaan yang membahayakan, serta kebiasaan yang tidak bermanfaat dan tidak pula membahayakan. Dalam rangka melakukan perubahan yang positif dan mencapai suatu perkembangan dalam hidupnya, baik yang berkaitan dengan urusan pekerjaan maupun kehidupan bermasyarakat, maka manusia harus melakukan kebiasaan-kebiasaan yang bermanfaat, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang membahayakan, dan tidak berlarut-larut (membuang-buang waktu) dalam kebiasaan-kebiasaan yang  tidak  bermanfaat dan tidak pula membahayakan, tetapi hendaknya ia berusaha keras untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan  yang  bermanfaat.

Dasar Ketiga: Ada 10 kebiasaan utama dalam kehidupan manusia dimana apabila ia mau mengenal, membangun,

memperkokoh, dan membiasakan diri untuk melakukannya maka kehidupannya akan berubah  ke arah yang lebih baik, lalu  ia dapat menggali potensi-potensi atau sumber daya-sumber daya yang tertanam dalam dirinya serta –dengan  izin  Allah- dapat menggapai kebahagiaan dan kesuksesan yang diharapkannya baik dalam berhubungan dengan  Tuhannya, dalam kehidupan pribadi dan kehidupan  bermasyarakat,  dalam pekerjaan, serta dalam seluruh aspek kehidupannya.

Dasar Keempat: Kesuksesan dalam kehidupan manusia hanya dapat dicapai jika ada proses perubahan internal, maksudnya kesuksesan itu dapat Anda peroleh jika Anda mau merubah sikap, mulai melakukan langkah-langkah perubahan sendiri, dan melakukan perubahan tersebut  secepatnya.  Buku ini tidak akan memberikan kesuksesan kepada Anda, melainkan hanya menjelaskan metode untuk mencapai kesuksesan tersebut. Oleh karena itu, 10 kebiasaan yang dimaksud dalam buku ini merupakan sebuah  evaluasi  terhadap kemampuan Anda dalam melakukan perubahan serta kesiapan Anda untuk menggali sumber daya-sumber daya yang tersimpan dalam diri Anda. Ia merupakan kunci yang berada di hadapan Anda. Anda dapat mengenalnya lalu meninggalkannya begitu saja, dan Anda pun  dapat mengenalnya lalu menjadikannya sebagai bagian dari harta Anda yang sangat mahal yang akan selalu Anda pergunakan untuk membuka “pintu-pintu” kehidupan sehingga Anda dapat berjalan menuju kesuksesan.

Ketahuilah bahwa pemain utama dan orang yang paling berperan dalam kehidupan Anda adalah diri Anda sendiri. Perkenankanlah Saya membantu Anda untuk menemukan diri  Anda sehingga Anda dapat mengenalinya: Apakah  Anda memiliki kemampuan untuk memegang tekad, menundukkan diri Anda sendiri serta menggerakkan kedua kaki Anda untuk melakukan langkah-langkah pertama dari proses perubahan yang positif? Sebagian orang mungkin memiliki tingkat

kecerdasan yang rendah, kemudian ia memilih  untuk  bersikap malas, suka menyepelekan, dan menyerah begitu  saja dalam menghadapi tantangan-tantangan kehidupan.  Tetapi ada pula sebagian orang yang berjiwa rajin dan aktif, percaya pada Tuhannya dan selalu berusaha untuk memanfaatkan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Lalu, termasuk tipe manusia yang manakah diri Anda? Pada  awalnya, mungkin Anda akan mengalami kesulitan, akan  tetapi Anda pasti akan mengetahui dan mengenali diri Anda sendiri jika Anda telah membaca buku ini.

Jika Anda termasuk tipe yang pertama, kemudian Anda mau berinteraksi dengan buku ini secara serius, maka 10 kebiasaan tersebut akan merubah kehidupan Anda secara sempurna sehingga Anda akan mulai memasuki  tahap  kehidupan baru dimana didalamnya terjadi  perubahan internal dan perkembangan kepribadian. Lalu Anda akan mengetahui titik-titik kekuatan dan kelemahan dalam diri Anda, sehingga Anda dapat memanfaatkan aspek-aspek  kekuatan tersebut dalam rangka merealisasikan tujuan- tujuan Anda, kemudian Anda akan membersihkan diri dari titik-titik kelemahan yang ada, atau paling tidak Anda dapat mengetahuinya sehingga titik-titik kelemahan  tersebut tidak akan menjadi “batu” yang menghalangi jalan Anda. Tetapi jika Anda termasuk tipe yang kedua, maka   Anda akan mengetahui bahwa sebagian kesuksesan dan  prestasi yang Anda peroleh, selain atas izin Allah SWT, juga memiliki kaitan erat dengan salah satu  kebiasaan (atau bahkan lebih) dari 10 kebiasaan tersebut. Buku ini juga akan membantu Anda untuk mengenal lebih banyak  tentang diri Anda sendiri dan membantu mewujudkan kesuksesan-kesuksesan baru selain kesuksesan yang telah Anda peroleh.

Apakah Anda mampu menjawab tantangan yang diberikan oleh buku “10 Kebiasaan” ini? Jika Anda seorang yang

percaya kepada Tuhan, percaya diri, mengharapkan  masa depan yang baik dan menginginkan perubahan yang positif, maka peganglah erat 10 kebiasaan ini, kenalilah  dengan baik dan praktekkanlah secara perlahan-lahan dalam kehidupan Anda. Tetapi jika rasa percaya diri Anda lemah dan Anda sendiri tidak yakin  dengan  kemungkinan terjadinya perubahan dalam diri Anda, maka terkadang membaca buku “10 Kebiasaan” ini  tidak akan bermanfaat  bagi Anda, karena Anda hanya akan berputar-putar pada sebuah lingkaran kosong.

Di antara hal yang membuat Saya senang selama  beberapa tahun silam –tepatnya sejak Saya mulai memperkenalkan pelatihan mengenai 10 kebiasaan pribadi sukses ini— adalah ketika Saya mendengar respon dari para peserta pelatihan beberapa jam setelah mereka mengikuti pelatihan tersebut. Sebab,  ternyata  pikiran-pikiran mereka mulai terpengaruh dengan konsep-konsep yang disampaikan pada pelatihan, lalu mereka  melakukan aktifitas evaluasi personal dan mulai bercakap-cakap  dengan diri mereka sendiri. Pada saat itu, Saya mendengar jawaban-jawaban dari pertanyaan yang biasa Saya lontarkan kepada mereka pada hari kedua dari pelatihan tersebut, pertanyaan itu adalah, “Apa langkah yang telah Anda  lakukan dalam jangka waktu 24 jam yang lalu  yang  berkaitan dengan program pelatihan ini?” Sebagian besar komentar yang sampai kepada Saya mengisyaratkan bahwa mereka sudah mulai melakukan perubahan internal, dan  inilah yang menjadi tujuan dari pelatihan tersebut. Di antara komentar-komentar tersebut adalah:

  • Saya mulai memikirkan tujuan-tujuan hidup
  • Saya menentukan tujuan-tujuan terpenting dalam hidup ini.
  • Saya berusaha mempraktekkan kebiasaan membuat urutan prioritas dalam pekerjaan

  • Ternyata kondisi-kondisi yang berada di sekitar Saya lebih sulit dari yang Saya
  • Pelatihan ini  telah  menggerakkan  “air       tenang”    yang ada dalam diri
  • Saya telah  berdiskusi  dengan  istri Saya   tentang sebagian konsep yang berkaitan dengan pelatihan
  • Selama 24 jam yang lalu, Saya tidak melakukan apa-apa selain
  • Saya membaca semua materi
  • Mengenal 10 kebiasaan ini merupakan hal yang mudah, tetapi untuk mempraktekkannya dibutuhkan keseriusan dan waktu.
  • Saya berusaha mengamalkan kebiasaan “merencanakan”.
  • Mengapa Saya tidak mengikuti pelatihan dari dulu?

Serta masih banyak lagi komentar-komentar menarik lainnya yang menunjukkan adanya keterpengaruhan mereka oleh konsep-konsep yang disampaikan pada pelatihan, dan hal ini mengisyaratkan adanya perubahan positif yang menjadi tujuan dari pelatihan tersebut.

Buku ini memang sengaja dirancang  untuk  membantu Anda dalam menemukan dan mengenal diri Anda sendiri  melalui berbagai sarana dan mekanisme yang  dapat  menunjang kesuksesan. Buku ini juga melatih Anda untuk merealisasikan perubahan-perubahan internal dengan cara- cara sebagai berikut:

  1. Mengenalkan Anda dengan konsep-konsep, azas-azas, prinsip-prinsip, dan dasar-dasar yang menjadi landasan pijakan bagi kebahagiaan dan kesuksesan dalam kehidupan manusia.
  2. Mengenalkan Anda dengan 10 kebiasaan yang dapat membantu Anda dalam merealisasikan kebahagiaan dan kesuksesan.
  3. Menyuguhkan mekanisme-mekanisme dan cara-cara untuk membangun dan memperkokoh 10 kebiasaan

  1. Mengenalkan Anda dengan diri Anda sendiri dan mengungkap titik-titik kekuatan dan kelemahan yang Anda miliki.

 

Bagaimana Dapat Memanfaatkan Buku Ini?

Upaya memanfaatkan buku ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, dimana masing-masing cara  dapat  disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang. Cara-cara tersebut adalah:

Cara Pertama: Mengkaji secara individual  (perorangan), di sini Saya tidak mengistilahkannya dengan “membaca” tetapi dengan istilah “mengkaji”, maksudnya adalah mengkhususkan sebagian waktu tertentu  untuk  membaca buku ini, memahami  konsep-konsepnya,  menyelesaikan latihan-latihan yang terdapat didalamnya, serta mengomentari pemikiran-pemikirannya, kemudian berusaha untuk mengaplikasikan setiap kebiasaan dengan benar atau mengaplikasikan  keahlian-keahlian  tertentu yang terdapat dalam satu macam kebiasaan.

Cara Kedua: Mengkaji secara kolektif (bersama-sama), hal ini dapat dilakukan oleh seseorang bersama rekan-  rekan kerjanya atau anggota-anggota keluarganya yaitu dengan cara mengkhususkan waktu tertentu untuk mendiskusikan satu bagian dari buku ini atau satu  kebiasaan dari 10 kebiasaan tersebut. Sebagai persiapan, setiap orang hendaknya membaca satu tema tertentu untuk kemudian didiskusikan, dikomentari, dan latihan-  latihannya diisi secara bersama-sama.

Cara Ketiga: Menyelenggarakan pelatihan-pelatihan tertentu yang berkaitan dengan tema buku ini. Untuk melakukan ini sebaiknya dikoordinasikan dengan pihak Dâr al-Ma’rifah li al-Tanmiyyah al-Basyariyyah, sebab ada sejumlah materi yang perlu ditambahkan serta beberapa hal

yang berkaitan dengan buku ini dan proses pelaksanaan pelatihan yang dilakukan selama 12 jam itu.

Cara Keempat: Menghadiri ceramah-ceramah umum yang berkaitan dengan tema buku ini. Sebelum melakukan ini sebaiknya dikonfirmasikan juga dengan pihak Dâr al- Ma’rifah li al-Tanmiyyah al-Basyariyyah dengan tujuan  untuk mengetahui tempat-tempat dan  waktu-waktu  diadakannya ceramah-ceramah tersebut.

Buku ini datang pada saat sedang terjadi pergeseran atau perubahan besar pada pandangan masyarakat terhadap kebudayaan Arab (Islam) yang disebabkan karena adanya proses globalisasi dunia. Di satu sisi, globalisasi dunia memang merupakan tantangan kebudayaan, politik  dan  ekonomi bagi masyarakat Arab (Islam) yang dapat mengancam eksistensi sistem perpolitikan tradisional serta nilai- nilai kebudayaan dan sosial, di samping juga memiliki dampak-dampak negatif dan pengaruh-pengaruh yang bersifat menghancurkan.

Tetapi di sisi lain, globalisasi juga memberikan peluang-peluang baik bagi sistem perpolitikan dan perekonomian sebuah negara, dapat membantu proses penyebaran risalah Islam, serta dapat meningkatkan upaya perdamaian, saling memahami, dan kerja sama  antar  berbagai bangsa dan masyarakat manusia.

Untuk itu, maka perlu dilakukan upaya pembangunan kepribadian seorang muslim dengan metode yang orisinil sehingga dapat menjadikannya sebagai seorang yang selalu berpegang teguh pada nilai-nilai, norma-norma dan prinsip-prinsip yang dianutnya. Hal ini juga dapat membekalinya dengan berbagai keahlian dan mekanisme pelaksanaannya sehingga ia akan tetap eksis di tengah- tengah peradaban dunia modern. Saya berharap semoga buku ini dapat menjadi pondasi atau landasan dalam proses pembangunan kepribadian tersebut.

Saya telah menulis buku ini dan Saya berharap semoga semua orang dapat memanfaatkannya. Dengan buku ini –Insya Allah- setiap orang baik bisnisman, profesional, pegawai, guru, instruktur, pencari ilmu, ibu rumah tangga, dan kepala keluarga, serta setiap orang yang ingin mewujudkan kesuksesan di dalam pekerjaannya, akan menemukan teman  yang sangat berharga, dapat membantu perkembangannya, dan dapat membukakan pintu cita-cita dan kebaikan baginya.

Saya berharap semoga Anda menemukan waktu yang tepat untuk berinteraksi dengan buku ini, hidup Anda dipenuhi dengan kebahagiaan, dan semoga kesuksesan yang Anda mimpikan dapat terwujud.

Go to Admin area

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (al-Ra’d: 11).“

Jiwa manusia adalah seperti anak kecil, jika Anda membiarkannya, maka ia tumbuh dewasa #

dalam keadaan suka menyusu, tetapi jika Anda menyapihnya, maka ia pun akan tersapih”.

 

“Tanamlah suatu perbuatan… dan tuailah suatu kebiasaan. Tanamlah suatu kebiasaan… dan tuailah suatu tabi’at.

Tanamlah suatu tabi’at… dan tuailah satu keberuntungan.”

Continue Reading

30 May 2016 by Administrator
KERANGKA UMUM KESUKSESAN - “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul- Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.’” (al-Taubah: 105).
Rasulullah SAW bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya.” (HR. Bukhari).

Continue Reading

05 May 2016 by Administrator
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik.” (al-Anbiyâ’: 90).
Rasulullah SAW bersabda, “Iman memiliki 70 cabang lebih.

Cabang yang tertinggi adalah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan cabang yang terendah adalah menyingkirkan sesuatu yang berbahaya dari jalan. Dan malu merupakan cabang iman.” (HR. Bukhari Muslim).

Continue Reading

21 Apr 2016 by Administrator